
Sejak tadi ibu Yani terus mondar mandir di ruang tamu. Sedangkan Ratna terus menggendong Ratih. Gadis kecil itu jelas takut saat hujan lebat bercampur angin kencang. Belum lagi gemuruh suara langit dan kilatan terus menerus tiada henti. Sampai membuat Ratih tertidur di gendongan Ratna.
Ratna sendiri juga tak kalah khawatirnya. Khawatir bukan karena Ahmad juga belum pulang ke rumah. Tapi menghawatirkan kedua adiknya yang kemungkinan besar terjebak hujan di sawah.
Kalau Ahmad sudah jelas, terjebak hujan pun karena masih kumpul di balai desa. Kalau tidak, pasti sekarang sudah di masjid karena memang sudah maghrib.
"Bu, Ratna susul Adek sama Qai dulu ya." Ucap Ratna. Ia telah meletakkan gadis kecilnya di kamar bu Yani. Karena memang sudah sejak umur tiga tahun Ratih tidur bersama bu Yani.
"Orang hujan lebat kaya begini. Tunggu reda pasti mereka pulang." Meski khawatir dengan kedua anak yang masih berada di sawah, bu Yani juga jelas tidak tega kalau anak perempuannya pergi ke sawah sendirian menyusul anak dan mantunya dengan cuaca yang seperti ini.
"Hujannya bakal awet ini mah bu. Sudah ibu tunggu di kamar saja biar Ratih nggak kebangun kalau ada suara Guntur bu."
Ratna jelas memaksa meski ibunya khawatir. Apalagi Ia sendiri tak kalah khawatir.Rey adalah adik satu-satu untuknya. Dan kini Rey sudah memiliki istri, jelas Ratna semakin double power khawatirnya.
Ratna yang sudah menggunakan jas hujan langsung keluar dari rumah dengan tetap menggunakan payung. Payung yang nantinya bisa digunakan Rey dan Qai.
Karena memang dirumah hanya mempunyai satu payung dan satu jas hujan yang biasanya di gunakan Ahmad saat sedang musim hujan. Dan sangat kebetulan jas hujan tidak Ahmad masukkan kembali kedalam jog motornya.
Ratna jalan cepat tapi tetap waspada karena takut juga kalau terpeleset karena jalanan yang becek. Menempuh hujan yang begitu deras demi kedua adiknya.
.
.
.
Rey terus memeluk tubuh Qai yang kini sudah berpindah diatas tubuh Rey. Mereka masih saja betah tanpa benang padahal cuaca sangatlah dingin. Tapi sepertinya tubuh keduanya masih lembab oleh keringat panas yang mereka hasilkan berdua tadi.
Mungkin itu alasan kenapa nyamuk saja tidak menghinggapi tubuh mereka yang jelas terpampang menjadi mangsa. Mungkin nyamuk takut tergelincir atau takut tidak bisa terbang jika sayapnya basah akibat terkena oleh keringat mangsa.
"Kak." Panggil Qai. Tangannya masih betah mengusap-usap dada Rey. lelaki yang kini menjadi penghangatnya dan alasnya juga.
"Hem..." Rey hanya bergumam karena ia masih ingin menikmati waktu unik yang mereka lewati saat ini.
"Yang belum tinggal di semak-semak ya." Ucap Qai usil.
Rey langsung membuka kedua matanya. "Kok di semak-semak." Ucap Rey heran.
"Kan di gubuk sudah. Dan buktinya nggak ambruk. Berarti kita harus coba di semak-semak kak."
__ADS_1
"Itu terlalu mainstream Qai. Bahaya kalau kita di patok ular."
"Eh biasanya juga banyak anak muda nakal yang begituan di semak-semak." Qai mulai mengajak Rey untuk berghibah sepertinya.
"Itu namanya mau enak tapi nggak mau modal. Apa ya nggak bernasib baikan pela*cur, sama-sama perempuan, sama-sama jadi pemuas nafsu. Bedanya kalau dalam hubungan pacaran mereka melakukan suka rela karena alasan cinta, dapet enaknya doang tapi kalau nanti ditinggalin perempuannya jelas rugi dong. Belum lagi, iya kalau mereka melakukan di tempat yang layak, lah kalau cuma di semak-semak, sunggu tidak ada harganya. Kalau pela*cur jelas dia jual diri. Sama-sama mendapatkan kepuasan, yang laki puas mendapatkan pelayanan, yang perempuan selain memang ia di bayar tapi juga ia mendapatkan kenikmatan raga, itu kalau memang ia menikmati juga. Belum lagi sudah pasti pela*cur dibawa ketempat yang layak. Nggak mungkin mereka mau dibawa ke tempat yang nggak layak seperti semak-semak, mungkin." Tutur Rey panjang lebar.
"Iya juga ya kak." Qai mencium dada Rey sejenak.
"Makanya, kamu itu istri ku Qai. Sudah pasti aku nggak mau mengajak kamu ketempat yang tidak layak. Apalagi untuk hal yang penting seperti ini."
