
Semalam Rey bergadang karena menghubungi semua nomor kontak yang dikirim Nana. Ia sudah seperti orang gila tidak tahu waktu karena menghubungi semua orang tanpa melihat jam.
Pagi ini saja Rey berangkat lebih cepat tidak seperti biasanya. Membuat kedua orang temannya menatap heran. Belum lagi wajah Rey yang nampak sayu seperti orang kekurangan tidur.
"Ada masalah bro?" Tanya Mansur penasaran.
"Nggak ada." Jawab Rey singkat. Ia sedang malas bercerita karena pasti akan panjang urusannya kalau sudah memberi tahu sedikit saja masalahnya saat ini.
"Ngomong kalau butuh bantuan." Ucap Rahmat sambil menepuk punggung Rey.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Rey sudah keluar dari kantor. Ia izin dengan atasannya untuk menemui customernya. Padahal itu hanya alibinya untuk mencari Qai, istrinya.
Rey mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Karena di jam seperti ini, jalanan lebih renggang. Jadi mempermudah para pengendara untuk segera sampai pada tempat tujuannya.
Namun sayangnya, Rey tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Karena ternyata kemarin Qai menitipkan surat pengunduran diri pada teman yang juga menjadi guru disana.
Rey menghela nafas kasar. Bahkan Rey tidak mendapatkan informasi apapun pada teman Qai yang dititipi surat tersebut.
"Kamu dimana Qai." Gumam Rey.
Lelaki yang penuh dengan rasa kecemasan itu mengabaikan rasa kantuknya, mengabaikan perutnya yang meminta untuk diisi. Karna yang ada dipikiran Rey saat ini adalah menemukan Qai secepat mungkin.
Rey kembali mengemudikan motornya. Entah berapa kecepatan yang ia gunakan saat ini. Karena yang ada di kepala Rey ia ingin sampai ketempat tujuan yang mungkin di sanalah Qai berada saat ini.
Sore hari Rey baru sampai dirumah mertuanya. Karena jarak yang cukup jauh benar-benar menelan waktu menerobos perjalanan yang harus di tempuh.
"Assalamualaikum bu..." Salam Rey yang langsung masuk saja. Karena pintu depan memang terbuka lebar.
"Waalaikum salam. Loh Rey." Ibu wirda celingukan mencari sosok anaknya. "Qai mana?"
"Apa yang kamu harapkan Rey." Batin Rey lalu menghembuskan nafas pelan-pelan menghilangkan rasa sesak yang tadi penuh harapan.
"Qai nggak ikut bu, Rey mampir karena habis bertemu dengan customer. Ayah masih di pabrik bu?" Tanya Rey.
"Iya. Lagi lihat tukang, benerin mesin. Rey sudah makan belum nak?" Melihat anak menantunya yang seperti kurang tenaga, bu Wirda jelas tahu kalau menantunya pasti belum makan.
"Belum bu."
Setelah selesai makan, Rey langsung menuju kamar Qai. Kamar yang dulu mereka tinggali selama satu minggu setelah akad nikah.
Rey melihat setiap sudut kamar Qai yang di dominasi warna pink. Ia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tangannya langsung mengambil ponsel didalam saku celananya. Rey terus mencoba menghubungi Qai. Setiap saat dengan harapan nomor Qai aktif kembali.
"Masih nggak aktif." Gumam Rey kemudian menghempaskan ponselnya begitu saja.
__ADS_1
"Kamu dimana sayang." Gumamnya lagi. Tanpa terasa Rey tertidur begitu saja setelah matanya terpejam beberapa saat. Mungkin ini akibar semalam ia bergadang.
Rey langsung pamit pulang setelah waktu magrib. Ia menyesal kenapa bisa sampai tertidur sangat pulas disaat seperti ini.
"Tidur disini saja Rey. Sudah malam." Ucap pak Abdul.
"Rey pulang saja ayah, kasian kalau Qai dirumah sendirian. Lagi pula besar Rey kerja." Ucap Rey. Rey langsung mencium punggung tangan Pak Abdul dan bu Wirda bergantian untuk segera pulang.
"Kita nggak salah pilih mantu ya pak." Ucap bu Wirda setelah Rey sudah mengendarai motornya.
"Alhamdulillah bu."
"Ibu nggak bisa bayangin kalau Qai nikah sama pacarnya itu. Meski mereka baru saling kenal dan menikah, tapi ibu merasa Rey sangat mencintai anak kita yah."
"Iya bu. Ayah juga merasa begitu." Ucap pak Abdul.
Rey mengendarai motornya. Ia harus tetap waspada walau ia melajukan motor dengan cepat. Menerjang angin malam untuk cepat sampai dirumahnya. Tidak bisa dipungkiri jika Rey saat ini juga berharap ada sebuah keajaiban jika Qai sudah berada di rumah saat ia sampai nanti. Semoga.
