
"Feeling orang tua kenapa sekuat itu untuk anaknya ya kak?"
"Kita akan begitu juga saat kita sendiri sudah menjadi orang tua Qai."
"Maaf kak, aku menceritakannya lagi." ucap Qai tak enak hati.
"Nggak masalah Qai. Aku suka kamu mulai terbuka. Yang terpenting setelah seluruh isi hati mu sudah kamu ungkapkan kamu bisa lebih mudah mengikhlaskan kenangan kamu sendiri. kemudian fokus hanya pada kita saja." Ucap Rey santai.
Qai merebahkan tubuhnya. Kepalanya berbantal paha Rey yang duduk bersandar. Tanan rey Langsung mengusap pucuk kepala Qai.
"Sepertinya kita harus beli kasur lantai Qai."
"Untuk apa kak?"
"Untuk tiduran disini sambil nonton TV. Kalau pakai karpet seperti ini tubuhmu pasti akan sakit semua."
.
.
.
Setelah solat subuh, Qai langsung keluar dari kamar. Ia menuju dapur dan langsung mengeluarkan ayam dari freezer. Merendam ayam dengan air agar cepat mencair dari bekuan.
Setelah itu Qai langsung mengambil beras dan langsung mencucinya. Setelah beras dicuci bersih Qai langsung memindahkan ke dalam magicom dan ditambahkan air kemudian ia masukan ke magicom agar masak otomatis.
Qai langsung mengeluarkan sayuran yang ia butuhkan saat ini. Dan menyiapkan bumbu yang akan ia haluskan.
"Masak apa?" tanya Rey tiba-tiba.
"Eh kak." Qai terkejut karena mendapatkan pelukan tiba-tiba dari belakang. "Aku mau masak sop kak."
"Oh..." Rey semakin mempererat pelukannya.
"Kak... kakak mau apa?" Tanya Qai gugup.
Bagaimana mungkin Qai merasa tenang saat tangannya terus membersihkan sayuran. Lalu mencuci semua yang akan ia masak. Rey terus mengecupi lehernya tanpa henti. Ia sudah yakin lehernya akan mendapatkan peninggalan perbuatan Rey saat ini.
"Ikat rambutmu saat masak sayang." Ucap Rey saat merenggangkan pelukannya dan langsung mengikat rambut Qai.
Rey tadi memang sengaja memawa ikat rambut Qai yang tergeletak diatas tempat tidur saat ia membereskan kamar.
Ucapan dan perbuatan Rey saat ini justru membuat Qai semakin salah tingkah. Beruntung Rey ada dibelakangnya, jadi tidak mungkin Rey mengetahui wajah merona Qai saat ini.
"Aku buang air cucian dulu kak." Ucap Qai saat mendengar mesin cucinya mati.
"Biar aku teruskan."
"Kakak sebaiknya istirahat lagi kak, nantikan kakak kerja. Biar aku yang selesaikan semuanya.".
"Akan lebih cepat dikerjakan bersama Qai."
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal itu, Rey langsung membuang air cucian pertama. Setelah air terbuang habis Rey mengisi lagi mesin cuci dengan air untuk membilas. Lalu menghidupkan kembali mesin cuci. Setelah itu Rey kedepan dan menyapu seluruh rumah.
Setelah Qai selesai masak, ia langsung masuk kedalam kamar. Terdengar gemericik air, artinya Rey sedang membersihkan diri. Qai langsung menuju lemari menyiapkan baju untuk Rey.
Tak perlu waktu lama Rey keluar dari kamar mandi.
"Kak bajunya." Ucap Qai sambil menunjuk baju Rey diatas ranjang.
"Terimakasih."
Qai langsung masuk kekamar mandi. Membersihkan diri secepat mungkin. Ia tidak ingin nanti saat Rey memeluknya, saat ia masih bau dapur.
"Kilat banget Qai mandinya?" tanya Rey heran. Ia sambil terus menatap pantulan tubuhnya pada kaca.
"Kita harus sarapan kak. Takut kakak kesiangan."
Qai langsung cepat mengambil baju didalam lemari dan langsung menggunakannya. Dan jangan lupakan parfum yang ia semprotkan keseluruh tubuhnya sebelum ia menggunakan baju tadi.
"Kamu mandi parfum Qai?" tanya Rey meledek karena keheranan sendiri.
"Memangnya kebanyakan ya kak?" tanya Qai sambil menyisir rambutnya. Rey hanya menganggukkan kepalanya. "Perasaan biasa aja." Jawab Qai.
