
Rey langsung memarkirkan motornya. Qai yang sedang mengobrol dengan ibu-ibu langsung pamit pulang lebih dulu.
"Kak."
"Qai." Rey memeluk Qai melakukan kebiasaan mereka begitu memasuki rumah. "Aku belikan ini. Aku mandi dulu ya." Ucap Rey setelah mengakhiri aktifitas mereka.
"Apa ini kah?" Tanya Qai sambil membuka kantong plastik. "Rujak serut." Ucap Qai senang.
"Kamu suka?"
"Banget kak. Terimakasih ya kak." Ucap Qai. Tanpa sadar Qai mendaratkan kecupan di pipi Rey. "Aku ke dapur kak."
Rey tersenyum menatap punggung Qai yang berlalu. Tanpa sadar kini ia sudah lupa kejadian beberapa saat lalu. Qai benar-benar menjelma sebagai penawar yang bekerja sangat cepat. Seolah tidak mengizinkan Rey memikirkan orang lain selain Qai sendiri.
Rey langsung menuju kamar mandi setelah menggantung tas dan jaketnya. Menyegarkan diri, membersihkan tubuh yang sudah seharian full bekerja.
"Aku sudah siapkan baju untuk kakak." Ucap Qai saat melihat suaminya keluar dengan tubuh segar.
"Terimakasih." Ucap Rey sambil mendekati Qai karena memang disanalah bajunya berada. Didekat duduknya Qai ditepi ranjang.
"Kak aku boleh peluk sekali lagi nggak?" Qai sepertinya tengah terhipnotis oleh da*da suaminya yang belum tertutup pakaian.
"Boleh." Rey langsung merentangkan tangannya.
Qai langsung berdiri. Menghambur ke pelukan Rey.
Tangannya melingkar erat seolah tidak mengizinkan Rey melepaskan pelukannya. Wajah Qai terus mengecupi dada Rey. Menghirup aroma sabun yang menyenangkan.
"Bisa-bisanya kamu menggodaku Qai." Batin Rey sambil tersenyum menyeringai.
Pelan tapi pasti, Rey langsung merebahkan tubuh Qai diatas kasur mereka. Rey langsung menerkam bi*bir merona yang selalu membuat matanya gagal fokus. Sedangkan Qai langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Rey.
Qai menekan kepala Rey agar aktifitas mereka semakin dalam. Jari-jari Qai menyusup ke sela-sela rambut Rey. Membuat lelaki yang sudah tergoda menjadi salah kaprah. Tapi ia berusaha menahan. Menikmati ini seadanya.
Kecupan Rey turun ke leher. Membuat jejak aktifitas yang membuat keduanya semakin panas dingin. Tangan sudah menyusup kedalam kaos Qai menggenggam sesuatu yang bisa ia mainkan.
Eeehhh...
Qai merintih. Ingin sekali masuk kepermainan namun semua harus berhenti karena mereka harus berpuasa selama beberapa hari ke depan.
"Kak. Kita harus berhenti sekarang." Lirih Qai dengan berat hati.
__ADS_1
Rey tersenyum ia langsung menghisap leher Qai kuat-kuat.
"Kakak." Pekik Qai.
Rey meninggalkan kecupan dibibir Qai. Ia langsung beranjak dari atas tubuh Qai. "Makannya jangan membangunkan siang kelaparan Qai."
Rey langsung mengatur nafasnya. Kemudian menggunakan semua pakaian yang seharusnya sudah ia gunakan sejak tadi.
Kini mereka duduk diteras rumah sambil menikmati seporsi rujak serut sambil menunggu maghrib.
Keromantisan bahkan terjadi diantara keduanya karena saat ini Qai yang tengah menyuapi Rey rujak serut.
Setelah solat magrib Rey dengan cepat mengajak Qai menuju dapur. Perkara tadi siang, makan siangnya terganggu. Membuat Rey tiba-tiba saja merasa kelaparan.
Sepiring nasi dengan sayur asam, sambel dan ikan emas goreng tersaji diatas meja. Rey makan dengan sangat lahap.
"Kakak ini kelaparan apa karna masakan aku enak?" Tanya Qai sambil mengambil nasi lagi. ini sudah nambah ketiga kalinya.
"Keduanya Qai." Jawab Rey singkat.
Setelah usai solat isa' Qai dan Rey tiduran didepan televisi. Melihat acara komedi untuk menemani keduanya.
Selain lelah seharian di kantor mungkin juga karena semalam ia tidak tidur lagi setelah memijat Qai.
Qai tertawa melihat acara yang ditayangkan. ia juga merasa heran kenapa hanya dirinya yang tertawa. Qai lengsung merubah posisi tidur menatap Rey. Tangan Qai membelai wajah lelaki yang sudah lelap entah sejak kapan.