.
.
.
Hampir tengah malam tapi mata Qai masih belum mau di ajak lelap. Ia terus mengusap perutnya yang masih rata. Setelah kemarin mendapatkan hasil garis dua, tadi sore Qai langsung mencari bidan terdekat untuk memeriksakan kehamilannya. Agar ia juga mendapatkan obat yang tepat untuk menghilangkan mualnya yang datang tiba-tiba.
"Apa aku harus menggunakan dia untuk mempertahankan kamu kak. Tapi mana mungkin." Gumam Qai pasrah.
Apalagi saat Qai mengingat ucapan Rey saat itu, bahwa hubungan rumah tangga bertahan karena mereka yang mau bertahan. Lalu bagaimana mungkin Qai mau menggunakan kehamilannya untuk menahan Rey. suaminya yang ia kira masih sangat mencintai mantan kekasihnya itu.
Qai mengambil dompet yang ada di dalam tasnya. Ia menghitung jumlah uang yang tertinggal didalam sana.
"Tinggal 2.400.000." Gumam Qai. "Semoga cukup untuk satu bulan." Qai mengusap perutnya. "Sabar ya nak, nanti kalau uang kita habis baru kita pulang kerumah nenek sama kakek." Qai tertawa pelan.
Qai menertawakan ucapannya sendiri. Jika orang lain mungkin akan pergi sejauh mungkin dan bekerja kerasa demi anaknya. Namun sepertinya hal itu tidak berlaku untu Qai, ia lebih baik pulang kerumah orang tuanya demi kebaikan ia terlebih lagi anaknya. Ia tidak mau mengambil resiko untuk membuat anaknya hidup kesusahan. Kan dia anak tunggal orang tuanya.
"Ayah, ibu maafkan anak mu ini." Ucap Qai.
.
.
.
__ADS_1
Sekitar pukul 23.45 WIB, Rey sudah sampai di halaman rumah Nana. Ia sudah tidak kenal waktu dan abai jika mengganggu ketenangan orang lain.
Rey masih berkeyakinan jika Nana tahu keberadaan istrinya. Atau bahkan Qai memang ada dirumah Nana. Rey langsung mengetuk pintu rumah Nana.
Klek...
Pintu langsung terbuka setelah Rey mengetuk pintu rumah Nana beberapakali.
"Siapa ya mas?" Tanya laki-laki paruh baya. Sudah dapat dipastikan itu ayah Nana.
"Maaf pak. Sayang mengganggu waktu istirahatnya bapak dan keluarga. Saya mau tanya apa Qai ada disini?"
"Sudah lama Qai tidak main kerumah ini mas. Mas siapanya teman anak saya?"
"Siapa ayah?" Tanya seorang orang perempuan. Sudah dapat dipastikan itu adalah Nana. "Loh Rey ngapain disini?" Tanya Nana terkejut melihat sosok Rey tengah malam dirumahnya.
"Nyari Qai katanya." Jawab ayah Nana yang langsung berlalu.
"Aku kan sudah bilang Qai nggak ada disini Rey. kamu nggak percaya?"
"Apa dia juga belum menghubungi kamu?"
"Belum." Nana melihat Rey yang tidak percaya padanya. "Nih cek sendiri ponsel ku kalau kamu nggak percaya." Nana langsung memberikan ponselnya begitu telah membuka layar kuncinya.
Tanpa rasa sungkan Rey langsung membuka Chat wa anatara Qai dan Nana. Rey langsung menghembuskan nafasnya dengan rasa frustasi. Ia memberikan kembali ponsel Nana.
"Tolong kabari aku kalau Qai menghubungi mu Na."
"Iya. Pasti aku kasih tahu kamu."
"Tolong sampaikan permintaan maaf ku sama orang tua mu karena aku tidak sopan datang kerumah di jam seperti sekarang."
"Nggak apa-apa, kami paham kok."
Nana menghela nafasnya. Melihat Rey yang terlihat wajah lelahnya. Sudah dapat dipastikan lelaki yang menjadi suami sahabatnya terlihat kurang istirahat.
"Kamu dimana sih Qai. Nggak dewasa banget asal lari dari masalah. Kalau sampai ketemu ku getok pake palu juga tu bocah." Geram sendiri sekarang Nana pada Qai yang suka kekanak-kanakan.
Bersambung...
NISSA S2 (fokus ke kisah cinta Reina Dzuhairi Sucipto)
Mampir yuk 😘 klik profil aku ya kalau di pencarian belum keluar ❤️ update 1 kali sehari dulu ya 🙏
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️