2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 44 ANDAI AKU SEORANG CEO


__ADS_3

Sudah dua minggu berlalu. Rey sampai tidak tahu lagi harus mencari Qai kemana. Menunggu tapi yang di tunggu tidak juga pulang. Mencari juga Rey sudah dibuat bingung harus mencari kemana lagi. Karena sudah setiap hari ia berkeliling. Pergi ke setiap tempat yang pernah mereka kunjungi bersama. Berharap Tuhan mempertemukan wanita yang membuatnya kalang kabut tidak karuan seperti sekarang.


Lelah. Itulah yang sudah sangat jelas dirasakan Rey saat ini. Badannya bahkan sudah tidak terurus lagi, semakin kurus karena makan tidak teratur dan kurang istirahat.


Wajah Rey pun kini dihiasi bulu halus karena tidak memperhatikan penampilan. Pekerjaan pun hanya sekedarnya Rey mencari customer untuk membeli prodak melaluinya. Pikirannya benar-benar sudah tidak fokus lagi.


Marah. Jelas Rey marah dan sangat kecewa. Ia tidak paham dengan jalan pikiran Qai saat ini. Entah apa yang merasuki isi kepala Qai pergi tanpa berpamitan dengan benar.


Kalau berpamitan sudah pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Karena Rey akan menjelaskan semuanya dan membuat Qai tidak salah paham.


Ingin sekali Rey meluapkan emosi dan amarahnya sekaligus. Tapi ia harus menabung semuanya untuk ia luapkan langsung pada Qai. Agar Qai tahu bagaimana rasa rindu menumpuk di hati Rey saat ini. Bisa-bisanya istrinya berfikir pendek dan tidak mempercayai semua ucapan yang pernah Rey katakana.


"Andai aku seorang CEO kaya raya, aku pasti sudah suruh orang mencari mu Qai tanpa harus bersusah payah seperti ini." Ucap Rey mengkhayal. Tubuhnya benar-benar lelah tapi Rey tetap menahan untuk tetap kuat.


Matanya melihat layar computer tapi pikirannya sudah melayang tak tentu arah. Qai benar-benar menyita pikirannya sampai membuatnya mengabaikan banyak hal penting lainnya.


Plak...


Rey langsung tersadar saat punggungnya dipukul sedikit keras. "Sakit woy." Keluh Rey jujur.


"Istirahat. Ayo makan dulu." Ajak Mansur.


Kedua teman Rey itu sudah tahu perihal masalah yang dialami Rey saat ini. Mereka cukup mengerti dengan keadaan Rey sekarang ini.


"Aku keluar sekarang saja." Rey langsung bersiap-siap untuk segera keluar dari kantor.


Rahmat dan Mansur menatap Rey yang sudah berlalu begitu saja.


"Qai benar-benar sudah menggantikan Intan." Ucap Rahmat.


'Si Qai juga. Nggak tahu kebenarannya sudah asal pergi saja." Gerutu Mansur ikutan kesal.


.


.


.


Qai duduk terdiam di atas hamparan pasir. Menatap gelombang pantai yang terus berkejaran tiada henti, angin laut terus menerpa wajahnya yang ayu. Seolah menahan air mata yang ingin jatuh membasahi pipinya.


Rindu. Hanya kata itu yang kini bisa menjawab lukisan di raut wajah Qai saat ini. Segala hal tentang Rey sangat ia rindukan. Tangan Qai mendekap erat tubuhnya sendiri. Iya tersenyum getir menatap sepasang kekasih yang nampak mesra dan saling berpeluk mesra.


"Aku rindu kak." Gumam Qai sambil menyentuh cincin yang masih menghiasi jarinya.


Tidak bisa dipungkiri, jika Qai sangat merindukan semua perlakuan Rey, sentuhannya yang memabukkan, dekapannya yang begitu menghangatkan raga dan cumbuannya yang membuat Qai semakin merasakan getaran jiwa penuh asmara. Kalau sudah seperti ini, jelas qai tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Hai." Sapa seseorang yang langsung duduk di dekat Qai.

__ADS_1


Qai dengan cepat menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Qai langsung bergeser agar duduknya sedikit berjarak.


"Lagi galau ya?" Tanyanya sok tahu.


"Sok tahu banget." Jawab Qai tidak suka.


"Sejak tadi aku perhatikan kamu terus saja melamun. Karena aku takut kamu kesambet makanya aku kesini. Ada masalah?" Tanyanya sok kenal sok dekat.


"Jangan biasakan mengganggu ketenangan orang lain." Ucap Qai yang langsung beranjak.


"Mau kemana?"


Qai langsung menarik tangannya yang digenggam tiba-tiba dengan lelaki yang tidak ia kenal. "Tolong jangan kurang ajar."