"Halah, ini saja kakak ngajakin aku di gubuk."
"Tapi kan ini ide kamu sendiri." Rey tidak mau disalahkan.
"Iya memang ide aku. Tapi kan tetap saja kalau kakak nggak serang aku. Nggak mungkin jadi kaya begini.”
"Terus tadi siapa yang ngawalin peluk-peluk aku."
"Itukan karena aku kaget. Terus kakak yang cegah aku buat lepasin pelukan aku."
"Jadi menyesal nih kita ngelakuin disini?"
Rey spontan menarik tubuh Qai agar wajah mereka saling dekat. Menikmati lagi bagaimana manisnya tautan benda kenyal keduanya.
Samar-samar mereka mendengar seseorang yang memanggil nama keduanya. Namun sepertinya kini keduanya menulikan pendengaran mereka. Karena menikmati hal untuk membangkitkan hasrat mereka lagi itu lah hal yang penting saat ini.
Qai terus menjelajahi tubuh Rey dengan jemarinya. Sedangkan kini mulutnya sudah mulai turun mengakses leher Rey. rasanya suhu panas keduanya sudah kembali menyulut. Dan...
"Rey... Qai..." Teriak Ratna yang sudah semakin khawatir. Takut juga Ratna terjadi yang tidak-tidak pada kedua adiknya.
Rey dan Qai yang menyadari bahwa benar ada seseorang yang memanggil nama mereka langsung berlonjak mengakhiri hawa panas mereka.
"Rey... Qai..." Ratna mendorong pintu gubuk.
Dengan cepat Rey menahannya. "Iya mbak."
"Kok di tahan pintunya. Ayo pulang, ibu khawatir sama kalian." Jelas Ratna. Padahal ia sendiri juga tidak kalah khawatirnya.
"Jangan masuk mbak. Tunggu sebentar. Qai hidupkan senternya." Dengan cepat Rey dan Qai menggunakan pakaian mereka yang berserakan.
__ADS_1
"Astaghfirullah nyesel aku sudah khawatir kaya gini. Dasar adek-adek nggak ada akhlak, bisa-bisanya bikin senior senewen sendiri seperti ini." Gerutu Ratna saat menyadari kedua adiknya yang tidak langsung keluar dari gubuk.
Beberapa menit kemudian Rey dan Qai keluar. "Nih payungnya buat kalian." Ucap Ratna sambil mengulurkan payung yang ia gunakan sejak tadi.
"Terus mbak gimana?"
"Mbak kan sudah pakai jas hujan. Ayo cepat pulang, ibu dari tadi mikiriin kalian. Sudah tahu mendung dan sudah mau magrib kenapa nggak cepat pulang." Ucap Ratna kesal. Ia langsung berlalu begitu saja.
"Mbak jalannya jangan cepat-cepat. Licin." Teriak Rey mengingatkan. Ia dan Qai berjalan pelan. Rey terus merangkul Qai agar tubuh mereka merapat dan tidak terkena hujan.
Padahal meski terkena hujan pun sebenarnya nggak masalah toh keduanya juga butuh mandi membersihkan diri.
Sesampainya dirumah, mereka langsung memasuki rumah. Bu yani langsung keluar dari kamar saat mendengar suara Ratna.
"Sudah sana cepat mandi kalian. Magribnya sudah mau habis." Ucap Ratna.
Bu Yani menatap heran pada Qai dan Rey. "Loh Rey, kok kamu pake baju warna pink? Qai juga kenapa pakai baju terbalik?"
Ucapan bu Yani barusan membuat keduanya menunduk melihat kaos yang mereka kenakan. Dan kini Rey sadar kalau ia memakai kaos Qai sedang Qai memakai kaosnya. Pantas saja sejak tadi Rey merasa kaosnya terasa tidak nyaman. Akibat terburu-buru membuat keduanya saling bertukar kaos tanpa sengaja.
Ratna sendiri sampai menahan tawa yang ingin terbahak-bahak saat melihat ekspresi kedua adiknya, seperti maling yang tertangkap basah.
"Bu, mbak. Qai mandi duluan." Qai langsung berlalu begitu saja. Sumpah demi apapun malunya nggak tanggung-tanggung. Rasanya Qai ingin menyembunyikan tubuhnya dalam wadah ketumbar. Agar nggak kelihatan sekalian.
"Hahahaha..." Akhirnya Ratna bisa tertawa lepas saat Qai sudah berlalu.
"Ada apa to ini Rat?" Tanya Bu yani yang lupa kalau ia juga pernah muda.
"Mbak jangan ngeledek ya." Todong Rey.
"Sudah sana. Mandi bareng sekalian. Kalau gantian nanti nggak keburu solat magribnya. Sudah mau isha' ini." Rey langsung berlalu begitu saja. "Mas Ahmad sudahh pulang belum bu?"
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
Promosi novel ku yang sudah tamat 🤭 siapa tahu disini ada yang belum mampir😀
__ADS_1