2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 62 MEMANJAT POHON


__ADS_3

Semua orang telah memasuki kamar masing-masing. Malam yang semakin larut pasti akan membuat siapapun langsung hanyut dalam mimpi.


Jari-jari Qai sejak tadi asik bermain di dada Rey. Sedangkan Rey hanya bisa memluk Qai sambil menahan diri dari godaan jari yang terus berusaha memancingnya.


"Kak."


"Hem."


"Ngantuk ya?"


Rey langsung membuka kedua matanya, menunduk untuk menatap Qai yang sudah menatapnya.


"Lumayan. Kamu belum ngantuk tah yang?"


"Kakak nggak pengen gitu?" Tanya Qai dengan ekspresi se menggoda mungkin.


"Pengen lah."


"Yuk."


Sejujurnya Rey heran dengan Qai. Dari yang ia baca di internet seorang perempuan yang sedang hamil untuk pertama kalinya kebanyakan akan takut di ajak begituan. Karena merasa tidak mau terjadi apa-apa dengan anak yang ada di dalam kandungannya.


Tapi Qai ini berbeda. Bahkan semenjak mereka baikan, Qai yang lebih sering mengajak duluan. Suami mana coba yang akan menolak jika di ajak ke hal yang begituan. Tentu saja Rey menerima ajakan Qai dengan suka cita.


"Kita masih dirumah ibu loh yang." Tolak Rey secara tidak langsung.


"Ya kita mainnya pelan-pelan saja kak."


"Puasa dulu lah yang. Malu aku nanti kalau suara kita kedengaran ibu, mbak, mas ahmad, dan yang paling bahaya kalau terdengar Ratih." Jelas Rey.


"Ya makannya kita pelan-pelan saja kak."


Rey menghela nafasnya. Heran dengan Qai kenapa selalu semangat untuk begituan. Memang enak sih tapi ini diluar dari sikap Qai yang biasanya. Rey jadi curiga kalau Qai pake obat penguat.


"Yakin kita bisa pelan?"


"Ya nggak juga sih kak. Tapi aku pengen." Qai masih saja merengek dengan suara yang memang berbisik sejak tadi.


"Rumah ini belum di plapon yang. Kamar kita juga sampingan dengan kamar ibu. Kalau kita tetap main walau niatnya pelan, pasti tetap saja akan terdegar jika ibu atau Ratih terbangun."


"Iya juga sih. Aku jadi kepikiran mbak Ratna gimana pas pengen kaya aku."


"Husss... jangan mikirin ranjang orang. Setiap pasangan suami istri pasti pintar menari kondisi yang."


"Tapi kita nggak bisa cari kondisi."


"Bukan nggak bisa sayang. Hanya saja kita terbiasa dirumah berdua. Jadi kita mau ngelakuin dimana pun bisa karena tidak memikirkan orang lain yang ada di dalam rumah."


"Besok sore kita kerumah ibu ya kak."

__ADS_1


"Iya yang."


.


.


.


"Mbak, Qai dimana?" Tanya Rey. Ia dan Ahmad baru pulang dari sawah.


"Tadi pamit pergi beli jajan sama Ratih dek." Jawab Ratna sambil terus menggoreng bakwan.


"Barusan atau dari tadi mbak?" Semakin penasaran saja Rey sekarang.


"Sudah dari tadi sih. Sudah nggak perlu khawatir dek. Nggak akan nyasar istrimu kan sama Ratih." Ucap Ratna santai.


Bukan masalah itu yang membuat Rey khawatir. Yang jadi masalah adalah keunikan Qai yang ada saja sejak hamil.


Rey langsung bergegas menuju warung yang tak jauh dari rumahnya. Warung yang biasanya Ratih beli jajan disana.


"Bude... Bude..." Panggil Rey setelah sampai di warung.


"Eh mas Rey. Cari apa mas?"


"Maaf bude saya mau tanya, Ratih tadi kesini nggak bude?"


"Kesini tadi sama tantenya. Makin cantik aja lo mas istrinya." Puji Bude warung.


"Coba cari ke bude Sum mas. Soalnya tadi istri mas Rey di tawari Buah jambu air di rumah bude Sum."


"Terimakasih bude. Kalau begitu saya mau cari istri saya dulu sama Ratih bude."


"Iya mas."


