2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 42 SURAT DARI QAI


__ADS_3

Dengan perasaan yang sudah tidak karuan. Detak jantung Rey yang semakin berkerja cepat melihat amplop putih di tangan Rey.


Tidak mau berfikir yang tidak-tidak, Rey langsung membuka surat yang sudah dipastikan kenapa Qai pergi dari rumah.


...Untuk suamiku, Rayhan Abraham....


...Kakak,Maaf aku pergi tanpa berpamitan dengan kakak. Aku tahu ini salah, tapi jika aku menunggu sampai kakak pulang. Itu hanya akan membuat aku semakin berat melangkah dan sulit pergi dari kakak. Hanya akan membuat aku menjadi egois karena tidak ingin kehilangan kakak. Atau menerima kenyataan bahwa kakak akan memilih orang yang kakak cintai dari pada aku. Aku benar-benar tidak bisa mendengar ucapan itu dari kakak secara langsung. ...


...Aku ingin egois tanpa memikirkan orang lain kak. Aku ingin memikirkan hanya demi diri aku sendiri. Tapi sepertinya itu tidak bisa, karena hati kakak tidak bisa berpaling dari dia. Aku terlalu berharap lebih kan kak....


...Aku pikir selama waktu yang hampir enam bulan ini kakak bisa hanya melihat aku, tapi sepertinya hanya aku yang berharap lebih. Karena pada kenyataannya kakak tidak bisa melupakan dia....


...Hahahaha... aku lucu kan kak. Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan dia dengan waktu kebersamaan kita yang baru hitungan bulan. Sangat singkat jika harus berbanding dengan hitungan tahun....


...Terimakasih atas segala sikap dan cara kakak ke aku. Hati ku benar-benar kakak sentuh sampai aku tidak ingin jauh dari kakak. Sampai aku bersikap egois tidak mau mengatakan apa yang ingin aku katakana sejak dulu. Karena aku takut kakak pergi meninggalkan aku....


...Dan sekarang aku tidak menyesal telah melakukan hal itu. Karena aku bisa sedikit lebih lama bisa hidup bersama kak. Walau sebenarnya aku ingin kita bersama selamanya sampai maut yang memisahkan kita....


...Maaf, sungguh tolong maafkan aku kak....


...Tolong lepaskan aku terlebih dulu jika kakak ingin hidup bersamanya. Aku akan coba ikhlas walau aku pasti kesusahan merelakan kakak untuknya. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kakak....


...Dari istrimu, Qaila Zarina....


Rey langsung meremas kuat surat yang baru saja ia baca. Surat yang ditinggalkan Qai sebelum akhirnya Qai memilih pergi dari rumah ini. Dapat dipastikan jika pembicaraannya dengan Intan tadi juga disaksikan Qai. Kini Rey jadi tahu kalau Qai pasti tidak mendengarkan semuanya sampai selesai.


Mata Rey sudah mulai memerah amarah, kecewa, dan kekhawatiran bercampur menjadi satu. Bagaimana mungkin Rey tidak marah kalau Qai bertindak gegabah tanpa tahu kebenarannya, apa lagi saat ini Qai sedang kurang sehat.


Rey melempar kuat kertas yang sudah ia remas. Ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Qai. Rey sudah tidak tahu sampai mana Qai sekarang perginya, dan kemana.


"Kenapa nggak aktif." Ucap Rey membanting ponselnya di kasur.


Otak Rey masih waras dalam membanting ponsel. Karna akan menyusahkan dirinya juga jika ia melempar ponselnya ke lantai atau ke tembok, walau sebenarnya Rey ingin melakukannya juga.


Rey langsung keluar rumah menuju ke rumah bu Susi. Ia berharap Tomi sudah pulang ke rumah. Rey berpapasan dengan pak topik yang baru keluar rumah hendak menuju musholla.


"Eh mas Rey mau kemana mas?" Tanya pak Topik.


"Ke rumah bapak. Tomi sudah pulang kerja pak?"


"Belum mas, mungkin sebentar lagi. Ada apa mas, biar nanti bapak sampaikan kalau ada keperluan."


"Biar saya tunggu Tomi saja pak."


"Tuh panjang umur di omongin orangnya langsung datang. Kalau begitu saya tak ke musholla dulu ya mas."


"Iya pak."

__ADS_1


"Mas Rey, ada apa mas?" Tanya Tomi heran. Padahal bapakn ya sudah pergi ke musholla kok Rey masih saja tidak beranjak dan malah menghampirinya.


