
Lelah hati, lelah pikiran, lelah raga. Mungkin hanya itu yang bisa menjadi gambaran kecil untuk menjabarkan keadaan Rey saat ini.
Sesekali ia tertawa miris dengan keadaannya sekarang. Sedangkan tangannya terus bergerak menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya ia masih kepikiran ingin makan nasi goreng kambing.
Rasa inginnya sampai tidak bisa Rey tahan lagi. Padahal ia tadi baru pulang menyusuri tempat yang mungkin saja disana ada Qai. Beruntung ia hidup di kota. dimana banyak pedagang yang menjual makanan sampai tengah malam.
Rey langsung membuang bungkus nasi goreng kedalam tong sampah. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk menggosok giginya lagi.
Rey terus menatap sisi kasur dimana ia sudah merebahkan tubuhnya yang setiap hari menahan lelah.
"Aku harus cari kamu kemana lagi Qai." Gumamnya.
Rey mulai menutup matanya. Rasanya jika sudah seperti ini Rey ingin sekali marah. Tapi mau mengumpat pun percuma. "Jangan salahkan aku jika emosiku meledak kapan saja Qai."
.
.
.
Hari ini Rey full di kantor. Entah sebuah keberuntungan dari mana, karena hari ini Rey banyak mengurusi PO dari para customernya. Padahal ia sedang tidak fokus bekerja, menawarkan produk besi alakadarnya. Mungkin ini yang namanya rezeki tidak akan kemana.
"Mau makan di kantin kantor atau keluar bro?" Tanya Rahmat sambil berkemas menata berkas yang ada di meja kerjanya.
"Aku ngikut sajalah cuy." Ucap Mansur.
"Aku sesatkan juga masih mau ikut kamu Man?" Tanya Rahmat.
"Ogah. Ya kali di ajak nyelam laut masih mau-mau saja. maaf, anak istri ku masih butuh aku." Tutur Mansur.
"Kita makan diluar kantor saja yuk. Cari angin." Ucap Rey.
Baik Mansur maupun Rahmat hanya menatap heran melihat Rey yang sedang makan karedok. Karedoknya sih nggak masalah, yang jadi masalah itu Rey nya. Karena setahu mereka berdua Rey jarang sekali makan makanan pedas.
"Kamu kesambet apa Rey?" Tanya Mansur saat melihat Rey yang lahap makan dan sesekali mengusap keringatnya dengan tisu.
'Kesambet setan empang yang mati penasaran." Jawab Rey asal. "Kalian nggak makan?" Tanya Rey melihat heran dua temannya. Bukannya cepat menghabiskan makanan yang ada didepan mereka tapi kini kedua temannya malah menontonnya yang sedang makan secara live.
"Ngeri aku woy." Bisik Rahmat.
__ADS_1
"Sama." Ucap Mansur pro.
.
.
.
Setelah jam pulang kerja Rey tidak langsung pulang kerumah. Rey ingin mencoba mencari Qai di daerah penginapan dekat sebuah wisata yang pernah mereka kunjungi. Jarak sudah bukan menjadi alasan Rey untuk berhenti mencari Qai.
Apa lagi sampai saat ini, Qai belum juga pulang kerumah orang tuanya. Setiap dua atau tiga hari sekali Rey selalu menghubungi pak Abdul. Siapa tahu ia akan mendapat Wejangan karena Qai pulang tanpa dirinya.
Sudah sampai tengah malam, Rey tidak mendapatkan hasil apapun. Entah berapa tempat penginapan yang ia datangi. Menanyakan identitas Qai siapa tahu ada disalah satu penginapan disana. Namun hasilnya tetap saja nihil.
Rey langsung masuk kedalam rumah begitu sudah sampai. Merebahkan tubuhnya di kasur yang ada di depan televisi.
Tangan Rey merogoh saku celananya. Mengambil satu bungkus rokok dan korek yang ia beli di mini market. Rasanya sudah sangat frustasi. Sudah kehabisan akal mau kemana lagi ia menyusuri tempat dengan hasil yang terus saja nol.
Sebatang rokok sudah berada diantar bibir Rey. bahkan tangannya sudah siap untuk menghidupkan korek api. Tapi jari Rey masih diam tidak melanjutkan tugas selanjutnya.
Rey langsung mematah batang rokok lalu melemparnya kesembarang tempat. Mengingat ucapan Qai yang tidak suka jika ia merokok membuatnya tidak melanjutkan pelampiasan kekesalannya.
