2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 7 GARA-GARA RANJANG


__ADS_3

Apa yang dikatakan Rey semalam benar adanya. Sore ini selain barang belanjaan mereka yang baru datang diantar oleh pegawai toko. Sore itu juga ranjang ukuran besar datang ke rumah mereka.


Beberapa orang ikut membantu memindahkan ranjang yang lama ke luar rumah dan memasukkan ranjang baru kedalam kamar mereka.


Qai sampai tidak habis pikir kalau secepat ini Rey mengganti ranjang mereka. Dan dibuat heran karena ranjang yang lama dibawa mobil yang mengantar ranjang baru mereka.


"Itu ranjangnya mau dibawa kemana kak?"


"Aku jual" Jawab Rey santai. Seketika jiwa marketing besinya menular untuk menjual ranjang mereka.


"Kenapa harus dijual kak?" tanya Qai kesal.


"Biar menghasilkan uang. Memangnya kenapa?"


"Ih kenapa nggak bilang dulu kak sama aku. Itu kan ranjang kenangan pertama kita."


Qai yang kesal langsung masuk kedalam rumah. Membiarkan Rey berdiri seorang diri di teras. Qai langsung menuju dapur untuk membersihkan barang-barang yang baru datang itu agar bisa cepat ditata rapih.


"Kamu marah Qai?" tanya Rey yang baru masuk ke dapur.


"Enggak" Jawab Qai singkat.


"Kalau aku salah tolong bilang. Jangan seperti ini."


"Itu ranjang kenangan kita kak. Kenapa harus diganti, kenapa harus dijual."


"Kenangan apa maksudnya?" tanya Rey yang belum maksud dengan pikiran Qai.


"Tau ah..."


"Kenapa aku kesal seperti ini sih? Tapi aku nggak bisa bohong kalau aku jengkel dengan hal ini" batin Qai sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


"Aku salah apa Qai? Jangan memintaku menerka-nerka karna aku nggak tahu salah aku apa kalau kamu nggak bilang."


"Ranjang itu kenangan kita kak. Pertama kali kita melakukannya pun disana. Kenapa harus diganti secepat ini. Kenapa harus dijual?"


"Ya Allah. Aku minta maaf Qai kalau aku nggak bilang ke kamu dulu dan menganggap itu penting. Tapi ranjang itu memang harus diganti agar lebih luas kiat tidurnya."


"Lalu kenapa nggak kakak tarok di kamar sebelah seperti ucapan kakak semalam?"


"Untuk apa? Mubazir Qai kalau nggak dipakai."


"Kan bisa digunakan anak kita nanti. Kan memang masih bagus ranjangnya kak. Sangat-sangat layak untuk dipakai."


Rey tersenyum menatap Qai yang kesal terhadapnya. Rey langsung melangkah mendekati Qai. Ia sedikit membungkuk Agar wajahnya sejajar dengan wajah Qai.


"Jadi kamu sudah siap jadi ibu dari anakku?" tanya Rei berbisik.


Deg


Sedetik itu juga detak jantung Qai terus bergemuruh. Berdetak sangat cepat saat mata mereka bertemu pandang. Qai kini menyadari kalau ia tanpa sadar mengucapkan apa yang menjadi kekesalannya tadi. Karena sudah terjun kedalam air mari kita menyelam, mungkin itu yang dipikirkan Qai saat ini.

__ADS_1


"Memangnya kakak nggak mau punya anak sama aku?" tanya Qai lirih.


"Tentu saja aku mau" Rey langsung menggendong Qai ala bridal style.


"Mau kemana kak?" tanya Qai sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Rey.


"Ke kamar" Jawab Rey singkat sambil melangkah meninggalkan dapur.


"Mau ngapain?"


"Buat kenangan baru di atas ranjang kita yang baru."


"Eh ta…tapi kita harus membereskan barang yang baru datang kak."


"Kita bisa membereskan itu nanti. Kita barus melakukan seberapa banyak kita meninggalkan kenangan di ranjang yang sudah sold out."


Qai jadi mengingat berapa kali mereka melakukan hal itu. Qai jadi berfikir horor apakah mungkin mereka akan melakukan hal itu sampai tiga kali.


Dan benar saja perkiraan Qai tadi. Rey benar-benar mengajaknya berulah dengan berbagai cara sampai tiga kali puncaknya.


