2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 53 GAGAL BEREKSPEKTASI


__ADS_3

Sejak tadi Qai sudah sibuk menyiapkan sayuran dan lauk yang akan ia masak. Tentu masakan yang sudah pasti spesial untuk suaminya tersayang. Ekspektasi Qai bahkan sudah sangat berlebihan untuk merayakan baikan mereka berdua.


"Uh pasti romantis nanti kak Rey saat tahu masakan aku yang enak ini." Gumam Qai sambil terus memetik sayuran.


Dirasa semua sudah siap. Qai langsung mengambil semua bumbu yang sudah ia bersihkan dan tersimpan didalam kulkas.


Niat hati ingin mengiris tipis-tipis bawang putih, bawang merah, cabe dan yang lainnya. Namun apalah daya jika semua diluar kendali ibu hamil satu ini.


"Hoek... hoek..." Lagi dan lagi. Qai harus merasakan mual tapi tidak muntah. Jika tadi pagi ia bermasalah dengan minyak wangi Rey. Sekarang ia bermasalah dengan bawang.


Baru juga Qai menyelesaikan mengiris semua bawang merah, rasa mual Qai langsung menyiksa saat hidungnya mencium aroma bawang putih yang baru saja Qai iris dua kali.


Spontan Qai melempar bawang putih ke sembarang arah. Ia langsung mencuci tangannya dan ia sabun sampai tujuh kali. Seandainya saja ada bunga tujuh rupa mungkin Qai akan membersihkan tangannya menggunakan hal itu. Dikira apa kali.


Seketika itu mood Qai langsung hancur berkeping-keping. Padahal ia ingin sekali memasakkan menu dengan bumbu yang tadi sudah ia tanyakan langsung ke ibu mertuanya.


Qai langsung menuju kamar. Merebahkan tubuhnya diatas ranjang, tangannya meraba di bagian bawah bantal dimana ia menyelipkan remote AC disana. Seketika rasa sejuk memenuhi ruangan saat AC sudah on.


"Jadi masak nggak ini." Gumam Qai sambil berfikir.


"Apa dulu ibu hamil aku juga merasakan hal yang sama seperti ini? Atau malah lebih parah lagi." Gumam Qai.


Tanpa terasa air mata Qai mengalir begitu saja saat mengingat kelakuannya yang suka membohongi ibu dan ayahnya. Mengakui meminta uang untuk beli buku dan keperluan kuliah padahal untuk bersenang-senang saja.


"Maafin Qai ya ayah, ibu." Gumamnya.


Tin... tin...


Suara klakson motor akhirnya terdengar juga didepan rumahnya. Qai langsung cepat beranjak untuk membuka gerbang.


"Nana..." Teriak Qai antusias karena merasa sangat senang dan kangen dengan sahabat baiknya ini.


Nana langsung memasukkan motornya setelah Qai membuka Gerbang. Ia langsung melepas pelindung kepalanya dan langsung turun dari motor.


"Aku kangen tahu." Ucap Qai yang langsung menghambur ke pelukan Nana.


"Ih... jauh-jauh sana. Geli tahu dipeluk teman yang nggak ingat teman." Ucap Nana menyindir.


"Makin cantik saja kalau marah ibu guru satu ini." Ucap Qai yang langsung merenggangkan pelukannya dan langsung masuk kedalam rumah.


"Mau minum apa?" Tanya Qai saat mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Nggak usah sok nawarin kalau adanya cuma air putih."

__ADS_1


"Ih jangan menghina ya. Tunggu sebentar aku ambilkan minum."


"Minum apa Qai?" Tanya Nana jadi penasaran.


"Air putih." Jawab Qai yang langsung berlalu ke dapur. Namun Nana menngira Qai hanya bercanda.


Tak butuh waktu lama Qai sudah kembali ke depan lagi.


"Astaghfirullah beneran air putih Qai?" Tanya Nana tak percaya dengan apa yang diletakkan Qai.


"Kan tadi kamu sendiri yang bilang air putih."


"Iya juga." Gumam Nana. "Jadi gimana sudah baikan sama Rey?"


Tanpa menjawab Qai hanya mengangguk dan senyum terbit menghiasi wajahnya yang cantik.


"Alhamdulillah. Lain kali jangan di ulangi lagi Qai. Kamu masih beruntung punya suami yang setia sama ucapannya sendiri. Cerita kalau ada masalah, jangan main asal kabur."


"Siap."


"Ini Rey tahu kan aku main kesini."


