
"Aku pikir, Kakak sudah tidak tertarik lagi melihat aku."
Rey mengusap wajah Qai yang masih lembab oleh keringat hasil kerja keras mereka. Ibu jarinya memainkan bibir Qai yang nampak membengkak. Semakin terlihat seksi saat seperti ini. Membuat Rey langsung melahap bibir yang nampak melambai memanggil Rey untuk segera melu"matnya.
Qai menerima dengan senang hati. Membalas pergerakan lidah Rey yang membelitnya.
"Kamu itu magnet ku Qai. Aku selalu tertarik melihat mu setiap saat." Ucap Rey setelah melepaskan Qai.
Sederet ucapan Rey yang. Membuat wajah Qai memerah seperti buah tomat. Rasanya suasana sangat tepat, hasrat yang mereka miliki sangat jelas masih berkobar, menggelora seakan mereka ingin melakukan hal seperti tadi.
Tidak ingin banyak mengulur waktu, Rey langsung mengungkungi tubuh Qai lagi. Kedua benar-benar dibuai waktu. Seolah tiada hari esok untuk mengulang malam yang panas ini.
Mereka berdua kembali saling menyentuh untuk menyulut semangat gai*rah yang mendebarkan. Membuat raga luluh lantah dalam buaian.
Sampai saat Rey ingin memasuki Qai lagi, samar-samar telinga mereka berdua mendengar suara tangis Ren. Membuat mereka berdua terkekeh, luntur seketika kabut hasrat yang sudah ingin di sampaikan.
"Gagal nambah sayang." Rey langsung turun dari atas tubuh Qai.
"Nanti lagi kalau Kakak masih mau menunggu." Qai tentu langsung turun dari atas kasur dan langsung membelit tubuhnya dengan selimut. Qai melirik sekilas gaun mahal yang Rey berikan tadi, kini koyak tak berbentuk.
Rey juga langsung turun dari atas kasur lalu mengunakan celananya secepat mungkin.
__ADS_1
"Sayang, kamu mandi dulu gih," perintah Rey saat melihat Qai siap memberikan Ren, Asi.
"Tapi ini Ren sudah haus pasti kak. Kasian kalua nunggu aku mandi."
"Biar aku gendong dulu. Kamu mandinya yang kilat."
"Tapi kak ..." Jiwa keibuan Qai tentu saja tidak tega menyempatkan mandi saat bayinya sudah menangis seperti ini.
"Sudah sana cepat."
Akan lebih baik Qai menurut. Kalau terus mendebat suaminya pasti jadi panjang urusan mereka nanti.
Qai langsung keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri sekilat mungkin. Ia segera mengambil pakaian ganti di dalam lemari lalu segera menggunakannya.
Setelah itu, gantian Rey yang bergegas membersihkan diri. Aroma tubuh percampuran mereka berdua yang sebenarnya belum ingin Rey hilangkan dari tubuhnya.
"Sudah tidur?" tanya Rey, karena Qai sudah tidak mengasi lagi.
"He'em ... Kakak tumben mandi sampai satu jam?"
"Aku belum ingin membilas wangi tubuh mu yang menempel di aku."
__ADS_1
"Sumpah Kakak gombal banget." Pekik Qai seolah tidak percaya. Padahal sekarang wajah Qai sudah memerah karena ucapan Rey barusan.
Rey segera berganti baju. Tubuhnya yang hanya tertutup handuk yang melilit pinggangnya tentu kini merasa kedinginan karena suhu AC.
"Aku berkata jujur yang."
"Aku ingin tahu, kenapa Kakak suruh aku mandi dulu? Ren tadi sudah menangis Kak, aku sampai nggak tenang saat mandi tadi." Qai tentu butuh penjelasan.
Rey langsung menghampiri Qai. "Sayang, Kita tadi habis begituan. Tubuh kamu seluruhnya aku sentuh tanpa celah. Keringat kita jadi satu. Masak iya mau suruh Ren hisap Asi bekas aku."
"Tapi kan tadi sudah aku lap kak. Dua-duanya loh."
"Tapi badan kamu itu bau aktifitas kita Qai. Keringat kita bercampur jadi satu. Aku takut kalau kamu paksa Ren mengASI, lalu dia muntah karena bau badan kamu gimana?"
"Masuk akal juga ya Kak!"
"Makanya."
"Terus ini, kita gimana sekarang?" tanya Qai memberikan kode.
"Gimana apanya?" tumben sekali Rey lola di kasih kode.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️