
Rey langsung keluar dari rumah. Membiarkan Qai sendirian dan dia juga harus menghilangkan rasa amarahnya yang bisa saja semakin menjadi jika masih berada di rumah.
Rey membelokkan motornya ke apotik. Ia harus membeli obat agar nyeri di kakinya segera hilang. Setelah itu, Rey mencari tempat penginapan. Hortel murah ceria untuk menghilangkan rasa kantuknya. Rasa lelah yang masih sangat terasa dan rasa mengantuk yang juga menyerang.
Sedangkan dirumah. Qai hanya terdiam duduk di tepi ranjang. Menangis pun untuk apa. Karena semua sudah terlanjut terjadi. Akibat sikapnya sendiri membuat semuanya menjadi seperti ini.
"Tolong maafkan ibu karena belum bisa memberi tahu ayah tentang kamu sayang." Gumam Qai.
Qai mengabaikan masalah yang sudah ia ciptakan. Karena sekarang ia harus membersihkan seluruh rumah yang bentuknya sudah tidak karuan.
Qai membersihkan seluruh rumah. Ia terkejut banyaknya rokok yang terlihat hanya di patah-patah saja. Apa sampai segitunya Rey frustasi mencarinya sampai membutuhkan pelampiasan.
Setelah seluruh rumah Qai sapu dan pel kini ia harus segera memasak untuk Rey. Berharap amarah Rey akan sedikit mereda saat ia memasakkan makanan kesukaan Rey.
Qai langsung keluar rumah untuk membeli segala kebutuhan dapur. Sudah dapat di pastikan satu bulan ia pergi dari rumah apapun yang ada di dalam kulkas sudah rusak.
"Loh mbak Qai sudah dijemput mas Rey to?" Tanya bu Tri saat melihat Qai lewat.
"Iya bu." Jawab Qai sekedarnya.
"Bagaimana mbak acara di kampung, Lancar?"
Sejujurnya Qai bingung dengan pertanyaan bu Tri. siapa yang pulang kampung. Kan dia pergi dari rumah tanpa berpamitan. "Alhamdulillah bu lancar." Jawab Qai yang menurutnya paling tepat.
"Mas Rey mbak tinggal di kampung jadi sering pulang malam mbak. Semakin kurusan juga kaya orang galau mbak Tinggal." Tutur bu Ida yang baru ikutan nimbrung.
"Iya mbak. Lain kali jangan lama-lama mbak pulang kampungnya kasian mas Rey jadi kaya nggak keurus." Tambah bu Ida.
Qai senyum terpaksa karena merasa kalau tindakannya benar-benar salah telah meninggalkan rumah tanpa tahu kebenarannya. "Iya bu."
"Perhatiin mbak suaminya. Mas Rey itu kan ganteng, bahaya kalau kesamber pelakor kalau kelamaan mbak Qai di kampung."
__ADS_1
"Iya bu."
"Ini mbak Qai mau kemana?" Tanya bu Tri.
"Saya mau beli sayuran dulu bu. Kalau begitu saya duluan ya bu."
"Iya mbak."
Qai langsung berlalu. Sambil memikirkan ucapan ibu-ibu tadi. Bahwa selama satu bulan ini Rey menutupi keburukannya dari tetangga mereka bahwa ia telah pulang kampung. Padahal kenyataannnya ia pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Seharian sudah berlalu, makanan sudah sejak tadi tersaji dimeja makan. Tapi hingga malam, Rey tetap belum pulang. Qai berulang kali menghubungi nomor Rey. Bukannya diterima tapi kini ponsel Rey tidak aktif.
Mau tidak mau, setelah seharian menahan lapar menunggu Rey pulang. Akhirnya Qai makan sendiri hasil masakannya. Walau ia tidak nafsu untuk menelan makanan. Namun itu harus tetap Qai paksa karena sudah seharian ia menyiksa janin yang ada di dalam kandungannya.
Dengan lahap Qai menyantap makanan tapi juga dengan deras air matanya mengalir. Mungkin inilah yang dirasakan Rey saat satu bulan ia tinggalkan. Membuat sesak di hati Qai sendiri.
"Maafin aku yang sudah egois kak hik... hik..."
