
Sejak tadi Rey terus memeluk Qai dari belakang. Rey juga tidak mengizinkan Qai lepas dari pelukannya. Rey terus mengusap perut Qai sedangkan hidungnya terus mencium rambut panjang istrinya.
"Biarkan aku masak dulu kak." Ucap Qai sambil mengusap tangan Rey yang mengekang tubuhnya.
"Nanti kita beli makan diluar saja. Sudah lama kita nggak seperti ini."
Qai langsung balik badan agar bisa memeluk Rey dengan benar. Ternyata seperti ini adalah hal yang paling nyaman yang Qai mau saat berjauhan dari Rey.
"Aku nggak nyangka kita secepat ini di kasih anak Qai." Ucap Rey sambil mengusap kepala Qai dan sesekali mendaratkan kecupan disana.
"Alhamdulillah. Aku juga nggak nyangka kak."
"Kira-kira dia perempuan apa laki-laki ya Qai?"
"Memangnya kakak ingin anak laki-laki apa perempuan?" Tanya Qai sambil merenggangkan pelukannya agar mereka bisa saling menatap.
"Perempuan." Jawab Rey cepat.
"Kenapa?"
"Biar cantik seperti kamu." Jawab Rey sambil menarik pucuk hidung Qai.
"Dasar gombal kakak ini."
"Tapi apapun itu, mau perempuan atau laki-laki yang penting dia lahir sehat." Tutur Rey sambil membelai perut Qai. "Yang terpenting lagi istri dan anak aku selamat." Rey membawa Qai kedalam pelukannya lagi.
"Rasanya aku jadi malas kerja hari ini."
"Ih sudah mau punya anak kenapa kakak jadi malas kerja sih."
"Kasih aku ciuman dulu biar aku semangat kerja." Pinta Rey sambil menaikkan tubuh Qai agar wajah mereka sejajar.
"Boleh." Ucap Qai sambil menyentuh pipi Rey. Wajah Qai langsung mendekat sedangkan Rey langsung memejamkan mata siap menerima kecupan yang akan ia bawa menjadi suhu panas. "Tapi kakak harus cukur kumis dulu." Bisik Qai yang langsung menjauhkan diri dari Rey.
Bukan Rey kalau tidak bertindak cepat. Ia langsung membawa Qai dalam kunciannya. Tangannya menaikkan kaos yang digunakan Qai dan saat itu juga Rey mengusapkan kumisnya di perut Qai.
"Hahaha... ampun kak geli. Ampun." Ucap Qai sambil tertawa menahan geli dan berusaha melepaskan diri dari suaminya yang jelas tidak akan berhenti menggelitiknya.
Otaknya harus bekerja keras untuk mendapatkan ide yang brilian demi menyelamatkan diri. "Aduh kak." Pekik Qai sambil menyentuh perutnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Mana yang sakit?" Tanya Rey yang langsung menghentikan kejahilannya. Kini wajahnya sudah berubah panik takut terjadi apa-apa pada Qai dan calon anak mereka.
"Aduh." Keluh Qai sambil menekan perutnya dan turun dari atas ranjang. "Aduh ketipu kasian deh." Ucap Qai yang langsung berlalu keluar kamar.
Rey yang tadinya panik dan kini sadar kalau sedang di kerjai Qai langsung ikut turun dan mengejar Qai.
"Kakak." Pekik Qai terkejut karena Rey menangkap tubuhnya dari belakang.
"Dia beneran nggak apa-apa kan?"
"Aku hanya bercanda kak."
"Tapi itu nggak lucu Qai. Jangan diulang lagi."
"Maaf." Ucap Qai jadi tidak enak hati.
"Ayo kita beli nasi uduk untuk sarapan." Ajak Rey.
.
.
.
Setelah merasa penampilannya sudah rapih, Rey langsung menuju dapur karena Qai memang sedang ada disana.
"Lagi nyuci apa sayang?" Tanya Rey yang langsung memeluk Qai dari belakang.
"Ini buah ang, hoek... hoek..." Tiba-tiba saja Qai merasa mual.
"Kenapa sayang?" Tanya Rey yang mulai panik.
"Kakak jauh-jauh sana." Usir Qai sambil menutup hidungnya. Ia melangkah menjauhi Rey.
