
Hampir setiap hari Rey berangkat ke kantor dengan membawa berbagai jenis peyek buatan Qai. Teman-teman sekantor Rey sepertinya terhipnotis dengan jualan istrinya kini.
Qai belajar membuat peyek dari ibu Yani. Saat terakhir pulang waktu itu, tiba-tiba saja Qai mendapat ide untuk berjualan peyek. Ia langsung belajar dengan bu Yani, karena ide cemerlangnya lahir saat ia ngemil peyek buatan mertuanya itu.
Sebenarnya Rey tidak tega dengan Qai yang harus bersusah payah mencari uang. Apa lagi kini perutnya sudah semakin membuncit. Karena kini usia kandungan Qai sudah enam bulan.
Meski Rey bekerja seorang diri untuk kehidupan mereka berdua, eh bertiga dengan calon anak mereka kelak, gaji Rey masih tercukupi walau Qai tidak bekerja.
Tapi Rey harus menghargai keinginan istrinya. Rei tidak ingin Qai jenuh menunggunya terus menerus seorang diri dirumah dengan aktifitas rumahan yang mungkin saja membosankan bagi Qai.
Yang terpenting bagi Rey, Qai tidak memaksakan diri. Harus istirahat saat waktunya istirahat. Harus berhenti jika memang sudah lelah. Karena saat Rey keluar dari rumah, itu Artinya Qai sendiri yang bisa menjaga diri Qai.
"Ibuuu..." Teriak Qai saat panggilan videonya sudah di terima diseberang sana.
Jika orang berfikir itu ibu kandung Qai, apa lagi dengan cara Qai berbincang dengan sangat manja. Tentu saja itu salah. Karena kini Qai lebih rutin menghubungi ibu mertuanya, ibu Yani.
Rey yang baru keluar dari kamar mandi sampai terheran karena Qai berteriak sambil menatap layar ponselnya.
"Nelpon siapa yang?" Tanya Rey pelan.
Qai hanya menoleh sebentar pada Rey. "Ibu, wajah Qai keluar bintik-bintik hitam. Qai jadi jelek. Hua..." Adu Qai dramatis pada ibu Yani di seberang sana.
Semenjak kehamilan Qai masuk lima bulan lebih. Wajah Qai keluar bintik-bintik hitam. Meski tidak banyak, tapi itu jelas sangat mengganggu bagi Qai. Apa lagi ia memang jarang sekali jerawatan, wajahnya yang mulus kinclong seperti piring selesai di cuci itu kini berhias seperti langit ada bintangnya.
Meski kata bidan dan dokter itu karena bawaan kehamilan, itu tidak memuaskan hati Qai. Rey sampai mengantarkan Qai kedokter kulit agar mendapatkan penanganan yang tepat. Tapi lagi dan lagi, Qai mendapaatkan jawaban yang sama. Bahwa bintik-bintik itu karena bawaan hamil. Wajahnya akan kembali bersih saat usai melahirkan nanti.
"Tetap cantik kok." Puji bu Yani lembut. Ia sudah paham jika Qai pasti akan mengadukan apa yang mengganjal di hati Qai.
"Ah ibu sama kak Rey pasti hanya menyenangkan hati Qai kan bu."
Duh gemesnya bu Yani pada menantu perempuannya ini. "Qai kan memang cantik, dulu ibu malah dari awal hamil bintik-bintik hitam begitu saat hamil Rey." Cerita bu Yani.
"Terus waktu sudah lahiran benar hilang bu?" Tanya Qai serius pada yang lebih pengalaman.
"Hilang nak. Saat Rey Lahir, bintik-bintiknya perlahan hilang. Setelah selesai nifas wajah ibu sudah bersih lagi."
"Berarti Qai harus sabar dong bu."
"Iya nak. Oh iya Hari ini dapat pesanan enggak peyeknya?"
"Oh iya dapat bu. Qai mau ngepak peyek dulu ya bu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
__ADS_1
"Ck ck ck tapi nelpon pertama gak salam sekarang salam. Duuhhh... Gemes sama mantu satu ini." Gumam Bu Yani di seberang sana.
"Ayo yang solat magrib dulu."
Setelah solat magrib dan makan malam, Rey dan Qai langsung mengepak peyek buatan Qai tadi siang.
"Biar aku yang masukin ke plastik, sayang tiduran saja sambil lihat tivi."
"Kalau dikerjakan bersama pasti cepat selesai kak."