Jam sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB. Rasa kantuk sudah tidak bisa Qai tahan lagi, tapi ia harus menunggu Rey yang belum pulang juga.
Rey langsung mengunci gerbang. Ia langsung berlalu saja melewati Qai yang tersenyum menatapnya.
"Sabar Qai. Kamu nggak boleh nangis karena ini jelas kesalahan mu." Batin Qai yang langsung ikut masuk dan langsung mengunci pintu.
Qai langsung menyipkan baju ganti untuk Rey yang sedang membersihkan diri. Qai juga berganti baju dengan gaun tidur. Entah benar atau salah yang di lakukan Qai saat ini. Karena yang dipikirannya ia harus tampil cantik, menarik dan wangi.
Klek
Qai langsung berdiri dan menatap Rey yang baru keluar dari kamar mandi. "Aku sudah siapkan baju buat kakak." Ucap Qai sambil menunjuk baju Rey yang ada di tepi ranjang.
Rey menatap Qai datar tanpa ekspresi. Ia langsung menggunakan baju yang sudah disiapka Qai. Hal itu membuat Qai sedikit senang karena Rey masih mau menggunakan apa yang telah ia siapkan.
__ADS_1
"Aku tadi sudah masak makanan kesukaan kakak. Ayo aku temani kakak makan." Ajak Qai lembut.
"Aku sudah makan." Ucap Rey singkat. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Qai menghela nafasnya. Ia harus kuat menerima amarah yang Rey berikan saat ini. Qai langsung ikut naik keatas ranjang.
Hati qyai benar benar terasa tercubit dan nyeri saat ia naik keatas ranjang. Saat itu juga Rey mengubah posisi tidurnya dan langsung memunggunginya. Sekuat tenaga Qai menahan air matanya yang sudah ingin jatuh. Sejujurnya sejak tadi ia ingin sekali tidur di peluk rey seperti tadi pagi. Tapi kalau seperti ini rasanya akan mustahil.
Qai langsung menggeser posisi tidurnya agar lebih rapat dengan Rey. Ia langsung memeluk erat Rey dari belakang. Sudah tidak tahan lagi Qai rasanya. Mungkin ini jurus terakhirnya untuk meluluhkan hati Rey dengan instan. Menggunakan senjata terakhirnya. "Kakak sebenarnya aku sedang Ha..."
"Jangan sentuh aku Qai. Aku ingin tidur nyenyak malam ini." Potong Rey yang sedang tidak ingin di ganggu.
"Maaf." Ucap Qai pelan. Ia langsung melepaskan dekapan tangannya pada tubuh Rey. Dan langsung kembali dimana posisi tidurnya.
Pagi-pagi buta Qai sudah disibukkan dengan pekerjaan di dapur. Ia harus memasak apa yang di sukai Rey. untuk menu sarapan dan bekalnya nanti.
"Kak ayo sarapan, aku buatkan nasi goreng udang." Ajak Qai setelah memasuki kamar dan melihat Rey sudah bersiap untuk berangkat kerja.
"Tidak perlu sibuk mengurus ku, aku sudah kembali terbiasa tanpa bantuan mu." Ucap Rey menyindir.
Qai menghela nafasnya. "Ya sudah kalau kakak nggak mau nasi goreng, aku buatkan Roti bakar sebentar ya, tunggu."
"Aku bilang nggak perlu. Apa setelah pergi bersenang-senang kamu jadi tidak tahu arti kata yang aku ucapkan." Ucap Rey yang langsung menghentikan langkah kaki Qai untuk menuju ke dapur lagi.
"Aku sama sekali tidak senang saat meninggalkan rumah kak.” Ucap Qai pelan.
"Benarkah?" Tanya Rey sambil mendekati Qai. Tangan Rey menyentuh kedua pipi Qai agar wajah Qai terangkat dan menatapnya. "Jika memang tidak senang, seharusnya kamu cepat kembali dimana tempat yang membuatmu senang." Ucap Rey begitu saja.
Qai langsung tersadar dari lamunannya. Ia langsung cepat menuju dapur untuk mengambil bekal yang sudah ia siapkan. Tanpa sadar Qai lari takut kalau Rey sudah mengendarai motornya.
"Kakak ini bekal...nya..." Ucapan Qai terputus karena benar saja Rey sudah lebih dulu mengendarai motornya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️