
Semua orang sudah kumpul di ruang makan. Termaksud Ahmad yang pulang tak lama dari Rey dan Qai pulang. Tentunya kecuali Ratih karena gadis kecil itu jelas sudah nyenyak dari tadi.
Hujan pun sudah mulai Reda. Gemuruh langit dan kilatan sudah tidak ada lagi.
Berhubung dirumah mertua dan ada ipar juga, Qai tidak mau makan sepiring berdua karena rasa sungkan. Bukan hanya itu saja sejak tadi saja Qai terus menundukkan wajahnya karena malu bertatapan dengan Ratna.
Andaikan saja waktu dapat diputar. Pasti Qai akan langsung menggunakan pakaiannya lagi setelah mereka selesai dengan urusan pentingnya dengan Rey.
"Maaf ya bu. Karena ada kumpulan jadi ibu yang jaga sawah tadi." Ucap Ahmad setelah menghabiskan makanannya.
"Bukan ibu tadi yang ke sawah. Tuh adek-adek mu yang jaga burung tadi." Ucap bu Yani sambil menatap Rey dan Qai.
Dua manusia yang seperti maling tertangkap basah tadi, nampak sangat lahap menikmati makanan malam saat ini. Jelas saja keduanya kelaparan, tak perlu dijelaskan lagi karena hanya akan membuat Qai tertunduk malu.
"Kamu Rey yang kesawah tadi?" Tanya Ahmad.
"Iya mas."
"Sama Qai juga mas. Jangan lupa." Ucap ratna memperjelas. Sungguh sengaja Ratna melakukan hal itu karena ingin menggoda adiknya.
"Iya maksudnya itu. Sama Qai juga."
"Iya mas."
"Pelan-pelan Rey makannya." Peringatan bu Yani. Ia takut anaknya tersedak karena makan seperti di kejar kereta api.
"Laper banget kayanya bu yang habis bekerja keras di sawah sampek kejebak hujan." Sengaja banget ratna menjahili adiknya.
Uhuk... uhuk...
Bukan Rey yang tersedak tapi Qai. Istri Rey itu sampai menepuk-nepuk dadanya setelah mendengar ucapan Ratna.
"Minum dulu." Ucap Rey sambil menyerahkan air minum. Tangan satunya terus menepuk punggung Qai yang masih saja terbatuk-batuk.
"Hati-hati Qai. Pelan-pelan makannya." Ucap Ratna.
"Mbak jangan godain terus kenapa sih." Ucap Rey yang mulai kesal sama Ratna.
"Loh siapa yang goda sih. Kan yang aku bilang tadi benar, kalian pasti lapar setelah bekerja di sawah." Ulang Ratna. "Untung loh mas gubuknya sudah mas benerin. Jadi meski terjebak hujan Rey dan Qai tetap bisa neduh." Terang Ratna.
Rey yang kesal karena diledek terus. Akhirnya menendang kaki ratna. Dan kini kedua anak bu Yani itu perang kaki. Hal yang selalu terjadi sejak dulu.
"Kalian ini sejak dulu selalu saja bertengkar. Sama-sama usilnya." Ucap bu Yani yang langsung beranjak. Tidak heran memang melihat kelakuan Ratna dan Rey.
"Tadi bendungan Airnya kamu buka nggak Rey?" Tanya Ahmad.
__ADS_1
"Eh iya, lupa mas."
"Jelaslah lupa orang... Aduh... sakit dek." Keluh Ratna saat kakinya di tendang Rey lagi.
"Kalian ini. Nggak mbaknya nggak adeknya sama saja." Ucap Ahmad. Ia sudah tidak heran lagi dengan kelakuan Ratna dan Rey kalau sedang berkumpul seperti ini. "Haduh besok harus kesawah pagi-pagi ini. Bisa gagal panen kalau padinya tergenang air kelamaan." Gumam Ahmad. "Dek aku ke kamar duluan." Ucap Ahmad sambil menepuk punggung Ratna.
"Iya mas."
Semua orang sudah memasuki kamar mereka masing-masing. Cuaca dingin seperti ini jelas paling enak cepat-cepat masuk kamar dan tarik selimut.
Tapi itu tidak berlaku untuk Rey dan Qai . Rey terus memeluk Qai erat. Padahal selimut tersedia disana tapi sepertinya dengan berpelukan sudah mampu menghangatkan keduanya.Meski sejujurnya Qai tidak ingin di peluk.
Bukannya apa. Kalau hanya saling berpelukan Qai tidak akan menolak. Tapi tangan Rey yang meresahkan pasti menjalar kemana-mana kalau sedang dalam posisi seperti ini.
"Kak, Tangannya bisa diem nggak." Ucapnya Qai pelan. Benar-benar menahan diri kalau tangan Rey seperti ini.
"Cepat tidur." Ucap Rey. mengabaikan apa yang menjadi keluhan Qai.
"Ya gimana aku bisa tidur kalau kaya gini kak. Lepas ih. Lebih baik tangan kakak diam, biar aku yang peluk."
.
.
.