Qai langsung beranjak menuju kamar mereka. Mengambil selimut untuk Rey. Setelah itu ia kembali lagi masuk kedalam kamar mengambil ponselnya. Karena Rey sudah tidur dipikir Qai ia ingin bermain riang dengan benda canggihnya.
"Siapa yang nelpon kak Rey?" gumam Qai saat melihat nomor baru menelpon ke nomor Rey.
Qai abai. Ia tidak ingin masuk keranah pribadi Rey. Karna yang ada dipikiran Qai takutnya yang menelpon itu adalah salah satu Custemer Rey.
Namun entah kenapa saat ponsel Rey berdering untuk kedua kalinya. Qai merasa terusik. Ia jadi penasaran siapa orang diseberang sana yang menelpon suaminya diluar jam kantor.
Meski ragu. Qai akhirnya mengambil ponsel yang masih diatas nakas. Ia langsung menggeser tombol warna hijau. "Ha..."
Belum sampai Qai menyapa, orang diseberang sana sudah memotong sapaannya.
"Han. Tolong dengar penjelasan ku. Aku mau kamu tahu yang sebenarnya." Ucap orang dari sebrang sana yang tak lain adalah Intan.
Jujur Qai terkejut. Siapa orang yang diseberang sana memanggil nama suaminya dengan sebutan Han. Dan apa yang ingin diperjelas. Qai memilih diam karena tiba-tiba rasa penasarannya memuncak.
__ADS_1
"Kamu ingat saat satu bulan lebih aku tidak menghubungi mu. Tiga tahun yang lalu itu, kak Tiara meninggal Han." Intan mulai menceritakan perihal kisah kakak yang ia miliki satu-satunya.
"Setelah melahirkan Kirana. Kak Tiara mengalami pendarahan." Suara Intan terdengar menahan tangis.
"Aku tidak tahu apa-apa. Karena saat kak Tiara melahirkan Kirana. Aku sedang kuliah. Dan saat sampai dirumah sakit kak Tiara sudah meninggal."
Intan menarik nafasnya. Merasa senang karena kini Rayhan mau mendengarkan penjelasannya.
"Setelah 40 hari meninggalnya kak Tiara. Keluarga ku dan keluarga mas fikri berkumpul. Mereka membahas tentang wasiat terakhir kak Tiara." Intan sudah tidak bisa menahah tangis.
"Mereka mau aku menikah denngan mas Fikri Han. Sesuai dengan wasiat kak Tiara sebelum meninggal. Aku sudah menolak karean aku sudah punya kamu. Tapi semua keluarga memohon dan meminta aku melakukan semuanya demi Kirana. Aku tidak punya pilihan lain Han. Aku menikah dengan melakukan perjanjian bahwa pernikahan ini hanya berjalan 3 tahun. Kurang beberapa bulan lagi Han, aku pasti kembali ke kamu."
"Saat aku pulang kemarin aku ingin menjelaskan semuanya. Tapi kamu malah meninggakan ku. Hingga akhirnya kita bertemu lagi dengan kamu sudah menikahi gadis lain." Intan menghela nafasnya.
"Aku cinta sama kamu Han. Sangat! Maka dari itu kita tetap berkomunikasi dengan sangat baik. Karena kamu yang aku mau menjadi suami ku. Bukan mas Fikri." Lirih Intan pilu.
"Aku masih milik mu. Aku masih utuh untuk kamu Han. Tolong percaya sama aku dan kita cari solusi yang terbaik untuk cinta kita."
Mendengar ucapan terakhir Intan. Membuat jantung Qai bekerja cepat sedang. Nafasnya terasa tercekat. Apa yang harus ia lakukan jika Rey tahu cerita ini. Tiba-tiba Qai menjadi tidak rela.
"Sebelum lebih jauh lagi. Aku mau kita kembali Han. Hanya beberapa bulan lagi aku dan mas Fikri bercerai. Aku sangat bersyukur karena akhirnya kamu mau dengar penjelasan aku Han." Ucap Intan penuh kelegaan.
Hening...
Qai tetap mematung duduk ditepi ranjang. Sedang benda pintar dalam genggaman Qai masih betah menempel pada telinga Qai. Ia masih ingin mendengar lagi apa masih ada yang ingin di jelaskan perempuan diseberang sana.
"Tolong katakana sesuatu Han." Pinta Intan penuh permohonan.
Hening...
Hening...
Hening...
"Apa ini Qai?" Tanya Intan tiba-tiba.
Sepertinya keheningan membuat Intan merasa janggal. Apa lagi saat mengiangat perjuangannya menghubungi Rayhan hingga beberapa kali ganti nomor.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1