2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 55 BUAH MANGGA


__ADS_3

Rey keluar dari kamar mandi dan langsung berganti pakaian untuk segera keluar rumah. "Qai yang hamil kenapa aku juga jadi ikut-ikutan kaya orang ngidam sih." Gumam Rey bingung dengan dirinya sendiri. "Tapi Qai juga hamil gara-gara aku. Dasar Rey bo*doh." Rutuknya pada diri sendiri.


Rey langsung menggunakan jaketnya. "Tapi sekarangkan lagi nggak musim buah mangga. Apa ya ada di tempat penjual buah." Gumam Rey mulai berfikir. "Halah, yang penting usaha dulu lah."


"Kakak mau kemana?" Tanya Qai yang sudah terjaga akibat mendengar Rey membuka pintu kamar mereka. Padahal Rey sudah ekstra pelan-pelan agar tidak mengganggu Qai yang sudah lelap.


"Eh sayang, kenapa bangun?"


"Kakak mau kemana?" Tanya ulang Qai. Kini ia sudah duduk sambil menatap Rey.


"Aku mau keluar, beli buah mangga yang."


"Ikut." Ucap Qai yang langsung turun dari atas ranjang.


Rey bukannya tidak mau diikuti Qai. Hanya saja saat ini sudah hampir tengah malam. Tidak baik angin malam menerpa tubuh Qai yang jelas kini sedang mengandung buah hati mereka.


Namun pada akhirnya Rey mengalah karena Qai benar-benar tidak bisa di negosiasi. Tadi Rey harus memasakkan air hangat untuk Qai membersihkan diri.


Tidak mungkin ia mengajak Qai keluar rumah dengan tubuh yang belum dibersihkan setelah aktifitas pergulatan panas mereka tadi.


Tubuh Qai terasa hangat meski pun kini angin malam menerpa. Karena Rey memakaikan jaket yang paling tebal miliknya. Qai terus memeluk Rey yang tengah fokus dengan jalanan.


Namanya juga hidup di kota. Walau sudah tengah malam sekali pun, jalanan akan tetap terlihat ramai.


Entah sudah berapa penjual buah yang sudah Rey dan Qai datangi. Namun hasilnya nihil, wajar saja karena saat ini belum musimnya buah mangga.


"Kita pulang saja kak." Ucap Qai yang mulai terasa lelah.


"Kita cari satu toko buah lagi ya sayang. Kalau tetap nggak ada baru kita pulang." Tutur Rey yang belum mau putus asa begitu saja. Rasa ingin menikmati buah mangga sudah sangat menggugah jika terus dibayangkan.


"Iya."


Rey terus fokus mencari toko buah yang siapa tahu saja masih buka di jam saat ini. Rey langsung menepikan motornya saat melihat tulisan plang Raja Buah terpampang nyata di pinggir jalan.


Rey buru-buru turun dari motor karena pegawai di toko tersebut sudah akan menutup rukonya.


"Pak. Pak. Ada buah manggak nggak pak?"


"Ada pak. Tapi maaf ya pak, kami sudah tutup dan sudah tidak menerima customer lagi." Terangnya.


Rey yang memang sangat ingin, harus menggunakan jurus jitunya. "Pak itu lihat istri saya. Dia sedang hamil anak pertama kami pak. Tiba-tiba saja dia ingin makan buah mangga. Saya sudah mengajaknya keliling mencari penjual buah namun tidak ada satu pun dari mereka yang berjualan pak." Tutur Rey sudah mencoba memasang muka semelas mungkin agar ia bisa mendapatkan buah mangga.

__ADS_1


"Oh maafkan aku Qai dan calon anak ayah. Karena menggunakan kalian sebagai alasan." Ucap Rey dalam hati.


Pegawai yang mendengarkan semua penuturan Rey menjadi terharu. Mengingat bagaimana ia juga pernah melakukan hal yang sama untuk sang istri.


"Ya sudah pak ayo, silahkan masuk." Wajah Rey langsung nampak senang sambil mengikuti langkah si bapak masuk kedalam.


Rey keluar dari toko Raja Buah dengan wajah yang nampak sangat-sangat jelas bahagia. Ia langsung menuju dimana istri dan motornya berada.


