
Menghabiskan waktu di atas ranjang. Dengan melakukan banyak pergerakan. Merayu tubuh dengan saling bersentuhan. Menghasilkan keringat karena rasa panas yang menjalar. Mungkin itulah yang dibayangkan Rey tadi sebelum akhirnya mendaratkan tubuhnya diatas ranjang.
Kini ia hanya bisa menghela nafas, karena tiba-tiba saja rasa kecewa karena ini tidak sesuai ekspektasinya tapi juga ingin tertawa dengan keanehan yang terjadi pada istrinya.
"Aku bau asem sayang." Ucap Rey sambil mengusap-usap punggung Qai.
Qai semakin menyusupkan wajahnya di ketiak suaminya. Entah kenapa sejak tadi ia sudah sangat ingin mencium aroma tubuh suaminya. Aroma yang seperti inilah yang Qai mau.
"Wangi tahu kak. Enak baunya." Qai semakin menyusupkan wajahnya dan mempererat pelukannya.
Tidak ingin diajak Qai hanya begini saja. Tangan Rey menyusup langsung ke dalam baju Qai dan mengusap punggung Qai secara langsung. Tangannya langsung membuka pengait yang mengamankan kedua benda kembar Qai.
"Kakak mau apa?" Tanya Qai sambil menatap Rey.
"Ayolah." Ajak Rey dengan wajahnya yang sudah mau.
"Magrib kak." Ucap Qai yang langsung turun dari atas tempat tidur. Karena Adzan sudah berkumandang.
Benar-benar menguji keimanan Rey saat ini. Tapi ia harus mendengar pesan dari mbaknya, Ratna. Kalau Rey harus sabar menghadapi mood ibu hamil yang suka-suka sendiri berubah dengan sangat tiba-tiba.
Saat ini mereka tengah menikmati makan malam berdua. Qai jadi mengingat bagaimana ia tadi mengerjai Nana untuk memasak semua yang tersaji di hadapan mereka saat ini.
"Enak nggak kak?" Tanya Qai jadi penasaran.
"Kok perasaan ku kaya ada yang beda ya Qai." Ucap Rey sambil meminggirkan beberapa irisan bawang dan cabe.
"Beda apanya?" Tanya Qai penasaran.
"Ini irisan bumbunya saja bukan seperti irisan biasanya kamu masak sayang. Terus rasanya juga seperti kurang pekat di bumbunya." Tutur Rey jujur dengan apa yang ia rasakan.
Justru sekarang Qai tidak menyangka dengan Rey yang memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin saja orang tidak memperhatikan hal itu.
"Ini tadi Nana yang masak kak."
"Pantas. Kenapa meminta teman kamu yang memasak?" Tanya Rey.
"Aku tadi sedang mengiris bumbu. Terus aku mual dengan bau bawang putih, jadi aku minta tolong Nana buat masakin ini semua." Ucap Qai menjelaskan.
"Besok kalau memang nggak bisa masak, ya nggak perlu masak Qai. Kita beli saja lauk di luar, kamu tinggal masak nasi saja."
"Besok aku coba masak tanpa bawang putih saja kak. Tapi enak nggak ya?" Ucap Qai ragu-ragu.
"Apapun masakkanya kalau kamu yang masak pasti aku masak. Tapi ingat jangan di paksakan apa lagi sampai membuat kamu lelah."
"Loh kakak mau kemana?" Tanya Qai saat Rey beranjak.
"Aku sudah kenyang."
Sama dengan aktifitas diawal pernikahan, setelah makan malam mereka berdua duduk di depan televise sambil menikmati buah anggur. Qai sendiri memilih tidur di pangkuan Rey.
"Kak, aku boleh masuk kerja lagi nggak? Tapi sementara jadi TU di sekolahan. Karena TU yang lama mau resign. Atau coba cari lowongan disekolahan lain saja mungkin ya kak?"
"Bisa nggak kalau kerjanya nanti saja setelah melahirkan." Usul Rey yang jelas tidak setuju istrinya bekerja saat hamil begini.
Qai diam nampak memikirkan sesuatu. "Lalu setelah aku melahirkan, siapa yang akan menjaga anak kita kak?" Tanya Qai yang mulai bimbang.
__ADS_1
Rey mengunyah buah anggur yang baru saja ia lahap. Nampak sekali kalau kini ia sedang memikirkan sesuatu.
"Kita titipkan saja pada orang yang memang terima mengasuh bayi." Ide Rey yang memang itu tersirat di pikirannya.
"Ih aku nggak setuju kak."
"Atau ibu ku biar ikut kita menjaga anak kita saat kita kerja."
Qai langsung bangun. "Ibu kakak?"
"Iya."
"Ibu kakak itu ibu aku juga kak. Nggak boleh kakak bilang begitu. Ibu kakak ya ibu kita, ibu ku ya ibu kita, ayah ku ya ayah kita." Jelas Qai.
"Ok sayang. Lalu bagaimana?"
"Ibu kan sudah tua kak, aku nggak tahu bagaimana lelahnya menjaga bayi, karena kita juga baru akan menjadi orang tua. Jadi aku nggak setuju kalau kita melibatkan ibu dalam hal ini."
"Lalu kamu maunya bagaimana? Pake jasa orang lain kamu nggak setuju, minta bantuan ibu kamu nggak mau. Kan nggak mungkin kalau aku berhenti kerja untuk jaga anak."
Qai terdiam. Paham kearah mana pembicaraan mereka. Dan pasti ada yang akan di korbankan dalam setiap keputusan yang akan mereka ambil.
"Pikirkan itu nanti saja kak." Ucap qai menyerah.
"Ok."
"Stop kak." Pekik Qai cepat saat buah anggur terakhir akan Rey lahap.