Jika kebanyakan orang melakukan hal itu malam hari dan membuat pasangan begadang. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Rey dan Qai.


Rey masih betah berada diatas Qai. Rei menenggelamkan wajahnya pada leher Qai dan Qai membelai punggung polos dengan peluh yang sudah banyak mereka hasilkan.


Nafas mereka benar-benar masih memburu. Detak jantung mereka pun hingga terasa satu sama lainnya. Karena cara kerjanya yang terasa sangat cepat.


Tak lama kemudian, Rey menjatuhkan dirinya kesamping. Membuat mereka yang tadinya masih betah menyatu kini harus terpisah karena rasa sudah sampai pada puncaknya. Puas.


Entah apa yang terjadi padi diri mereka masing-masing. Karena dalam hati yang belum disadari itu memberikan rasa yang sungguh sulit untuk di jabarkan dengan kata.


"Ayo kita mandi" Ajak Rey saat mendengar adzan magrib.


"Apa kita akan mandi bersama seperti yang kakak maksud?" tanya Qai dengan wajah polosnya.


Rey tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Ia langsung bangun dan langsung menggendong Qai untuk menuju kamar mandi.


"Kenapa kakak tertawa?"


"Itu bisa kita coba lain waktu."


.


.


.


Setelah membereskan barang-barang yang ada di dapur Rey langsung mengajak Qai keluar rumah. Akibat aktifitas mereka sore tadi. Membuat keduanya tidak sempat untuk masak terlebih dahulu.


"Mau makan apa Qai?" tanya Rey sambil fokus mengemudikan motor kesayangannya.


"Ikan bakar kak" Jawab Qai cepat.

__ADS_1


Jujur saja roti yang mereka makan tadi waktu setelah magrib tidak cukup untuk mengganjal perut yang kelaparan setelah melakukan tiga adegan.


"Meluncuuurrr..."


Rey langsung memarkirkan motornya setelah sampai di tempat makanan yang menyediakan ikan bakar.


Meski berada di pinggir jalan namun tempat makan ini cukup ramai malam ini.


"Pak ikan bakarnya satu sama ayam bakarnya satu. Makan disini ya pak."


"Minumnya apa mas?" tanya penjual.


"Es jeruk sama... kamu minum apa Qai?" tanya rey yang menatap Qai.


"Es teh mas."


"Minumnya es jeruk sama es teh ya pak."


"Siap, ditunggu ya mas."


Rey mengangguk dan langsung mengajak Qai memilih tempat duduk yang terlihat kosong.


Baru juga duduk ponsel Rey berdering tanda ada yang menelponnya.


Karena sedikit ramai dengan suara pelanggan, Rey meninggalkan Qai untuk mencari tempat yang sedikit sepi. Agar suara temannya yang menelpon terdengar jelas.


Hampir sepuluh menit Rey meninggalkan Qai seorang diri menunggu pesanan makanan mereka.


Rey langsung melangkah lebar karena matanya dibuat kesal dengan dua orang lelaki yang duduk didepan istrinya. Sedang wajah Qai jelas terlihat risih dengan dua lelaki didepannya itu.


"Ehm..." Rey berdeham sekerasnya membuat kedua lelaki didepan Qai itu menoleh menatapnya.


"Siapa kamu?" tanya salah satu lelaki disana.


"Suaminya." Jawab Rey sambil menatap dua lelaki dengan rasa jengkel.


"Nggak usah ngaku-ngaku. Dia disini sejak tadi sendirian. Sana pergi." Usirnya.


Rey mencoba sabar dengan perasaanya yang ingin sekali memukul kedua wajah lelaki didepannya ini.


"Lihat baik-baik dengan kedua mata kalian berdua." Ucap Rey sambil mensejajarkan tangannya dengan tangan Qai. Memberitahukan cincin pernikahan mereka.


"Dia istri saya." Ucap Rey dengan nada marah membuat dua pemuda itu langsung berpindah mencari tempat duduk yang lain.


Rey langsung duduk di samping Qai dengan perasaan yang jelas masih sangat kesal.


"Apa mereka nggak bisa lihat perempuan yang sudah bersuami. Bisa-bisanya mengganggu istri orang." Gerutu Rey kesal.


Qai tersenyum menatap wajah Rey yang jelas masih suram. Entah kenapa gerutuan Rey yang terdengar olehnya justru membuatnya berbunga.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2