
Tak lama kemudian, Qai langsung ikut keluar dari kamar mandi. Ia melihat Rey sedang berganti baju. Sedangkan Rey justru tersenyum melihat Qai yang hanya terlilit handuk.
Qai langsung mendekati Rey. "Boleh sentuh nggak?" Tanya Qai usil sambil mengusap punggung Rey yang tertutup kaos.
"Janganlah yang. Aku mau solat nih."
"Sebentar saja kak." Qai sepertinya ingin balas dendam dengan perbuatan Rey padanya tadi.
"Yang jangan yang, batal nanti aku." Rey sampai memelas panik jika sampai bersentuhan kulit. s
Sedangkan tangan Qai terus merajalela kemana-mana.
"Peluk saja deh."
Rey langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi saat Qai memeluk Rey erat dari belakang.
"Sayang aku mau solat ini. Batal nanti aku yang."
"Kalau batal ya wudhu lagi saja kak. Air banyak kok."
Menggoda ya harus di balas dengan godaan. Tangan Qai keasikan meraba dada suaminya.
"Qaila Zarina, lama-lama aku terkam juga kamu." Ancam Rey.
__ADS_1
"Terkam saja. Toh kakak hanya bisa peluk dan cium aku." Tantang Qai belum menyerah.
Rey menghela nafasnya. Sungguh waktu sangat tidak mendukung untuk meladeni tantangan Qai saat ini.
"Yang aku harus solat sekarang lalu mau undang-undang tetangga biar hadir di acara aqiqah anak kita nanti malam."
Sepertinya penuturan Rey kali ini membuat Qai melepaskan Rey.
"Lain kali jangan goda aku lagi kak."
"Siap bosku."
.
.
.
Dari ruang tamu sampai teras rumahnya penuh dengan bapak-bapak yang meluangkan waktunya untuk datang ke rumah Rey.
Lantunan doa dan sholawat menggema, Berharap anak laki-laki Rey dan Qai yang diberi nama Rezvan Saskara Abraham itu tumbuh menjadi anak yang Sholeh, sehat dan cerdas. Tentunya menjadi anak yang berbakti terhadap kedua orang tuanya.
Rezvan yang di beri nama panggilan kecil 'Ren' itu nampak lelap dalam pangkuan Rey. Sepertinya lantunan doa dan sholawat membuat bayi yang masih nampak merah itu semakin lelap saja.
__ADS_1
Bahkan saat Rey membawa Ren berkeliling agar bapak-bapak disana memotong sedikit rambut Ren, bayi itu tetap lelap tanpa terusik sedikit pun.
Sampai akhirnya acara usai, satu persatu bapak-bapak sudah pulang dengan membawa berkat.
*Berkat \= berisi nasi lauk pauk termasuk daging kambing karena memang acara aqiqah dan juga sekotak kue. Kurang lebih begitu isinya. kalau daerah kalian apa namanya.
Rey langsung membawa Ren masuk kedalam kamar. "Sudah waktunya asi yang."
"Iya kak." Qai mengambil alih Ren. "Uluh uluh anak ibu haus ya." Tutur Qai sambil membuka kancing bajunya lalu mengeluarkan pusat produksi asi. Agar Ren segera meraupnya.
Rey tersenyum menatap Qai dan Ren bergantian. Sungguh terasa lengkap kebahagiaan yang ia miliki kini. Tapi ini baru awal, langkah kehidupan sebenarnya saat berumah tangga dan di titipkan malaikat kecil di kehidupan Rey dan Qai. Mereka benar-benar harus menjadi orang tua yang mampu membimbing dan membesarkan anaknya dengan cara yang tepat.
"Aku keluar dulu yang, bantu ayah dan mas Ahmad beberes." Rey mengusap pucuk kepala Qai dengan rasa sayang. Rasa yang tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Qai mengangguk dan tersenyum menatap Rey. "Iya kak."
Rey mengecup pipi Qai sekilas, setelah itu baru Rey kembali keluar dari kamarnya.
"Ih sudah jadi ayah juga kakak masih bikin aku deg degan tahu nggak." Gumam Qai.
Kemudian Qai kembali fokus pada Ren yang tengah menghisap asi sebanyak banyaknya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️