Loh kenapa sayang?" Bukannya pergi, Rey kembali mendekati Qai.
"Hoek. Kakak jangan dekat-dekat." Ucap Qai sambil menahan tubuh Rey yang ingin mendekatinya lagi.
Rey langsung berhenti. "Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Minyak wangi kakak bikin aku mual. Sudah sana berangkat kerja." Ucapan Qai malah seperti mengusir Rey agar cepat pergi. "Aku masuk kamar, kakak berangkat saja. Hati-hati."
Rey hanya bisa diam mematung melihat Qai memasuki kamar. "Ini gimana ceritanya?" Gumam Rey terheran-heran.
Jelas saja Rey keheranan dibuatnya. Padahal baru semalam mereka baikan dan itu pun semalam dia melihat Qai tidur dengan memeluk bajunya. Yang sudah pasti aroma minyak wangi masih tertinggal disana. Dan pagi ini istrinya mual-mual karena mencium aroma tubuhnya yang wangi semerbak. Sungguh ibu hamil tidak dapat di prediksi perubahannya.
Tok... tok... tok...
"Sayang." Panggil Rey mengetuk pintu kamar mereka. Pintu kamar bahkan sampai Qai kunci.
"Sudah kakak berangkat sana." Teriak Qai dari dalam kamar. Tangannya terus menyemprotkan pengharum ruangan agar wangi parfum Rey cepat hilang dari sana.
"Itu sayang, tas sama jaket aku masih didalam."
Qai langsung mengambil jaket dan tas Rey. "Ini." Ucap Qai sambil mengulurkan jaket dan tas bergantian. Dan jangan lupakan hidungnya yang dijepit. Entah menggunakan apa, Rey pun tak tahu.
"Peluk sebentar sayang." Pinta Rey sambil menahan pintu saat akan Qai tutup lagi.
"Nggak mau kakak baunya nggak enak. Sudah sana berangkat, nanti kakak telat."
Dan dengan terpaksa Rey menyudahi permintaannya. Untuk segera pergi bekerja. Padahal tadi rencananya dia ingin berlaku seperti biasanya.
Pelukan dan berciuman sebelum dan sesudah bekerja. Tapi semua rencananya gagal total karena kini minyak wangi mengancurkan semua rencana yang sudah tertata rapih.
Tidak ingin meratapi kesialan dipagi hari Rey memilih untuk segera berangkat kerja.
Bersambung...
Curhat sebentar ya 😓
Jadi ceritanya dari kemarin Sampek hari ini aku tu nggak fokus nulis. Bukan karena nulis 2 novel ongoing karna sebelum ada novel "Dikira Janda" juga aku sudah nulis novel ini sama "Hujan, beri aku cinta". Dan menurut ku keduanya berjalan baik-baik saja🥰
Tapi nggak tahu kenapa ini otakku tiba-tiba ngeblank sendiri karena aku malah kepikiran sama Arjuno dan Zantisya 🤕 mungkin aku author yang terlalu cinta sama karya sendiri jadi aku baca ulang tu novel yang jauh dari kata sempurna. Akibatnya ide ku di novel ini bener2 ilang gitu aja gara-gara yang melayang di kepala ku itu konsep novelnya Zen dan Ruby, belum lagi kepikiran sikap posesifnya Arjuno sama anak perempuan satu-satunya. nah kenapa aku spoiler ide ku😭😭😭 aku Sampek mikir ini nanti kalau novel 2 bocah ini gak sesuai ekspektasi ku, aku bakal kecewa karena udah ngorbanin ide ide ku di novel ini yang ilang begitu aja😭 Aku galau banget niatnya aku hari ini mau nggak nulis tapi aku pengen cepet nyelesaikan cerita ini karena sebentar lagi puasa. Tapi ini otaku bener2 nggak mau di ajak kompromi 😭
Aku minta maaf banget ya, semoga bab ini masih dapat feel nya 🙏 dan juga kalau besok aku nggak update dulu aku minta maaf ya🙏 semoga dengan hari ini aku gak duduk depan laptop bisa jernihin kepala ku lagi 😌
lope banyak banyak buat kalian yang sudah setia sama karya aku yang hanya seperti ini 💜💜💜❤️❤️❤️ terimakasih sudah mau membaca keluh kesah ku🙏
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1