
Flashback on
Malam ini malam minggu. Berhubung Ferdi membatalkan acara kencan bersama Qai. Akhirmya malam ini Qai mengajak Nana keluar. Nana yang jomblo tentu saja semangat empat lima dia ajak keluar Qai.
Mereka langsung menuju kesebuah Restoran yang rutin mereka kunjungi. Meskipun hanya 1 sampai 2 kali dalam sebulan. Harap maklum namanya juga anak kostan.
Qai dan Nana langsung memesan makanan. Mata mereka melihat kesekeliling setiap sudut restoran yang dipenuhi dengan manusia yang berpasang-pasangan.
Namanya juga malam minggu jadi wajar jika banyak manusia berpasang-pasangan sedang makan bersama dengan orang terkasih.
Qai dan Nana langsung menikmati hidangan yang sudah mereka pesan. Sepertinya di dunia yang sempit ini hanya merekalah yang nampak terlihat jomblo.
"Apes banget sih jalan sama jomblo." Gerutu Qai sambil menikmati makanan didepannya.
"Masih mending aku jomblo. Nah kamu, punya pacar tapi di PHP.in nggak jadi diajak keluar." Nana langsung tertawa setelah meledek Qai.
"Asem ya kamu."
Tak berselang lama mata Qai dan Nana dibuat terpana dengan dua orang yang baru memasuki restoran. Lelaki itu dengan mesra menggandeng tangan perempuannya. Duduk tak jauh dari posisi Qai dan Nana. Jika kalian berfikir itu pasangan kekasih yang nampak serasi. Jelas itu salah besar.
Entah manusia dari belahan dunia mana karena kini Qai dan Nana menyaksikan bagaimana romantisnya seorang lelaki tengah menarik kursi untuk seorang perempuan yang kisaran hampir 50 tahunan.embah rasa iri pada Qai dan Nana yang jelas tak berpasangan.
Qai dan Nana langsung merapatkan kursi. Apa lagi kalau bukan untuk berghibah. Sambil mengintai lelaki yang terus memperhatikan wanita berusia didepannya sambil menikmati makanannya sendiri.
"Asli itu laki langka banget Qai. Sumpah idaman para wanita." Bisik Nana.
Apalagi saat lelaki itu nampak menambahkan sesuatu ke dalam piring ibunya. Membuat Qai dan Nana semakin tersanjung.
Jelas kini bukan hanya Qai dan Nana yang tengah menyaksikan seorang lelaki muda bersama perempuan berusia itu.
Karena masih banyak pasang mata yang sepertinya ikut terpesona dengan perlakuan lelaki yang sepertinya tidak sadar telah menjadi pusat perhatian.
"Aku mau jadi jodohnya Tuhan." Mohon Nana spontan begitu saja.
"Jangan terlalu berharap. Nanti kalau nggak kesampaian, nangis." Ejek Qai.
"Kamu nggak tertarik?" Tanya Nana serius.
"Hanya kagum. Aku hanya tertarik sama Ferdi."
__ADS_1
"Halah bucin-bucin." Ejek Nana yang langsung menggeser kursinya. Sedikit menjauh dari Qai si bucin akut.
"Namanya juga cinta." Qai abai ejekan Nana. Karena memang ia sangat mencintai Ferdi, kekasihnya.”
"Jangan terlalu cinta Qai. Nanti kalau sakit hati gila loh."
"Hiii... amit-amit." Ucap Qai sambil bergidik.
Karena terlalu kagum. Nana sampai memotret diam-diam lelaki yang tengah menikmati makanan di atas meja, didepannya. Dan tak lupa juga Nana sengaja mengirim foto itu ke ponsel Qai.
"Ngapain kamu kirim fotonya ke aku?" Tanya Qai terkejut setelah membuka foto yang dikirim Nana.
"Jangan di hapus. Nanti kalau itu laki menjadi pasangan hidup salah satu dari kita. Itu Artinya yang kalah harus menghapus fotonya.”
"Terserah mu deh Na."
Lagi pula, perempuan mana yang tidak terhipnotis melihat seorang lelaki yang memilih makan bersama sang ibu di banding dengan kekasihnya.
Apalagi menurut Nana. Lelaki yang menyayangi ibunya pasti bisa menyayangi perempuan yang beruntung bisa mendapatkan lelaki sehangat ini.
Flashback of
"Fotonya sudah kamu hapus kan?" Todong Qai. Ia memang sengaja tidak mengirim foto pernikahan yang bersama Rey pada Nana. Karena ia yakin Nana pasti akan sangat terkejut saat tahu ia menikah dengan lelaki yang mereka intai.