"Ups... Sorry." Lelaki dihadapan Qai menaikkan kedua tangannya. "Aku nggak ada maksud kurang ajar kok."


"Nama ku Andre." Ucapnya memperkenalkan diri dan terus mengikuti langkah kaki Qai.


"Aku nggak tanya." Ucap Qai cuek.


"Umur ku 19 tahun."


Qai langsung menghentikan langkah kakinya setelah mendengar umur lelaki yang katanya berusia 19 tahun. "Oh jadi kamu masih bocah."


"Eh bocah dari mana? Kita juga pasti seumuran." Ucap Andre tidak terima.


"Jangan ngawur ya kamu bocah. Tahun ini umur ku 22 tahun tahu."


"Iya. Kenapa, kamu nggak percaya."


"Percaya kok. Pantesan sudah kelihatan tante-tante."


Mendengar ejekan Andre, Qai spontan menendang kaki andre. "Nggak sopan, gini-gini aku masih sering dikira anak SMA tahu."


"Nggak percaya aku. Mana mungkin orang yang sudah menikah dikira masih anak sekolahan."


"Eh dari mana kamu tahu aku sudah menikah?" Tanya Qai heran.


"Tuh." Tunjuk Andre dengan dagunya. "Kamu tadi memandangi terus cincin itu."


"kamu-kamu, panggil aku kakak."


"Iya kakak. Nama kakak siapa?"


"Qai."


"Nama yang cantik."

__ADS_1


"Nggak usah merayu orang yang lebih tua ya." Nggak habis pikir Qai dengan sikap jahilnya Andre yang sok dekat padanya.


"Mau kemana kak?"


"Pulang."


.


.


.


Sejak tadi siang Rey bekeliling tak tau harus kemana, ia hanya menjalankan motornya tak tentu arah dengan harapan bisa menemukan Qai. Karena Rey sendiri sangat yakin kalau Qai masih berada di kota ini.


Kini Rey sudah bersiap lagi hendak mencari sosok istrinya. Sudah seperti orang tidak waras Rey mencari Qai setiap hari tanpa titik tetang sedikit pun.


Rey langsung membuka gerbang hendak mengeluarkan motornya lagi. Namun hal itu urung karena sesaat kemudian sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan rumahnya.


Rey menatap heran melihat siapa yang keluar dari mobil itu. Dan kini sudah berdiri tepat didepannya.


"Assalamualaikum Rey." Salamnya.


"Waalaikum salam. Ada kepentingan apa mas kesini?" Tanya Rey tanpa basa basi.


"Aku mau mengatakan sesuatu Rey."


"Jika itu masalah intan, maaf mas aku sudah tidak ada urusan apapun dengannya. Dan maaf soal waktu itu."


Walau bukan maunya Rey, karena memang Intan sendiri yang tiba-tiba memeluknya. Tapi tetap saja Rey tidak enak hati dengan Fikri. Ia cukup sadar diri, karena ia sendiri tidak rela ada lelaki lain yang menyentuh istrinya.


"Aku nggak masalah soal itu. Karena demi kepentingan anak aku, Kirana. Kalian menjadi seperti ini." Ucap Fikri.


"Itu sudah menjadi pilihan Intan mas. Aku nggak bisa melakukan apapun walau aku tahu sejak awal. Aku tahu mas memiliki perasaan pada Intan. Jadi perjuangkan dan yakinkan saja dia." Rey menghela nafasnya. ",Dan tolong terima dia apa adanya. Karena aku yang telah mengambil sesuatu yang tidak seharusnya. Aku menyesali semua perbuatan kami dulu jika pada akhirnya, Intan lah yang banyak dirugikan kedepannya."


Fikri bahkan tidak percaya jika ternyata Rey bisa tahu kalau ia memiliki perasaan pada Intan. Perempuan yang sudah menjadi istri kontraknya selama tiga tahun.


"Aku yang minta maaf karena telah mencintainya."


"Itu hak kamu mas, karena Intan istri mu. Jadi jika memang mas tulus yakinkan dia dengan ketulusan yang mas punya." Rey sudah tidak ingin berlama-lama membahas Intan karena ia ingin segera mencari Qai.


"Aku harus keluar sekarang mas."


"Intan sakit Rey. Sia sudah tiga hari ini dirawat dirumah sakit."


"Lalu apa hubungannya dengan ku mas?" Tanya Rey heran. Ia memang sudah tidak peka dengan Intan karena Qai sudah benar-benar menguasai nalar Rey saat ini.


"Sejak waktu itu, Intan lebih sering murung, kurang istirahat dan nggak nafsu makan. Tolong temui dia walau sebentar saja Rey."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2