"Kenapa?"
"Kamu mau?"
"Maulah."
"Sini kalau mau." Ucap Rey yang langsung menjepit satu-satunya buah anggur diantara giginya.
Qai tersenyum manis. Ia langsung memajukan wajahnya menuju wajah Rey agar mereka bisa saling menikmati sebagian buah anggur dari gigitan yang akan mereka lakukan nanti. Dan sedikit kecupan dari perbuatan mereka nanti.
Tapi sepertinya, perkiraan Qai salah. Buah anggur yang ada di antara gigi Rey entah kemana. Karena kini bibirnya lah yang tengah di cecap oleh Rey dengan sangat menuntut.
Qai sadar tadi sore dia sudah menunda-nunda ajakan suaminya saat Rey menginginkannya. Mungkin ini lah yang tepat untuk menuruti maunya Rey yang sejak tadi belum tersampaikan.
"Boleh nggak sayang." Izin Rey setelah melepaskan bi*bir Qai yang sudah kebas akibatan cecapan panas yang mereka lakukan.
Qai langsung menaikkan kaos oblong yang digunakan Rey. "Tentu kak."
Tidak ingin menunggu waktu lama. Rey langsung melancarkan aksinya. Membawa tubuh Qai agar duduk di pangkuannya.
Saling menyedot seperti adu kekuatan siapa yang akan menang melawan dalam pertandingan.
Ingin sekali Qai merintih saat tangan Rey merajalela kemana-mana. Namun itu hanya tertahan akibat dari dari pagutan yang mereka lakukan.
Nafas keduanya sudah tidak beraturan saat mereka saling melepaskan diri. Rey yang sudah terbakar api, langsung melepaskan kaos yang di gunakan Qai. Begitu juga alat perangkap, pelindung aset berharganya.
Dari pada nanti mereka harus berhenti untuk melepaskan sisa kain yang menempel pada tubuh mereka. Akhirnya keduanya langsung memilih melepaskan seluruhnya.
__ADS_1
Qai langsung kembali duduk di pangkuan Rey lagi, sesuai dengan kemauan Rey.
"Mau disini atau di kamar?"
"Sudah panas dengan posisi yang kakak atur seperti ini, kenapa pake tanya lagi sih kak." Kan jadi kesal Qai nya.
Rey kembali mencecap bi*bir Qai. Tak lama karena kini Rey mengabsen leher Qai, membuat kedua tangan Qai spontan menahan tubuhnya untuk mempermudah perjalan Rey yang menelusuri.
Satu tangan Rey membantu menahan tubuh Qai agar tidak jatuh tertidur saat ia mulai berpindah di dua lembah kembar.
Rey mengecup bergantian di bagian pucuknya. membaut tubuh Qai semakin meradang kepanasan. bersamaan dengan itu lenguhan Qai juga tidak dapat ditahan.
"Semakin berisi." Batin Rey saat tangannya menggenggam erat satunya. Ukuran yang menurut Rey semakin besar saja. Sedangkan mulutnya bekerja dengan kuat menghi*sap yang satunya.
Qai sudah tidak bisa menahan suaranya yang mendapatkan sentuhan seperti ini. Tubuhnya benar-benar bergetar padahal ini bukan yang pertama kalinya.
Pelan-pelan Rey mulai melesakkan adiknya ketempat yang sebenarnya. Membuat Qai semakin girang di buatnya.
Pelan-pelan juga mereka langsung saling bergerak dengan posisi yang tetap duduk dan saling bertatapan. sesekali mereka saling mengusap peluh yang mengucur membasahi tubuh mereka.
Jika sudah sudah seperti ini siapa yang bisa menahan kendali karena pada akhirnya keduanya lepas landas karena semakin cepat saja mengejar apa yang ingin mereka capai.
suara keduanya beradu tertahan karena masih sempat kepikiran takut terdengar sampai keluar rumah.
Rey yang gemas dengan dua lembah yang semakin besar, bergerak-gerak di depan matanya. Membaut tangannya yang gatal langsung menarik ujungnya membuat Qai semakin terbakar.
Ah...
Keduanya langsung berpelukan setelah semuanya sudah tuntas mereka sampaikan. Semakin erat karena mereka saling mengusap punggung yang penuh peluh.
"I love you Qai." Bisik Rey.
"I love you too kak." Ucap Qai berbisik dan meninggalkan kecupan di telinga Rey.
.
.
.
Qai sudah nampak lelap dalam pelukan Rey. Mungkin juga karena lelah akibat dari mereka yang melakukannya sampai dua kali. Sekali di depan televise dan satu kali dikamar mereka.
Tidak ingin terlalu menggebu karena harus memikirkan buah hati mereka. Qai dan Rey cukup dua kali saja.
"Jam sebelas." Gumam Rey.
Ia jelas tidak bisa tidur walau sejak tadi sudah mencoba untuk mejamkan mata. Rey langsung mengatur posisi Qai agar lebih nyaman saat terlepas dalam pelukannya.
Rey langsung turun dari atas ranjang untuk segera membersihkan diri. Entah kenapa rasa inginnya menikmati buah mangga sangat-sangat tidak bisa ia tahan lagi.
Rey keluar dari kamar mandi dan langsung berganti pakaian untuk segera keluar rumah. "Qai yang hamil kenapa aku juga jadi ikut-ikutan kaya orang ngidam sih." Gumam Rey bingung dengan dirinya sendiri. "Tapi Qai juga hamil gara-gara aku. Dasar Rey bo*doh." Rutuknya pada diri sendiri.
Bersambung...
Selamat anda semua berdosa 😂😂😂 besok aku tamatin aja deh biar gak galau jari ku yang suka nakal ini 🤭🤭🤭
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️