.
.
.
Meski jam sudah menunjukkan pukul 02.37 WIB. Tapi mata Qai masih enggan terpejam. Matanya fokus menatap langit-langit kamar kostnya. Sedangkan tangannya terus membelai perutnya yang masih rata.
"Apa aku harus menggunakannya untuk mencegak kak Rey kembali dengan mantannya." Gumam Qai. Ia menghela nafasnya yang terasa berat. "Aku bisa apa jika mereka saja masih saling mencintai." Gumamnya lagi sambil memejamkan matanya.
Qai langsung mengambil ponselnya yang ada diatas meja kecil. Ia langsung membuka layar kunci ponselnya. Wajar jika siapa saja tidak bisa menghubungi Qai. Karena kini ponselnya di mode pesawat.
Qai langsung membuka aplikasi galeri. Ia melihat banyak foto dan video kebersamaannya bersama Rey. tiba-tiba saja air matanya mengalir. "Aku mau di peluk kakak." Ucapnya saat melihat foto selfinya yang sedang dipeluk Rey.
"Bagaimana bisa aku menganggap tatapan kakak begitu sangat mencintai aku. Apa kakak seorang artis yang bisa berakting." Qai menghela nafasnya.
Qai langsung turun dari atas kasur. Ia langsung mengambil kopernya dan langsung memasukkan lagi semua pakaiannya kedalam koper. Rasa rindu yang sudah memenuhi rongga dadanya sudah tidak bisa Qai tahan lagi.
__ADS_1
.
.
.
Samar-samar Rey mendengar adzan subuh. Ia langsung mengerjapkan matanya. Pelan-pelan kelopak matanya mulai terbuka. Melihat langit-langit kamarnya yang jelas sama saja.
Rey langsung beranjak dari atas tempat tidur saat hidungnya mencium bau harum yang membuat perutnya keroncongan.
Bau yang sangat menggugah selera yang sudah lama tidak Rey cium selama Qai pergi meninggalkan rumah ini.
Rey langsung melangkah lebar saat melihat sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang telah ia cari kemana pun tempat yang mungkin saja disana istrinya bersembunyi.
"Akhirnya kamu pulang sayang." Ucap Rey yang langsung memeluk Qai erat. Sangat erat karena Rey takut Qai akan meninggalkannya lagi.
"Jangan erat-erat kak peluknya. Pengap." Keluh Qai karena mendapatkan dekapan yang mengekang tubuhnya.
"Aku takut kamu tinggalin aku."
"Aku nggak akan pergi lagi kak." Ucap Qai.
Rey langsung merenggangkan pelukannya. Membalik tubuh Qai agar mereka saling berhadapan. Kedua tangan Rey menangkup wajah Qai agar fokus melihatnya.
"Dengarkan baik-baik Qaila Zarina. Aku cinta kamu. Entah mulai kapan aku tidak tahu. Kamu salah paham soal Intan. Aku nggak akan mungkin ingkar janji dengan istri ku sendiri. Aku benar-benar cinta kamu Qai. Tolong jangan pernah tinggalin aku lagi."
Qai mengecup bibir Rey sejenak. Kemudian senyum menghiasi wajah cantiknya. "Aku tahu, makannya aku pulang karena aku sadar kakak mencintai aku. Selain itu juga, sebagai istri aku harus mempertahankan suami aku dari siapa pun yang ingin merebutnya. Aku nggak mau kehilangan kak."
Rey langsung memeluk Qai erat. Sangat erat sampai pelukannya terasa berbeda. Rey langsung membuka kedua matanya untuk melihat Qai lagi.
Seketika Rey hempaskan begitu saja, saat sadar bukan Qai yang ia peluk. Tapi bantal guling. Rey langsung duduk.
"Astaghfirullah." Dengan kasar kedua tangannya mengusap wajahnya. "Hahaha..." Rey menertawakan dirinya sendiri. "Kamu benar-benar berhasil menyiksaku di kehidupan nyata sampai ke alam mimpi Qai." Ucap Rey dengan amarahnya sendiri. "Aku bukan orang baik yang selalu saja bisa sabar Qai."
Bersambung...
Jangan lupa mampir di novel terbaru aku ya 🤭 "Dikira Janda" (NISSA S2) khusus cerita Reina Dzuhairi Sucipto ❤️
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1