Perasaan Rey semakin tidak enak saja. Siapa yang tidak kenal bude Sum coba. Orang yang menanam banyak pohon jambu yang mengelilingi rumahnya. Rey sampai harus berlari agar cepat sampai kesana. Menyesal juga kenapa tadi dia tidak membawa motor saja agar sampai tujuan dengan cepat.


"Ratih Tante mana?" Tanya Rey setelah sampai dirumah bude Sum.


"Tante dibelakang om."Jawab Ratih yang kembali main dengan teman-teman sebayanya.


Rey langsung menuju halaman belakang rumah bude Sum. Sudah tidak perduli jika ia tidak sopan, toh dia tidak masuk kedalam rumah orang sembarangan. Hanya di halaman saja.


"Eh mas Rey. nyusul istrinya ya?" Tanya bude Sum.


"Iya bude." Rey mendekat untuk bersalaman dan mencium punggung tangan bude Sum sopan. "Qai dimana bude?"


"Itu lagi manjat pohon jambu jamaika mas." Tunjuk bude Sum dimana pohon jambu berada.


"Astagfirullah Qai..." Teriak Rey yang langsung mendekati pohon jambu yang berdiri kokoh dan menantang.

__ADS_1


"Kakak." Sapa Qai girang sambil melambaikan tangan tanpa melihat raut wajah Rey yang sudah ingin marah bercampur khawatir.


Rey harus sabar. Tidak boleh tersulut emosi karena kekhawatirannya sendiri. "Qai cepat turun. Kenapa nggak pakai genter saja tadi. Kok malah manjat."


"Aku ingin manjat kak. Lebih seru ambil buah jambu sambil manjat begini."


Bude Sum ikut mendekati Rey. "Tadi sudah bude tawari pake genter mas. Tapi mbak Qai nggak mau. Katanya ingin manjat ya sudah bude izinkan yang penting hati-hati." Tutur bude Sum menjelaskan.


"Tapi masalahnya istri Rey sedang hamil Bude." Ucap Rey yang sangat-sangat khawatir.


"Astagfirullah..." Pekik bude Sum jadi heboh. "Mbak Qai turun mbak. Bahaya." Teriak bude Sum heboh saat tahu kalau ternyata Qai sedang hamil.


"Iya bude sebentar lagi." Qai masih berusaha mengambil buah jambu yang berwarna merah kehitaman (Merah marun).


"Qai kalau nggak turun sekarang setelah ini kita pulang saja kerumah kita." Ancam Rey yang sudah kehabisan akal cara membujuk Qai agar segera turun.


Tak lama kemudian Qai sudah tutun. Menatap Rey tanpa rasa bersalah sedikit pun karena telah membuat suaminya khawatir nggak tanggung-tanggung.


"Sudah kan. Ayo kita pulang sekarang." Ajak Rey.


"Tunggu kak. Tuh bude Sum tadi sudah buatkan aku rujak loh." Tunjuk Qai pada Gazebo kecil yang terbuat dari bambu.


Dan kini Rey hanya diam mematung melihat dua orang perempuan tengah menikmati rujak.


"Kakak nggak mau apa?" Tanya Qai.


"Aku nggak pengin."


"Seger loh mas Rey siang-siang begini makan rujak." Ucap bude Sum.


Karena tidak enak hati dengan bude Sum yang terus menawarinya. Akhirnya Rey ikut menikmati rujak yang rasanya pedas-pedas manis tapi nagih banget.


Setelah puas menghabiskan rujak. Rey langsung mengajak Qai dan Ratih untuk segera pulang kerumah.


Setelah bergantian membersihkan diri, Rey langsung naik keatas ranjang dan langsung memejamkan matanya. Mendiamkan Qai yang bengong melihatnya.


"Kakak marah sama aku?"


"Enggak."


"Aku minta maaf kalau buat kakak marah."


Rey langsung menatap Qai. "Sayang. Apa tadi juga termasuk keinginan mu yang tiba-tiba ingin manjat pohon atau kamu sedang adu skill keahlian mu?" Tanya Rey penasaran.


"Aku tau itu bahaya kak buat aku. Tapi..." Qai menjeda ucapannya dan tersenyum menatap Rey. "Sekarang aku puas setelah bisa memanjat pohon lagi kak. Aku kira keahlian memanjat ku sudah menghilang begitu saja."


Sudahlah. Rey sudah tidak mampu untuk berkata-kata apa.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2