"Kita pulang sayang."


"Beli berapa kak?"


"Satu."


"Ya Allah kak, kita jalan semalaman muter-muter dan zonk dimana-mana dan sekarang kakak hanya beli satu buah kak?" Tanya Qai tak percaya. "BTW itu harganya berapa kak?"


Dasarnya cewek. Apa-apa selalu tanya harga barang yang suaminya beli.


"Gak sampai setengah kilo harganya 30.000 Qai."


"Mahal banget kak."


"Namanya juga lagi nggak musing sayang. Sudah ayo kita pulang."


Namun diluar dugaan Qai yang sudah membayangkangkan bagaimana nikmatnya. Karena ternyata buah yang sedang dinikmati Rey itu sangat asam rasanya. Karena memang belum matang. Warnanya saja masih putih sedikit menguning bagian dalamnya.


Air liur Qai rasanya sampai ingin menetes karena terlalu encer seolah ikut merasakan buah mangga asam yang sedang di nikmati Rey dengan lahap.


Dan anehnya. Rey memakan buah mangga begitu saja. Padahal Qai sudah dengan baik hati mau membuatkan Rey sambal rujak untuk suaminya. Tapi ditolak Rey karena tidak ingin.


Qai juga sudah akan mengambilkan gula putih agar Rey bisa merasakan manis-manis asam saat menikmati buah mangga dan gula bersamaan. Namun tetap saja di tolak oleh Rey. membuat Qai semakin bergidik saat mengingat rasa asam saat Qai menyicipinya.


"Yakin kamu nggak mau sayang?" Tawar Rey sambil ingin menyuapkan irisan buah mangga.


"Tidak dan terimakasih pak. Silahkan anda nikmati seorang diri sampai merasakan puas lahir batin." Tolak Qai.


"Hari sabtu besok kita periksakan kandungan kamu di rumah sakit sayang."


"Di bidan saja kak. Lebih murah." Usul Qai mulai perhitungan.


"Memangnya kamu nggak disuruh USG di bidan waktu periksa?"

__ADS_1


"Ya disuruh sih kak. Aku ingin periksa juga tapi setelah aku tanyakan biaya USGnya. Aku nggak jadi pergi."


"Ya sudah besok sabtu kita periksakan dia ya."


"Iya kak."


.


.


.


Demi untuk mendapatkan pelukan dan ciuman sebelum berangkat bekerja. Rey memilih untuk tidak menggunakan minyak wangi pada tubuhnya. Rey memasukkan botol parfumnya kedalam tas kerjanya, akan Rey gunakan saat ia sudah sampai di kantor nanti.


"Peluk dulu sayang." Pinta Rey yang sudah merentangkan tangannya.


Qai dengan senang hati langsung menghambur kepelukan Rey. "Kakak wanginya enak." Ucap Qai sambil mengusel-usel wajahnya pada dada Rey.


"Untung ingat untuk nggak pake parfum." Batin Rey bangga. "Cium dong sayang." Pinta Rey meminta jatah selanjutnya.


Qai langsung melepaskan pelukannya. Bukannya memberikan apa yang dimau suaminya seperti biasa yang mereka lakukan. Kini Qai mundur membuat jarak dengan Rey.


"Nggak mau kak."


"Loh kenapa?" Tanya Rey yang terdengar tidak terima.


"Aku belum mandi dan gosok gigi." Ucap Qai memberi alasan.


"Kecup saja kalau begitu." Pinta Rey yang masih belum menyerah.


"Aku nggak mau kak. Sudah sana berangkat kerja."


Percuma memaksa Qai saat ini karena sudah dapat dipastikan Qai tidak akan memberikan maunya Rey. Meski kecewa, ya sudahlah yang penting tadi sudah mendapatkan sebuah pelukan.


"Nggak perlu masak sayang kalau memang nggak kuat sama baunya bawang putih. Nanti kita beli lauk saja."


"Siap kakak. Makin sayang deh." Ucap Qai yang langsung mendaratkan kecupan di pipi Rey.


Rey yang sedang menggunaakan sepatu langsung tersenyum. Ciuman atau kecupan bibir nggak dapat, kecupan pipi pun jadi. Menambah mood booster hari ini.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2