Pekerjaan rumah pun sudah selesai, Qai bingung mau melakukan apa lagi. Padahal jam baru menunjukkan pukul 07.20 WIB. Wajar kalau rumah sudah nampak bersih. Karena Qai dan Ratna masak setelah solat subuh. Pekerjaan akan lebih cepat selesai jika dilakukan secara bersama-sama. Sedangkan Ahmad dan Rey sudah sejak petang pergi kesawah.
"Nggak mandi Qai?" Tanya Ratna yang baru saja ikut duduk didekat Qai.
"Eh mbak." Qai tersadar dari lamunannya. "Nanti saja mbak. Berjemur dulu." Qai menatap Ratna sejenak. Tidak dapat dipungkiri jika Qai masih saja malu bertatapan dengan Ratna.
"Sejujurnya kalian berdua benar-benar diluar ekspektasi mbak." Ucap Ratna.
"Maksudnya mbak?" Qai jelas bingung.
"Mbak nggak mau masuk keprivasi kalian Qai. Hanya mbak merasa heran kenapa bisa kalian tiba-tiba mau menerima perjodohan ini. Apa lagi Rey yang memang setia sekali dengan Intan. Eh kamu sudah tahu tentang Intan kan Qai?" Tanya Ratna.
"Kak Rey sudah cerita tentang dia mbak."
"Bagus kalau begitu. Itu artinya kalian tulus dan saling terbuka. Sejujurnya mbak dan ibu nggak tahu kenapa tiba-tiba Rey mau menikah dengan kamu. Apa masalah dia dengan Intan sampai dia memutuskan setuju di jodohkan. Apa lagi mengingat Rey begitu sangat setia menunggu Intan." Ratna menjeda ucapannya.
"Kami bahagia melihat kalian sebahagia sekarang. Saling menerima dan tulus menjalani hubungan pernikahan kalian. Padahal mbak pikir kalian berdua akan sulit untuk sampai ketahap seperti semalam mungkin." Goda Ratna.
Seketika wajah Qai memerah mengingat kejadian semalam. Andai ada pintu ajaib, Qai pasti akan masuk ke pintu itu untuk menyembunyikan diri.
__ADS_1
"Terimakasih ya Qai, sudah buat adek mbak bahagia. Rey itu orangnya penyayang banget walau sifatnya yang suka sekali usil. Kamu juga harus terus terbuka tentang hal apapun sama Rey. Karena dibalik sifat Rey yang hangat dia bukan orang yang mudah memaafkan orang yang membuat kesalahan padanya." Jelas Ratna.
"Eh." Qai terkejut mendengar penuturan Ratna barusan.
"Dia bukan pendendam. Hanya saja cara dia memaafkan orang lain itu membutuhkan waktu. Kami harap kalian selalu bahagia dan cepat kasih keponakan untuk Ratih. Eh itu suami kita sudah pulang." Ucap Ratna sambil menujuk ke arah Ahmad dan Rey yang baru memasuki halam rumah.
"Belum mandi ya?" Tanya Rey.
"Belum kak."
"Jangan bilang kamu mau ngajakin Qai mandi bareng." Celetuk Ratna. Seketika ucapan itu membuat wajah Qai bersemu lagi.
"Ya nggak lah mbak. Cerewet banget sumpah. Takut kalah saing ya." Usil Rey.
"Ya nggak lah. Senior berpengalaman nggak mungkin kalah sama junior."
"Dih, ngaku aja deh mbak."
"Mbak bakal kalah saing kalau Qai hamil dan ternyata kembar. Sudah sana mandi. Bau banget kamu dek."
"Giliran adeknya di bilang bau. Coba mas Ahmad, pasti di eluh-eluh wangi."
"Beda cerita soalnya. Sudah sana." Usir Ratna.
"Mas, aku atau mas duluan yang mandi?" Tanya Rey pada Ahmad.
"Kamu duluan saja Rey."
"Ok. Aku mandi dulu." Pamit Rey yang langsung beranjak menuju pintu belakang.
"Mbak ke warung dulu ya Qai."
"Iya mbak."
Qai kembali melamun. Mengingat kembali ucapan Ratna tadi. Qai mulai menimbang-nimbang untuk mengatakan tentang Intan pada Rey. Tapi entah kenapa Qai tdak siap melihat bagaimana reaksi Rey nantinya.
Iya kalau hasilnya sesuai ekspektasi Qai, jika Rey akan tetap memilihnya karena memang ia bukan sebuah pilihan. Ia adalah seorang istri yang memang sudah dipilih Rey sejak awal untuk di jadikan seorang istri. Pasangan hidup Rey.
Tapi jika hasilnya diluar ekspektasi. Tidak bisa di pungkiri kalau Qai juga tidak ingin. Karena bagaimana pun Qai tidak mau jika sampai Rey memilih meninggalkannya demi Intan. Demi perempuan yang Rey cintai selama ini.
Qai jadi merasa insecure. Jika harus bersaing dengan Intan yang jelas sudah lama menjalin hubungan dengan Rey sangat lama. Sedangkan ia baru seumur jagung.
Qai menghela nafasnya dalam-dalam. Berharap pikiran buruknya tidak akan pernah terjadi. "Semoga pilihan ku ini sudah benar."
Bersambung...
__ADS_1
Otw ke masalah yuk biar gak uwu2an terus ini manten anyar 😂
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️