"Tahu dong."


"Hanya tinggal mual saja kok." Ucap Qai sambil mengusap perutnya.


"Kamu sudah masak belum Qai? Aku laper banget ini." Ucap Nana yang langsung berterus terang.


Senjata makan tuan. Mungkin itu yang dirasakan Nana kini. Karena saat ini ia sedang memasak sesuai dengan arahan Qai. Sedangkan ibu hamil itu duduk mengawasi, seperti juri yang menunggu peserta selesai masak.


"Apes-apes." Ucap Nana lantang.


.


.


.


Dengan wajah senangnya, Qai langsung menuju ke teras rumah setelah mendengar suara motor Rey.


"Kakak."


Seketika rasa lelah dan penat seharian di kantor luntur kegitu saja saat melihat Qai yang menyambutnya dengan wajah yang sangat-sangat senang.

__ADS_1


"Nggak nongkrong sama ibu-ibu disana?" Tanya Rey sambil menutup gerbang.


"Enggak kak. Satu jam yang lalu Nana baru juga pulang."


"Oh..." Rey langsung mengambil kantong plastik yang menggantung di motornya. "Ini pesanan kamu Qai."


"Terimakasih kak." Ucap Qai yang lebih dulu masuk kedalam rumah.


Rey langsung ingin masuk juga setelah melepas sepatunya. Baru saja di ambang pintu Qai sudah menghabur kepelukan Rey.


"Aku bau loh Qai." Ucap Rey sambil membalas pelukan Qai. Pelan-pelan melangkah masuk sambil menutup pintu. Nggak enak juga kalau sampai tetangga melihat aktifitas mesra mereka.


"Wangi kok."


"Iya wangi debu, asap, keringat ya. Tadi katanya ingin tahu isi, kenapa nggak cepat dimakan sayang?"


"Sudah dilihat dan hirup aromanya, jadi nggak pengin lagi kak."


Semudah itu Qai mengungkapkan kata. Qai sungguh tidak tahu demi gorengan tahu isi, ia harus menunggu dengan setia karena sangking laris manisnya. Apakah ibu hamil selalu seperti ini. Entahlah. Yang terpenting bagi Rey ia sudah menyenangkan dengan hal-hal yang masih mampu ia penuhi.


"Kakak tadi berangkat kerja nggak peluk dan cium aku. Jadi sekarang aku mau itu." Tutur Qai sambil menatap Rey.


Nah kan sekarang ibu hamil satu ini melupakan kejadian tadi pagi saat Rey akan berangkat kerja. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Rey langsung melahap bi*bir yang sudah bersedia untuk di nikmati, setelah melempar tas gendongnya secara asal.


Siapa yang bisa menolak pulang bekerja disuguhi sambutan dan senyum manis oleh istrinya sendiri. lalu di berikan pelukan hangat dan sekarang ditawari hal yang lebih menyenangkan.


Qai langsung melempar jaket yang digunakan Rey setelah berhasil ia lepaskan dari tubuh yang ingin ia rayapi, tanpa harus melepaskan aktivitas panas berperang saliva.


Rey semakin mode on karena sudah terbuai dengan kelakuan Qai saat ini. Rey langsung melangkah menuju kamar membuat Qai jalan mundur karena masih enggan melepaskan cecapan hot mereka.


Tangan Rey tentu saja sudah menjalar kemana-mana karena memang tidak ingin diam saja. Menyeimbangi perbuatan istrinya yang nakal.


Satu persatu kancing baju sudah Qai buka. Ia langsung melepaskan diri disaat merasakan paru-parunya butuh bernafas lega.


"Kakak aku mau." Ucap Qai tanpa malu-malu lagi. "Bolehkan?"


"Badan ku bau asem sayang, aku mandi dulu ya. kalau nggak kita mainnya di kamar mandi saja gimana?" Tawar Rey. Ia memang merasakan tubuhnya yang butuh kesegaran.


Qai menggelengkan kepalanya sambil melepaskan kemeja Rey. "Aku maunya sekarang dan disini." Ulang Qai sambil menunjuk ranjang.


Bersambung...


Tolong jangan berpikir liar ya 😂 nanti aku up lagi🤭 3 jam nulis dapat 2 bab itu sangat luar biasa😊Alhamdulillah membaca komentar reader membuat ide ku datang sendiri 🥰 mungkin juga ada rasa lega menuangkan yang mengganjal di hati ku🤭 jangan lupa selalu berkomentar ya guys😍

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2