
Setelah rumah sudah beres, kembali bersih dan rapih. semua orang langsung istirahat didalam kamar.
Pak Abdul dan Ahmad tidur di depan ruang tv. Bu Yani, Bu Wirda, Ratna, dan Ratih tidur satu kamar. Rey sudah membelikan kasur tambahan, agar tidak ada yang tidur di lantai.
Semua orang cukup mengerti, namanya juga Rey dan Qai tinggal di sebuah perusahaan dengan ruangan yang terbatas.
Sedangkan kini, Qai nampak kembali terjaga karena Ren menangis. Qai langsung cepat bangun untuk memeriksa popok lalu memberikan Ren asi. Berharap Ren kembali tenang agar suara tangisannya tidak sampai membangunkan Rey atau pun yang lainnnya.
"Cup sayang. cup... cup..." Ucap Qai sambil memasukkan kembali pusat produksi asi, karena Ren tidak mau menyesap.
Rey yang baru mendengar suara tangis Rey pun langsung bangun seketika.
"Ren kenapa yang?"
"Nggak tahu kak, sudah aku sudah ganti popoknya lalu aku kasih asi nggak mau."
"Sini-sini Ren sama ayah." Ucap Rey sambil mengambil alih Ren.
Rey langsung turun dari atas ranjang untuk nenimang Ren yang berada di gendongannya. Hanya beberapa menit saja, Ren kini nampak tenang dengan mata yang mengerjap-ngerjap.
"Ren mau di gendong ayah ya." ucapnya sambil menatap Ren yang mulai tenang.
Qai langsung turun saat Ren sudah tenang. "Sini kami, biar aku yang gendong. Kakak tidur lagi saja."
__ADS_1
"Sudah yang, kamu cepat tidur sana." Perintah Rey.
"Tapi kak."
"Tapi apa? Inget kata bidan kemarin yang, kalau kamu itu harus istirahat yang cukup biar asi kamu terus lancar. Kamu juga jadi gak gampang sakit."
"Tapi nanti kakak ngantuk loh."
"Nanti kalau Ren sudah nyenyak aku pasti langsung tidur juga yang."
Qai tersenyum mendengar ucapan Rey. "Kak, nunduk sini aku bisikin."
Rey mematuhi perkataan Qai Karena kini Rey langsung membungkuk.
Bukannya membisikkan sesuatu kata atau ucapan di telinga Rey, Qai malah memberikan kecupan pada pipi Rey.
Justru hal itu membuat Rey terkejut. Bagaimana tidak, disaat mata Qai yang jelas terlihat mengantuk, masih sempat Qai melakukan hal manis untuk Rey.
"Terimakasih kak." Ucap Qai sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Qai juga langsung naik kembali keatas tempat tidur tanpa mengucapkan kata lagi.
Rey tertegun menatap Qai yang sudah menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Ren lihat. Ibu malu-malu marmut setelah bikin ayah dag dig dug."
Mendengar ucapan Rey barusan, Qai langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tapi hanya beberapa menit ia seperti merasakan perasaan yang unik. Karena setelah itu, ia kembali hanyut ke alam mimpi. Mungkin karena Qai benar-benar terlalu mengantuk.
Sudah setengah jam Rey menimang Ren, sampai bayi itu benar-benar lelap kembali. Pelan-pelan Rey meletakkan Ren kembali di posisi tempat tidurnya di antara dirinya dan Qai.
Setelah di rasa posisi Ren benar, Rey mendekati Qai. Rey membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya.
Rey menatap dalam wajah Qai yang polos tengah hanyut dalam mimpi. Tangan Rey mengusap pelan wajah Qai yang tenang.
Senyum Rey terbit saat ibu jarinya berhenti tepat pada bibir Qai yang setiap hari selalu ia nikmati. Pusat magnet yang seolah meminta Rey untuk terus datang menghampiri.
"Terimakasih sudah membuat aku bahagia. Seandainya aku tahu lebih awal akan sebahagia ini bersama kamu. Aku pasti akan menemukan mu lebih awal. Tapi nyatanya, kita di satukan dengan takdir untuk sama-sama menjadi penawar bagi diri kita." Gumam Rey masih menatap intens wajah Qai yang lelap.
Rey mencium kening Qai, lalu hidung, kemudian bibir Qai. Tangan Rey mengusap pucuk kepala Qai.
"Aku harap kita akan bahagia dan semakin bahagia kedepannya nanti bersama anak-anak kita." Gumam Rey lagi. Sepertinya ia tidak menyadari saat menyebutkan kata anak-anak. Karena itu artinya Rey masih ingin punya tambahan anak lagi.
Bersambung...
Maaf ya ReQa baru menyapa lagi 🙏🙏🙏 apa aku tamatin sampai disini saja ya biar kalian gak nunggu lama-lama cerita yang sederhana ini ,🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1