
Bukannya cepat pulang setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan Nana, Qai justru terus saja menangis karena membaca banyaknya pesan dari Rey. Sampai sudah tak terhitung lagi berapa jumlahnya yang harus Qai baca saat ini.
Rasanya saat ini Qai ingin segera memeluk Rey dengan sangat erat. Ia ingin meluapkan segala kerinduan yang telah menumpuk di hatinya.
Ternyata perkiraannya tidak salah kalau selama ini Rey juga memiliki perasaan yang sama. Qai jadi merasa bersalah sekarang karena telah pergi begitu saja tanpa mengetahui segalanya.
Sekarang ia tinggal meyakinkan diri untuk segera pulang ke rumah. Ia juga harus siap jika nanti Rey akan memarahinya. Karena sudah sangat jelas ini salahnya yang asal meninggalkan rumah.
.
.
.
Setelah mendapatkan kabar Qai dari Nana, Rey langsung segera membersihkan diri. Ia harus segera menemukan Qai. Istrinya yang membuatnya seperti orang tidak waras dalam satu bulan ini.
Rey mengendarai motornya dengan sangat cepat saat jalanan memang lenggang. Ia sepertinya abai dengan tubuhnya yang benar-benar lelah, perut yang belum mendapatkan jatah, dan kaki yang habis terkilir karena terjatuh tadi.
Hampir 3 jam Rey mengendarai motornya. Akhirnya ia sudah sampai dimana Qai berada kini. Ia langsung menuju dimana kamar yang di tempati istrinya setelah mendapatkan informasi.
Belum sempat Rey mengetuk pintu tiba-tiba saja pintu terbuka menampilkan wajah istrinya yang hendak keluar dari kamarnya.
"Kakak." Gumam Qai. Tangannya langsung melepaskan gagang koper dalam cengkraman tangannya. Ia langsung menangis dan menghambur ke pelukan Rey.
Rey yang awalnya akan marah kini hatinya jadi luluh dengan sendirinya. Apa lagi saat ini Qai menangis dan memeluknya erat. Mungkin Rey kini memilih untuk meluapkan rasa rindunya. Dan amarah yang ia pendam beberapa hari terakhir entah akan ia luapkan atau tidak, kita lihat saja nanti.
"Aku rindu kakak. Tolong maafkan aku kak." Ucap Qai tak jelas karena wajahnya menyusup di dada Rey.
Rey langsung membawa Qai masuk. Tidak enak jika mereka dilihat orang berpelukan di depan kamar.
"Kenapa kakak bawa aku masuk kedalam kamar? Padahal aku sudah bersiap pulang?" Tanya Qai setelah merenggangkan pelukannya.
"Lebih baik masuk Qai, nggak enak pelukan di depan pintu. Takut ada orang lewat dan melihat kita." Jawab Rey tepat.
__ADS_1
"Kalau seperti ini aku sulit menahan diri kak. Aku benar-benar sedang inginkan kakak." Ucap Qai terus terang.
"Maksud kamu?" Rey jelas tidak paham dengan ucapan Qai barusan.
"Maaf aku egois. Kakak boleh memarahi aku setelah ini." Ucap Qai saat melihat sorot mata Rey yang mengandung amarah yang belum di sampaikan padanya.
Entah apa yang membuat Qai berlaku agresif saat ini. Entah karena rindu yang menggebu perasaannya, ataukah memang Qai yang sangat merindukan setiap sentuhan yang selalu Rey berikan padanya. Atau karena sudah satu bulan mereka berpisah. Atau karena saat ini Qai hamil dan menginginkan Rey karena memang itu maunya saat ini.
Jelas Rey sangat terkejut dengan perlakuan Qai saat ini. Membuat matanya membulat karena kini Qai sudah mencecap bi*birnya dengan penuh tuntutan. Padahal Rey hendak memberi Qai penjelasan karena telah meninggalkannya tanpa sebuah kebenaran yang seharusnya Qai ketahui lebih dahulu. Agar masalah sepele ini tidak rumit. Agar tidak menyiksa keduanya yang memang saling membutuhkan.
Qai melepaskan bibir Rey saat merasakan tidak mendapatkan balasan dari lelaki yang sangat ia rindukan. Qai menatap mata Rey yang masih terkejut dengan perlakuannya. Tangan Qai terulur membuka jaket yang digunakan Rey.
