
"Aku juga cinta kamu Ta." Rey menjeda ucapannya. Membuat Intan tersenyum senang dengan ucapan Rey barusan. "Tapi itu dulu, Saat aku belum menikah."
Seketika intan melepaskan genggaman tangannya yang erat, terkejut dengan ucapan Rey barusan.
Bagaimana bisa lelaki didepannya itu sudah membuatnya melambung tinggi lalu ia hempaskan begitu saja tanpa perasaan sedikit pun.
"Aku dan kamu sudah memiliki pasangan sendiri-sendiri Ta. Kita sudah menikah dengan orang pilihan kita sendiri."
"Tapi bukan aku yang memilih mas Fikri sebagai suami aku, itu pilihan keluarga. Yang aku mau kamu Han."
"Tapi aku sendiri yang memilih Qai menjadi istriku."
"Kamu terpaksa memilih Qai menjadi istrimu karna kamu kecewa sama aku Han. Andai waktu itu kamu langsung dengar penjelasan aku saat kita awal bertemu. Atau bukan Qai yang menerima telpon ku malam itu saat aku menjelaskan ini semua. Aku yakin kamu akan pertimbangkan semuanya Han."
Rey terkejut mendengarkan ucapan Intan yang kini menjadi inti pikirannya.
"Jadi Qai tidak memberi tahu kamu Han saat aku menelpon mu malam itu dan menjelaskan semuanya?" Tanya Intan saat melihat perubahan wajah Rey yang nampak terkejut. Intan Tersenyum sinis. "Dia memang berniat tidak memberi tahu mu rupanya."
"Wajar Qai melakukan hal itu. Dia melakukannya pasti karena takut aku kembali padamu dan meninggalkannya." Rey menjeda ucapannya. Rasa kecewa kini menyelimuti hati Rey yang selalu mengatakan hal apapun pada Qai. "Tapi sekalipun Qai memberitahu ku, aku juga tetap memilih tidak meninggalkannya Ta."
"Kenapa. Apa perasaan mu sudah berubah Han." Intan kini harus siap mendengar ucapan Rey selanjutnya.
"Entahlah. Tapi aku benar-benar ingin tetap bersama Qai, Ta." Ucap Rey jujur dari hatinya yang paling dalam.
"Kenapa bisa Han. Kenapa secepat ini perasaan mu berubah. Kita menjalin hubungan bertahun-tahun Han. Sedangkan pernikahan kamu masih belum genap enam bulan. Kenapa secepat itu kamu mengganti aku dengan Qai." Intan benar-benar tidak terima dengan ucapan Rey barusan. Apalagi saat Intan melihat jelas sorot rasa cinta untuk Qai Dimata Rey.
"Aku tulus bersama Qai Ta. Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi. Tolong pahami hubungan yang sudah kita miliki masing-masing. Kamu tetap bersama mas Fikri dan aku bersama Qai."
"Aku nggak mau Han. Aku nggak bisa terima ini semua. Aku nahan perasaanku selama bertahun-tahun untuk menunggu waktu aku bisa kembali sama kamu, agar kita bisa hidup bersama seperti mimpi kita dulu. Tapi kenapa jadi seperti ini." Air mata Intan sudah tidak mampu lagi di bendung.
"Maafkan aku Ta. Tapi harus kamu tahu, andaipun aku belum menikah dengan Qai dan aku masih singel. Aku tidak akan pernah kembali dengan kamu walau aku tahu pernikahan kalian adalah sebuah perjanjian."
__ADS_1
"Kenapa Han?"
"Karena aku akan memintamu untuk bertahan dengan pernikahan mu Ta. Aku jelas akan sakit hati tapi akan lebih sakit saat aku harus merusak senyum gadis kecil yang kamu sayangi Ta."
Kini Intan ikut melihat kearah yang di lihat Rey. Menatap Fikri yang sedang bercanda dan kejar-kejaran menunggu Intan berbicara dengan Rey. tapi Intan abai dengan hal itu karena ia lebih memilih egois.
"Kamu sudah janji akan menikahi ku saat kita melakukannya dulu Han." Kini Intan menggunakan janji yang pernah Rey berikan.
"Aku sungguh minta maaf tentang hal itu Ta. Aku menyesal karena telah mengambil kehormatan mu walau kita melakukannya atas dasar cinta dan sama-sama mau. Aku minta maaf soal itu Ta, Karena aku nggak bisa tepati janji yang aku buat. Kamu sudah menjadi istri orang dan aku juga sudah menjadi suami orang."