Qai langsung menghapus foto Rey yang diam-diam diambil Nana dulu.
"Kamu beruntung langsung dapat berlian setelah membuang remahan kerikil." Ucap Nana sambil mengacungkan kedua jempolnya. Inginya sih empat jempol kalau bisa.
Qai tersenyum. "Aku saja sampai tidak percaya saat pertama kali melihat dia setelah ijab qabul." Tutur Qai.
"Apa karena itu. Kamu menyerahkan diri dengan mudah." Ucap Nana sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Qai.
Tadi saat ia baru datang kerumah, Qai baru selesai mandi. Baru saja akan duduk di meja rias untuk menutupi hasil karya Rey. Nana menelpon kalau dia sudah berada di depan rumah dengan alamat yang Qai berikan.
Karena terlalu senang akan bertemu dengan Nana. Qai sampai lupa membawa syal atau handuk untuk menutupi lehernya yang indah dengan jejak karya yang tak jauh kalah indahnya.
"Mungkin itu salah satunya. Tapi karena satu minggu saat dirumah. Kak Rey bahkan tak banyak bicara. Mungkin karena kami sama-sama melakukan pernikahan karena lari dari sakit hati dan kecewa. Dan lagi satu minggu berikutnya, kak Rey benar-benar mengajak ku untuk saling komitmen."
"Dia pasti lelaki yang baik. Ibu nggak mungkin jadohin kamu dengan asal orang Qai."
__ADS_1
"Tapi aku juga mulai khawatir Na." Ucap Qai pelan.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Mantannya sepertinya akan sangat giat mengejar kak Rey. Karena semalam aku berbincang langsung dengannya."
"Whaaattt.." pekik Nana kuat. Melupakan tempat kalau mereka berada di tempat umum.
"Astaga... jangan keras-keras woy." Ucap Qai sambil membungkam Nana yang tercengang.
Qai langsung menceritakan semua hal tentang perbincangannya dengan Intan semalam. Berharap bisa menemukan sebuah solusi dari sahabatnya ini.
Padahal disini yang memiliki mantan bukan hanya Rey. tapi juga Qai. Tapi entah kenapa Qai malah lupa tentang Ferdi, karena titik fokusnya hanya pada Intan saja
"Bagaimana?" Tanya Qai setelah mencurahkan segala isi hatinya yang sangat mengganjal.
"Aku rasa nggak ada masalah kamu nggak cerita soal perbincangan mu ini ke Rey. kamu melakukan itu juga demi rumah tangga mu yang masih dibilang sangat dini. Meskipun aku lebih dominan yakin kalau Rey pasti tepati janjinya ke kamu. Tapi kamu juga tetap harus waspada." Tutur Nana.
"Aku juga kan nggak tahu kalian bagaimana. Yang bisa ngerasain cara Rey memperlakukan kamu ya cuma kamu sendiri Qai." Tambahnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah. Qai lebih banyak diam. Masih terpaku dengan ucapan Nana tadi. Dipikir berapa kali pun cara Rey memperlakukannya pasti akan membuat perempuan yang menjadi istrinya juga akan dengan mudah jatuh cinta.
Sosok Rey yang hangat dan apa adanya benar-benar menjadi daya tarik tersendiri untuk Qai.
"Hati-hati ya Na." Ucap Qai setelah turun dari atas motor.
"Siap bos." Ucap Nana memberi hormat. Ia pun langsung melajukan motornya kembali.
Qai langsung masuk rumah. Setelah meletakkan pelindung kepalanya ia langsung menuju kamar. Diatas Ranjang nampak Rey yang tenang terbuai mimpi sambil memeluk bantal guling.
Qai langsung menggantung tas dan langsung menuju kamar mandi membersihkan diri sebentar. Ia langsung keluar dan mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman.
Qai langsung naik keatas ranjang. Memeluk Rey dari belakang. Lelaki yang sepengetahuan Qai selalu terbuka dengan hal apapun padanya. Membuat Qai merasa diparlakukan dengan sangat spesial.
"Maaf aku belum bisa mengatakannya. Apapun yang terjadi. Kakak harus tepati janji untuk tidak akan tinggalkan aku." Gumam Qai sambil mempererat pelukannya. "Entah kenapa aku takut kak."
Rey yang sebenarnya sudah terjaga langsung membuka kedua matanya. Melihat bagaimana eratnya tangan Qai membelit tubuhnya.
"Apa ada yang kamu sembunyikan Qai?" Batin Rey.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️