"Kakak boleh memarahi aku, tapi nanti. Aku benar-benar mau kakak." Ucap Qai tanpa rasa malu. "Dia ayah mu nak. Setelah ini ibu pasti kasih tahu ayah kalau ada kamu di antara kami sayang." Batin Qai sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Siapa yang bisa menolak keadaan mendukung seperti saat ini. Rey mengabaikan rasa marahnya sendiri. menikmati saja ajakan Qai yang menurutnya ini lebih baik untuk memperbaiki semuanya nanti.
Rey langsung menarik tengkuk Qai. Bukan kecupan halus yang mereka lakukan, karena pusat magnet itu bekerja tarik menarik dengan sangat menuntut dan menggebu. Tangan keduanya sama-sama saling membelai memberikan sentuhan untuk kenyamanan bersama.
Rey langsung merebahkan tubuh Qai di atas kasur. Jika tadi Qai lah yang mengawali tapi kini Rey yang mengambil kendali. Menyentuh seluruh tubuh perempuan yang membuatnya kalang kabut sendirian.
Rintihan Qai tertahan oleh cecapan keduanya yang semakin dalam saat Rey terus menyentuh dan menggenggam dua lembah kembar secara bergantian. Hal yang selalu ia mainkan setiap sebelum tidur malam.
"Kak..."
Tubuh Qai terasa dialiri darah yang mendidih karena kini rintihannya sudah tidak bisa ia kendalikan lagi saat Rey membuat jejak pada lehernya yang sudah mulus akibat jarak yang telah Qai buat sendiri.
Tangan Qai terus mengusap kepala Rey dan sesekali menekan kepala suaminya akibat kelakuan mulut Rey yang begitu kuat bermain dengan dua lembah secara bergantian.
"Ah... kak."
Kamar hotel sudah penuh dengan suara Qai yang terus menggema karena Rey terus berlaku seperti bayi baru lahir yang lapar dan butuh asi. Kuat semakin kuat saja mulut Rey bekerja.
"Kakak pelan kak aku nggak kuat." Rintih Qai memelas.
__ADS_1
Tangan Qai mencengkram erat tangan Rey yang kini aktif bergerak cepat di area terlarang. Qai ingin melepaskan diri tapi juga ingin di lanjutkan.
Ah...
Ingin rasanya Qai menggeliat bebas bersama rintihan yang semakin menjadi dari semua perlakuan Rey padanya.
Rey mengakhiri aktifitas mulutnya dan menatap Qai yang kini juga menatapnya. Raut wajah memelas menahan perlakuan tangan Rey yang masih belum beranjak.
"Aku nggak kuat kak." Ucap Qai sambil menggerakkan tubuhnya dengan bebas.
Tangan Rey yang menganggur mengusap wajah Qai yang sudah dipenuhi buliran bening yang kini melembabkan tubuhnya. Rey juga tersenyum manis membuat hati Qai bergetar. Senyum lelaki yang sudah lama tidak ia lihat.
"Kak Rey." Teriak Qai tertahan saat apa yang ingin ia lepaskan kini luruh sudah.
Nafas Qai masih terasa berat, tubuhnya seperti ingin istirahat sejenak. Tapi Rey kini sudah mengurungnya. Dan mencecap lagi bibirnya yang sangat panas.
Eh...
Qai merintih tertahan saat Rey berhasil membobol gawang yang sudah lama tidak pernah di cetak gol. Bergerak pelan sambil terus mencecap pusat magnet yang sangat Rey rindukan.
Pelan-pelan dan semakin pelan level pergerakan mereka semakin meningkat cepat. Membuat volume percintaan keduanya semakin memenuhi kamar hotel yang menjadi saksi kerinduan keduanya.
Entah berapa kali mereka saling memuaskan raga yang membutuhkan sentuhan manja. Mengumpulkan buliran bening yang semakin melembabkan keduanya.
Membuat kinerja jantung cepat. Dan nafas yang tak beraturan saat semuanya sudah usai. Puas, entahlah. Tapi yang pasti Rey lelah dan membutuhkan istirahat.
Qai mengusap pelan wajah Rey yang sudah lelap. Wajah yang terdapat bulu halus menghiasi wajah Rey yang biasanya terlihat bersih. Mengamati lelaki yang ia tinggal pergi begitu saja.
"Apa aku telah menyiksa kakak, sampai kakak terlihat lebih kurus seperti ini."
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1