"Kamu harus tepati janji Han. Kalau kamu nggak bisa pisah dengan Qai, maka jadikan aku istri kedua mu. Aku rela asal kamu nikahi aku juga, asal kita bersama lagi."
Tutur Intan memegang erat tangan Rey.
"Jelas aku tidak akan melakukan hal itu Ta. Aku nggak bisa sakiti Qai demi kamu. Maaf."
Ucapan Rey barusan benar-benar melukai perasaan Intan. Luka yang tidak berdarah ternyata lebih menyakitkan dari pada goresan pisau yang melukai tubuh.
Rey menerima pukulan yang terus dilayangkan Intan pada tubuhnya. Membiarkan perempuan ini melepaskan seluruh amarahnya yang terpendam.
"Qai sedang sakit Ta. Aku harus pulang sekarang." Ucap Rey setelah Intan mulai tenang dengan amarahnya. Meski rasa kecewa dengan Qai yang telah menyembunyikan hal seperti ini. Tapi rasa kecewa itu kalah. Karena kini Rey benar-benar ingin cepat pulang dan mengetahui keadaan istrinya.
"Aku benci kamu Han."
"Bencilah aku sampai kamu puas Ta, sampai rasa bencimu menjadi sebuah rasa ikhlas. Dan lihat lah gadis kecil yang kamu prioritaskan hingga akhirnya kamu memilik membohongi aku. Tanyakan pada hati mu Ta, siapa sebenarnya yang membuat kamu bahagia. Aku rasa hidup tiga tahun bersama lelaki penyayang seperti mas Fikri, bisa meninggalkan banyak kenangan juga."
Rey langsung meninggalkan Intan begitu saja. Pikirannya sudah jauh melayang ke Qai, perempuan yang tadi pagi sedang tidak enak badan.
Dengan cepat dan waspada Rey mengendarai motor metiknya. Ia harus mampir ke apotik dulu sebelum sampai rumah. Membelikan Qai obat mual dan sakit kepala. Untuk berjaga-jaga jika sakit Qai belum mereda.
.
__ADS_1
.
.
Sejak tadi Qai berdiri di ambang pintu, menatap lekat setiap sudut ruangan rumah yang sudah menjadi tempatnya berteduh selama lima bulan lebih. Begitu banyak kenangan yang sudah ia dan Rey buat disana.
Qai mengusap air matanya lagi, menguatkan langkah untuk masuk kedalam rumah. Dan bersiap untuk meninggalkan semua yang jelas tidak mungkin bisa ia lupakan.
"Aku tahu ini tidak baik untuk ku. Tapi aku harap ini yang terbaik untuk mu Kak."
Qai langsung mengemasi pakaian yang sekiranya sangat ia perlukan. Ingin mengemas semuanya tapi itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Aku harap kakak bisa benar-benar bahagia setelah ini." Ucap Qai. Ia langsung keluar dan naik ke mobil yang telah ia pesan secara online.
Tak lama kemudian motor Rey sudah memasuki gerbang rumahnya. Ia menatap heran karena biasanya Qai akan langsung menyambutnya saat mendengar suara motornya.
Rey pikir mungkin sakit yang Qai rasakan belum mereda makannya Qai tidak keluar menyambutnya.
"Qai..." Panggil Rey setelah ia memasuki kamar.
"Qai..." Ulangnya sambil membuka pintu kamar mandi.
"Apa sedang ke warung ya." Gumam Rey. Ia langsung melepas seluruh pakaiannya untuk segera menyegarkan diri.
Sekitar lima belas menit, Rey sudah keluar dari kamar mandi. Dengan tubuh yang segar dan wangi sabun yang menenangkan. Rey kemabli melihat ke seluruh rumah, berharap Qai sudah pulang. Tapi dari dapur hingga ke depan, Rey tidak menemukan sosok Qai. Seketika perasaannya menjadi tidak enak.
Rey langsung masuk kedalam kamar untuk segera ganti baju. Baru saja membuka lemari, Rey di buat heran karena di bagian tumpukan pakaian Qai terlihat kosong. Rey kembali membuka bagian lemari lainnya dan betapa terkejutnya Rey karena pakaian Qai tinggal beberapa saja.
Mata Rey menemukan sebuah amplop putih, membuat perasaan Rey tiba-tiba semakin tidak enak. Mungkinkah Qai pergi meninggalkannya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️