Qai bagian yang memasukkan peyek kedalam plastik, sedangkan Rey bagian mengeratkan plastik pada api lilin.
Qai membuat empat jenis peyek. Peyek kacang tanah, peyek ikan teri, peyek udang rebon, dan peyek ikan teri campur kacang tanah.
"Sayang masih kuat buat peyeknya?"
"Aku akan istirahat kalau aku dan anak kita lelah kak."
Rey mengangguk. "Ibu pemilik warteg dekat kantor itu pesan tiga ikat lagi yang."
"Alhamdulillah. Besok aku buatkan lagi kak."
"Kalau memang butuh tenaga tambahan, coba cari ibu-ibu didaerah sini yang butuh pekerjaan yang. Biar sayang nggak terlalu capek."
"Ya nanti yang gajinya motong pake uang tabungan bulanan kita yang."
"Aku fikirkan lagi nanti kak. Aku rasa juga aku belum butuh-butuh amat."
Setelah semua peyek selesai dipacking Rey langsung memasukkan semuanya ke dalam kantong plastik besar. Siap ia bagikan besok saat sampai di kantor. Sedangkan sebagian lagi adalah pesanan ibu-ibu tetangga disini.
"Capek ya?" Tanya Rey yang baru masuk ke dalam kamar. Ia langsung naik keatas ranjang dan langsung memangku kedua kaki Qai untuk ia pijat.
"Kakak tiduran saja, aku memang ingin memijat kaki ku kak, bukan karena capek."
"Aku juga ingin memijat kaki istri aku."
"Kakak pasti capekkan. Sudah seharian di kantor, malam masih harus bantuin aku ngepack peyek."
"Capek akan hilang kalau kita melakukannya ikhlas yang. Yang penting bagi aku sayang senang, dan jangan memaksakan pekerjaan apapun kalau memang lelah. Ingat, sayang nggak wajib mencari nafkah karena memang itu sudah jadi tugas ku."
"Uuuhhh... sweetnya suami idaman aku. Sini peluk." Ucap Qai sambil merentangkan tangannya.
Rey langsung merebahkan tubuhnya dan membawa Qai dalam pelukannya. "Anak siapa ini coba gerakkan kuat banget." Ucap Rey saat perut Qai menempel pada perutnya.
__ADS_1
"Apa kakak sudah lupa dengan perbuatan kakak sendiri?"
"Kok jadi aku yang?"
"Lalu kalau bukan kakak memangnya siapa yang suka usilin aku?"
"Kan kita buatnya bareng-bareng jangan lupa loh yang."
"Kakak mau kemana?" Tanya Qai saat Rey melepaskan pelukannya.
"Peluk anak lah. Gantian yang."
Rey pindah posisi kebawah. Wajahnya sejajar dengan perut Qai yang buncit. Tangganya menaikkan dater yang di kenakan Qai agar ia bisa langsung menciumi perut Qai yang menggemaskan.
"Gerakannya makin cepat kalau aku ciumi yang."
"Itu Artinya dia senang mendapatkan sentuhan dari ayahnya." Jelas Qai karena memang sudah kebiasaan Rey yang selalu mencium dan mebelai perutnya.
'Berarti lebih senang lagi kalau rajin di tengokin ayahnya yang." Kode Rey meresahkan.
"Maksudnya?" Qai yang sejak tadi asik bermain ponselnya jadi nggak nyambung dengan kode rahasia pasangan suami istri.
"Maksudnya ini." Jelas Rey sambil menyentuh milik Qai dibawah sana.
"Ih kakak modus terus."
"Mau enggak?" Tanya Rey sambil tangannya bergerak menaikkan daster Qai agar ia bisa bermain dengan dua lembah yang sama. Qai nurut-nurut saja dengan kelakuan Rey.
"Mau tapi ada syaratnya kak."
"Syaratnya apa?" Tanya Rey setelah melepaskan aktifitas mulutnya.
"Aku ingin ini kak." Ucap Qai sambil menunjukkan gambar yang ada di layar ponselnya.
"Yang ini sudah krusial loh. Kita main dulu ya?" Rayu Rey yang sudah on.
Qai menggelengkan kepalanya. "Aku butuh tenaga untuk meladeni kakak."
Meski jam sudah menunjukkan pukul 22.14 WIB. Tapi Rey tetap saja menuruti Qai yang ingin makan capjay di tempat. Ini mah sudah pasti gagal niat terselebungnya tadi.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1