
Sejak tadi Qai hanya duduk di tepi ranjang sambil menatap kopernya yang sudah berisi semua pakaiannya. Jika awalnya niat ingin pulang menggebu memenuhi keinginan hatinya. Kini nyalinya menciut lagi saat teringat ucapan Rey yang masih mencintai Intan.
"Sudah terlanjur aku packing. Aku harus kemana ini?" Batin Qai bingung.
Qai langsung mengambil dompetnya dan melihat sisa uangnya. "Tinggal 750.000." Gumamnya.
Tangan Qai melihat benda pipih yang diberikan Rey padanya disaat awal pernikahan. Gaji yang mereka kumpulkan setiap bulannya. Qai mengambil benda pipih itu dari dalam dompetnya.
"Hahaha... apa cuma aku yang akan menggunakan uang suami ku setelah pergi dari rumah tanpa pamit?" Tanya Qai sambil menertawakan diri sendiri.
Ia langsung beranjak untuk cepat menuju ke suatu tempat yang ia inginkan saat ini. Masa bodoh lah dengan uang Rey yang akan ia gunakan nanti. Yang penting sekarang ia harus pergi ke tempat tujuannya sekarang.
"Kalau nggak nanti aku pinjam uang Nana atau minta sama ayah saja." Gumam Qai enteng.
.
.
.
Rey tetap tidak beranjak setelah klien yang ia temui di sebuah restoran telah pergi meninggalkannya. Ia masih diam mematung dengan pikirannya sendiri. Tangannya terus mengaduk-aduk jus yang ada didepannya menggunakan pipet. Matanya bahkan sampai tak berkedip.
"Kenapa sejak tadi menatap ku Rey?": Tanya seorang perempuan yang sudah duduk di depan Rey.
Tapi Rey masih tidak bergeming karena masih tetap diam dengan pikirannya sendiri. Sedangkan matanya seperti sedang menatap lekat perempuan yang kini sudah duduk didepan Rey.
"Rey."
Rey langsung tersadar dari kediamannya saat tangannya disentuh perempuan dihadapannya. Spontan Rey menarik tangannya saat sadar siapa yang menyentuhnya.
"Ngapain kamu disini?"
"Aku kesini karena aku ingin." Jawan Riska. Padahal ia memang sengaja mengikuti Rey saat ia tahu Rey akan keluar dari kantor. "Aku dengar istri mu pergi dari rumah." Ucap Riska kemudian memberikan senyum menawannya.
"Lalu apa urusanmu?" Tanya Rey.
Ia tidak perduli Riska tahu dari mana kalau Qai pergi dari rumah. Yang ia tidak suka sepertinya perempuan didepannya ingin ikut campur dengan urusannya. Atau malah mau menambah masalah.
"Mau bersenang-senang dengan ku?" Tawar Riska langsung ke intinya.
Rey tersenyum sinis melihat senyum menggoda yang diberikan Riska padanya. "Apakah aku terlihat seperti orang yang butuh kesenangan?" Tanya Rey dengan nada dinginnya.
"Mungkin tidak, mungkin juga ya. Tapi setidaknya kamu akan lebih Fress saat setelah menghibur diri."
"Jika ingin menjual diri jangan dengan ku nona. Aku tidak punya cukup uang untuk membayar mu." Ucap Rey terang-terangan dan langsung pergi meninggalkan Riska.
"Sepertinya aku salah target." Batin Riska kesal. "Tapi dia begitu menawan." Gumamnya dengan bayangan nakal yang sudah penuh di kepalanya.
.
__ADS_1
.
.
Sudah genap satu bulan Qai meninggalkan rumah. Dan sudah hampir dua minggu ia berada di hotel yang pernah ia singgahi bersama Rey dulu.
Jika dulu ia dan Rey mengambil kamar yang harganya paling mahal sekarang ia mengambil kamar yang murah-murah saja. Toh untuk ia sendiri.
Tapi meskipun murah nyatanya uang Qai tidak cukup untuk membayar berapa lama ia menginap di hotel ini.
"Apa aku harus menggunakan uang kak Rey dulu.' Gumam Qai sambil terus membolak balik benda pipih dalam pegangannya.
Walau kartu ada padanya dan aplikasi terpasang di ponselnya. Tapi semua transaksi pasti akan masuk ke Email Rey. Qai langsung menggelengkan kepalanya kuat. Malu-maluin banget sudah pergi dari rumah tapi masih menggunakan uang Rey sesukanya.
Qai langsung mengambil ponselnya dan mengaktifkan kembali ponselnya. Setelah data aktif, seketika itu banyak pesan yang masuk secara beruntun. Qai abai saja tidak perduli siapa yang mengiriminya pesan. Karena tujuannya adalah menelpon Nana.
Diseberang sana Nana yang baru pulang kerja langsung mengambil ponselnya yang berdering didalam tasnya.
"Qai." Gumamnya yang langsung menerima panggilan dari sahabatnya yang sudah lama tidak memberinya kabar.
Nana : "Qai, akhirnya kamu hubungi aku juga. Kamu dimana Qai?" Nada suara Nana sangat khawatir.