Tanpa sadar sebanyak apa Qai menyemprotkan parfum. Karena yang ada di kepalanya, ia harus wangi saat nanti Rey memeluknya sebelum berangkat kerja.
Rey langsung mengikuti langkah Qai yang mengajaknya sarapan. Mereka langsung sarapan dengan tenang. Qai melihat Rey yang sangat menikmati apa yang ia masak pagi ini.
"Kemarin beli tempat bekal nggak Qai?" tanya Rey setelah meneguk air minum.
"Tolong buatkan bekal Qai. Masakan mu enak." Ucap Rey sambil melihat magicom. Mengecek apakah Qai masak nasi banyak.
Permintaan Rey yang sederhana itu sungguh membuat hati Qai berbunga. Masakan yang ia buat sesubuh tadi sungguh membuatnya sangat terkesan karena Rey meminta untuk dibuatkan bekal.
"Aku siapkan dulu ya kak."
Rey mengangguk. "Aku tunggu didepan ya." ucap Rey yang langsung berlalu.
Tak butuh Waktu lama Qai sudah menghampiri Rey yang sedang menggunakan sepatu.
"Mau dimasukin kedalam tas atau di gantung di motor kak?"
"Tolong masukkan kedalam tas saja Qai."
Qai langsung memasukkan bekal kedalam tas gendong Rey.
"Kak nanti aku keluar mau beli bunga sama tanah dan pot buat aku tanam ya." ucap Qai berpamitan lebih dulu.
"Iya. Lakukan apapun yang kamu suka sayang."
Ringan sekali Rey memanggil Qai dengan kata sayang. Membuat Qai yang sudah menyerahkan sisa perasaannya menjadi semakin berbunga saja.
Rey langsung berdiri dan langsung memeluk Qai. "Aku berangkat."
__ADS_1
"Hem..." Qai membalas erat pelukan Rey.
Rey langsung merenggangkan pelukannya dan langsung mengambil pelindung kepalanya yang wajib ia pakai kemana pun.
"Dia melupakan sesuatu." Batin Qai dengan wajah kecewa yang ia sembunyikan.
Rey yang akan melangkah menuju motornya langsung nerbalik menatap Qai di ambang pintu. "Aku tidak melupakan sesuatu tapi kenapa kamu tidak memintanya Qai?" tanya Rey sambil melangkah mendekati Qai lagi.
"Padahal aku sudah menunggu. Tapi ku pikir kakak lupa."
Rey mendorong tubuh Qai pelan agar mereka kembali masuk kedalam rumah. "Padahal aku menunggu kamu yang bertindak."
"Mana mungkin kak. Jelas aku malu."
Rey langsung menarik tubuh Qai agar semakin rapat. Tangannya menyentuk dagu Qai akar wajahnya mendongak menatapnya.
"Jangan hanya aku yang terus menguasai mu Qai. Kamu pun harus bertindak untuk menguasai ku. Karena kita saling memiliki."
"Kak..." lirih Qai.
Hati Qai semakin melambung karena Rey memperjelas bahwa dia adalah milik Qai.
Rey langsung bertindak dengan lembut sesuai dengan kesepakatan mereka. Hanya sebentar karena Rey langsung mengakhiri tautan mereka.
"Sudah cukup." Ucap Rey. Saat itu juga Qai langsung membuka kedua matanya.
"Bisa-bisa aku gagal kerja kalau kelamaan Qai." Ucap Rey sambil mengusap bibir Qai dengan ibu jarinya.
Berulang kali Rey mengusap bibir Qai dengan mata yang tertuju pada bibir yang tanpa disadari sudah saling membuat candu.
Rey tersenyum. Membuat Qai keheranan sendiri dengan perlakuan Rey yang belum juga beranjak mengusap bibirnya.
"Kenapa kakak tersenyum?" Akhirnya Qai penasaran juga.
"Berapa banyak magnet yang kamu simpan disini Qai?" tanya Rey sambil terus menngusap bibir yang merona.
"Maksud kakak?" jelas Qai tidak paham dengan ucapa Rey saat ini.
Rey menarik nafas dalam dan langsung menjauhkan tangannnya dari wajah Qai. Ia mundur satu langkah untuk memberi jarak.
"Aku berangkat sekarang." ucap Rey sambiil mengacak-acak pucuk kepala Qai.
"Jawab dulu kak." Pinta Qai yang masih penasaran.
Bukannya menjawab Rey lebih memilih tersenyum manis membuat Qai sendiri mematung karena matanya seolah terhipnotis.
"Aku berangkat sekarang."
"Hati-hati kak."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️