"Kamu ada nomor Nana, Tom?"


.


.


.


Sepanjang perjalanan, Qai terus saja menangis tanpa dapat ia tahan lagi air matanya. Sangat berat mengambil keputusan yang ia ambil saat ini. Tapi inilah yang terbaik untuk mereka, menurutnya.


"Ini mbak Tissuenya." Ucap pak sopir yang mengemudikan mobil.


Qai langsung menerima kotak tissue yang diulurkan pak sopir. "Terimakasih pak."


Qai langsung mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak harus menerima kenyataan yang sudah ia ambil saat ini.


Hoek...


Qai langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tiba-tiba rasa mual Qai rasakan lagi. Qai jadi berfikir kalau ia mabuk perjalanan. Tapi seumur hidupnya baru kali ini ia mabuk saat mengendarai mobil.


"Pak tolong minggir pak. Hoek..."


Qai langsung keluar dari mobil dan langsung memuntahkan apa yang ingin keluar dari tubuhnya.


'Minum dulu mbak." Ucap pak sopir sambil mengulurkan sebotol air mineral.


"Saya nggak ada niat jahat mbak, ini juga masih baru. Silahkan." Ucap pak sopir. Ia cukup paham kenapa penumpangnya memandang seperti itu. Apa lagi dijaman seperti ini.


"Maaf ya pak." Ucap Qai tak enak hati. Ia langsung menerima botol air mineral. Membuka tutupnya dan langsung menenggak untuk berkumur.


"Mbak memang suka mabuk saat naik mobil?"


"Baru kali ini pak saya mabuk."


Pak sopir memperhatikan Qai seksama. "Mbak sudah menikah?" Tanyanya saat melihat cincin di jari manis Qai.


.


.


.


Setelah mendapatkan kamar kost. Qai langsung membersihkan kamar tersebut dan menata semua pakaiannya. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah semuanya rapih.


Qai menatap langit-langit kamar yang akan menjadi tempat persembunyiannya. Tapi untuk apa Qai bersembunyi jika ia yakin Rey tidak mungkin mencarinya.

__ADS_1


Otak Qai terus berfikir keras. Meyakinkan diri untuk segera melakukan test agar ia segera tahu hasilnya. Tangannya meremas kaos yang ia gunakan.


"Apa mungkin aku hamil." Gumamnya.


Qai menangis lagi, bagaimana jika ia benar hamil. Bagaimana nasib anaknya nanti, saat harus menerima kenyataan jika orang tuanya telah berpisah.


Itu bukan sebuah mimpi yang Qai mau. Karena yang ia harapkan adalah menikah satu kali dan bahagia bersama anak-anaknya kelak. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali tuhan berkehendak untuk mencabut yang bernyawa.


"Lebih cepat tahu akan lebih baik." Gumam Qai. Ia langsung menuju kamar mandi.


.


.


.


"Halo..." Sapa Nana setelah menerima panggilan suara dengan nomor baru dari seberang sana.


"Halo Na." Ucap Rey. "Na, Qai ada disitu?" tanyanya cepat.


"Maaf ini siapa?"


"Ini aku Rey, suami Qai."


"Oh Rey, Ada apa?"


"Qai apa ada dirumah mu?"


"Nggak ada Rey, memangnya Qai bilang mau kesini?"


"Dia pergi dari rumah."


"Hah. Kenapa? Kok bisa? kalian bertengkar? Ada masalah apa?" Tanya Nana beruntun.


"Qai salah paham. Tapi kamu nggak bohong kan?" Tanya Rey masih belum percaya.


"Astaga Rey, aku saja terkejut kalau Qai pergi dari rumah. Untuk apa aku bohong Rey. ini juga seharian Qai belum hubungi Qai." Tutur Nana.


"Tolong beri tahu aku kalau dia hubungi kamu Na. aku sudah hubungi nomornya tapi nggak aktif."


Rey langsung merebahkan diri di atas ranjang. Berfikir sejenak untuk mengira-ngira kemana Qai pergi.


"Apa mungkin dia pulang." Gumam Rey.


Rey menutup kedua matanya yang terpejam dengan lengan tangannya. Rasanya sudah menjadi campur aduk hingga Rey tidak tahu harus mengekspresikan dirinya seperti apa.


"Kamu egois Qai." Gumam Rey. Tanpa terasa air mata jatuh dari kedua sudut mata Rey yang masih terpejam.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2