Qai : "Aku ada di hotel x Na. tolong pinjami aku uang Na. aku ingin pulang dari sini tapi aku nggak punya uang untuk membayar semuanya." Ucap Qai memelas.
Nana : "Kamu mau pulang kemana?" Tanya Nana mulai kesal.
Qai : "Ya kerumah lah."
Qai : "Ibu." Jawab Qai pelan.
Nana : "kamu anggap aku ini apa sih Qai? Kenapa nggak cerita kalau ada masalah. Biar dapat solusi agar kamu dapat jalan keluarnya dari kesalah pahaman kamu." Meski Nana tidak tahu apa masalah Qai dan Rey namun yang ia tahu dari Rey kalau Qai salah paham.
Qai : "Aku nggak salah paham Na. Mereka pelukan dan bilang kalau mereka saling cinta."
Nana : Mendengar kata mereka kini Nana paham kemana arah yang di maksud Qai saat ini. "Sebenarnya apa masalah kalian Qai?"
Qai : "Aku lihat mereka bicara di taman Na. Mantannya bilang kalau dia masih cinta kak Rey sambil meluk kak Rey. dan kak Rey juga bilang kalau masih cinta sama dia." Tutur Qai menjelaskan.
Nana : "Lalu apalagi yang mereka bicarakan selain itu?" Nana jelas merasa janggal. Karena melihat Rey saat menemuinya, sangat terlihat jelas kalau lelaki itu sangat memcintai sahabatnya.
Qai : "Aku langsung pergi begitu saja. Karena nggak bisa mendengarkan ucapan mereka selanjutnya."
Nana : "Apa Rey membalas pelukan Intan saat dia dipeluk mantannya?"
Qai : "Enggak. Kak Rey langsung lepasin dan mereka saling pandang dan bilang kalau kak Rey juga masih cinta."
Nana : "Dasar kekanakan. Rey bahkan tidak membalas pelukan Intan, dan kamu juga tidak mendengarkan semua pembicaraan mereka. Kamu boleh pergi jika kamu mergoki Rey berlaku sama seperti saat kamu melihat Ferdi, Qai. Cepat pulang kerumah suami kamu sekarang. aku akan transfer uangnya."
Qai : "Aku nggak mau Na."
__ADS_1
Nana : "Kamu tega nyiksa Rey seperti sekarang ini. Asal kamu tahu Qai, Rey nyari kamu kemana-mana sampai tidak tahu waktu. Dia bahkan terlihat berantakan karna kamu Qai. Kamu itu istrinya, apa kamu nggak bisa ngerasain kalau dia cinta sama kamu? Aku yang bertemu beberapa kali saja tahu kalau dia tulus sayang dan cinta kamu. Bo*doh banget sih aku punya temen."
Qai : "Jadi kak Rey nyariin aku Na?" Tanya Qai tak percaya.
Nana : "Apa aku terdengar seperti orang yang sedang berbohong. Berapa uang yang kamu butuhkan aku kirim sekarang, kalau uang ku kurang, aku pinjam ke ayah dulu."
.
.
.
Brak...
Tiba-tiba saja Rey terjatuh dari motor karena oleng saat di pengkolan. Rey menghindari kucing yang tiba-tiba saja melintas. Karena takut terlindas olehnya, Rey langsung membelokkan setir motornya.
"Astaghfirullah mas Rey." Pekik bapak-bapak yang masih kumpul di depan warung ibu Tri.
"Aw..." Rintih Rey karena kakinya terlindas motor dan terbentur batu yang ada disana.
Bapak-bapak yang berkumpul langsung menolong Rey. Segera bapak-bapak memapah Rey kerumah ibu Tri.
Rey langsung meninggikan celananya setelah melepas sepatunya. Melihat beberapa goresan yang ada di kakinya.
"Kok bisa jatuh to mas?" Tanya pak Ruslan.
"Ada kucing lewat tiba-tiba pak. Aduh..." Rintih Rey saat pak Amir menyentuh kakinya.
"Terkilir ini mas. Ayo bapak-bapak kita antar mas Rey kerumahnya. Nanti bapak pijit mas biar nggak sakit lagi." tutur pak Amir yang punya keahlian memijat.
Pelan-pelan bapak-bapak memapah membantu Rey pulang kerumah. Sesampainya pak Amir langsung memijat kaki Rey yang terkilir.
"Mbak Qai lama juga yam as pulang kampungnya?" Tanya pak Imam.
"Iya pak."
"Kasian mas Rey nggak ada Mbak Qai makin kurus saja." Ucap pak topik.
"Nanti kalau acara dirumah selesai juga Qai pasti langsung pulang pak." Tutur Rey.
"Kalau begitu kami pulan yam mas." Pamit pak Ruslan.
"Terima kasih ya bapak-bapak."
Rey kembali merebahkan tubuhnya dikasur yang ada di depan televisi. Merasakan tubuhnya yang lelah dan sekarang kakinya terkilir. Lengkaplah sudah penderitaan.
"Pasrah aku Qai kamu mau pulang atau nggak terserah." Gumam Rey sabil menutup matanya.
Tangan Rey langsung mengambil ponsel yang ia letakkan di bawah bantal. Melihat siapa yang menelponnya sekarang. "Nana." Gumam Rey.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️