
"Tuh ayah Ren sudah datang." Ucap Qai. Rey sedang membuka sepatunya.
"Biar aku sayang, yang tutup gerbangnya." Ucap Rey sambil beranjak dari tempat duduknya.
Qai tentu menurut. Hal kecil seperti ini, jika tidak ia turuti pasti Rey akan banyak mengomelinya.
Setelah menutup gerbang. Rey langsung menggulung celana dan lengan bajunya. Ia langsung cuci kaki, cuci tangan, dan cuci muka.
"Sini Ren sama ayah." Ucapnya sambil mengambil alih Ren dari gendong Qai. Ia langsung mendaratkan banyak kecupan di wajah Ren. Rasa penat dan lelah seharian di kantor kini terasa hilang begitu saja setelah melihat wajah sang istri dan anak.
"Seharian ayah di kantor kok bikin kangen terus." Ucap Rey setelah puas menciumi Ren. "Apa lagi ibunya." Rey menatap Qai lalu mengedipkan satu matanya menggoda Qai.
Tentu hal itu membuat Qai malu. Dan kini wajahnya pun mulai bersemu. Apa lagi mengingat paketan Rey yang ia terima tadi siang.
Sedangkan yang ada di isi kepala Rey hanya menggoda Qai saja. Bukan menjurus ke obrolan mereka tadi siang.
"Kakak apaan sih bikin grogi orang saja." Ucap Qai sambil mencubit lengan Rey.
Rey sedikit membungkuk untuk mencium pipi Qai. Meski sudah biasa di perlakukan seperti ini, namun masih saja Qai deg-degan tidak karuan. Apalagi ingatan Qai masih ke paketan tadi siang.
"Oh iya, aku belikan empek-empek sayang. Itu masih di motor." Tunjuk Rey menggunakan dagunya.
"Terimakasih ayah." Ucap Qai setelah mengambil bungkusan plastik di motor Rey. Setelah itu Qai menata sepatu Rey pada tempatnya. Lalu membawa jaket dan tas kerja Rey untuk ia bawa ke dalam rumah.
__ADS_1
.
.
.
Kini mereka bertiga berada di depan televisi. Ren sengaja di letakkan di kasur Karena Rey dan Qai akan makan malam.
"Kak aku hanya masak ini." Ucap Qai sambil duduk di depan Rey.
Rey menatap sepiring yang berisi nasi, cah sawi campur bakso dan sepiring ikan goreng. Dan juga sebotol air dingin.
"Sebenarnya nggak perlu masak setiap hari juga yang. Aku bisa belikan lauk di luar saat pulang kerja."
"Bukan nggak cocok. Aku suka makan masakan kamu, enak. Aku hanya nggak mau kamu kelelahan, karena harus menjaga Ren lalu masak, belum lagi pekerjaan rumah lainnya. Kamu harus istirahat cukup agar asinya tetap lancar."
"Aku tahu kak. Aku nggak akan paksakan diri kalau memang tubuh aku lelah. Ayo baca doa."
"Loh sendoknya hanya satu?"
Qai mengangguk. "Aku ingin suapi kakak."
"Wah asik nih di manjain." Rey nampak sangat antusias saat seperti ini. Dan Qai selalu senang melihat raut wajah Rey yang nampak cerah.
__ADS_1
Mereka berdua saling suap-suapan. Qai bagian menyuapkan nasi dan cah sawi. Sedangkan Rey bagian menyuapkan ikan goreng.
Setelah selesai makan, Qai langsung membawa piring bekas makan mereka ke dapur.
"Ayah cuci tangan sebentar ya Ren." Rey langsung beranjak meninggalkan Ren bersama televisi yang menyala.
"Kok Ren di tinggal kak." Ucap Qai sambil mencuci piring.
"Aku ingin gendong Ren yang."
Qai spontan geser dari posisi berdirinya agar Rey bisa cepat membersihkan kedua tangannya.
Dengan cepat Rey membasahi kedua tangannya lalu ia sabun agar bau amisnya hilang. Tak lupa juga Rey membersihkan mulutnya.
"Aku duluan." Ucap Rey lalu mendaratkan kecupan di leher Qai.
Qai spontan menatap Rey yang berlalu menuju ruang televisi. Ia menghela nafas saat tubuhnya terasa seperti mendapatkan sengatan.
"Dasar Rayhan Abraham bapaknya Rezvan. Sudah bapak-bapak juga masih saja bikin orang merinding." Gerutu Qai lalu melanjutkan pekerjaannya yang terasa lama padahal hanya mencuci 2 piring, satu sendok, dan satu botol.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1