2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 12 BEKAL MAKAN SIANG


__ADS_3

Setelah Rey melajukan motornya. Qai langsung menutup gerbang dan langsung masuk kedalam kamar. Ia duduk didepan meja rias. Kedua tangannya menopang dagu, sedang matanya terus menatap pantulan wajahnya sendiri.


Senyum Qai menghiasi wajahnya. Tangannya menyentuh dada dimana letak jantung berdetak. Merasakan lagi apakah jantungnya sudah berdetak dengan normal atau belum.


"Dengan kelembutan sikap dan caramu padaku. Meski aku sendiri belum tahu pasti ini perasaan apa. Tapi aku benar-benar nyaman kak." Gumam Qai. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Mengingat bagaimana keduanya berperang dengan benda itu.


"Jika mungkin sekarang baik kamu atau pun aku melakukan hal-hal hanya berdasarkan nafsu. Tapi suatu saat, semoga di hati mu melakukannya karena kamu tertarik pada ku kak."


Sejujurnya hati Qai juga merasa was-was. Apa lagi begitu setianya Rey selama ini pada mantan kekasihnya, Intan. Hati manusia siapa yang tahu.


Qai langsung bersiap-siap untuk keluar rumah. Qai berganti menggunakan celana panjang dan hoodie berwana pink kesukaannya. Rambutnya ia ikat dan jangan lupakan foundation untuk menyamarkan bercak dilehernya.


Qai langsung keluar setelah mengambil tas Selempang. Ia berdiri didepan gerbang sambil menunggu ojek yang ia pesan dari aplikasinya.


"Mau kemana mbak Qai?" tanya bu susi yang baru lewat.


"Ini mau beli tanaman bu." Jawab Qai dengan ramah.


"Itu loh mbak, kalau mau nanam bunga ambil saja bibit dirumah. Ada bunga mawar. Bunga matahari juga sudah ada bibitnya mbak."


"Baik bu. Terimakasih."


"Beneran lo mbak. Ke rumah saja nanti ya."


"Iya bu."


Tak lama kemudian ojek yang dipesan Qai datang.


"Mbak Qaila Zarina ya?" tanya bapak ojek.


"Benar pak. Ibu Susi, saya permisi dulu."


"Iya mbak. Hati-hati."


Motor melaju dengan kecepatan sedang. Menuju dimana tempat menjual bunga, pot, dan tanah kompos.


"Pak tolong ditunggu ya, biar saya nggak perlu pesan ojek lagi." ucap Qai yang langsung turun dari atas motor setelah sampai pada tujuannya.


"Iya mbak."


Qai langsung memilih beberapa pot dan mengambil beberapa wadah tanah kompos. Kemudian ia memilih bibit bunga yang menurutnya sesuai dengan seleranya.


Setelah semua terkumpul Qai langsung membayar apa yang telah ia beli. Orang yang menjual bunga pun membantu menata semua yang di beli Qai ke atas motor. Beruntung motor yang kendarai bapak ojek itu adalah motor metik.


"Maaf ya pak belanjaan saya banyak." Ucap Qai sambil naik keatas motor.


"Nggak apa-apa mbak. Masih aman kebawa kok ini."


Sesampainya didepan rumah, Qai langsung menurunkan semua yang telah ia beli. Dibantu oleh bapak ojeknya. Setelah selesai Qai memberikan uang ongkosnya.


"Mbak kembaliannya."


"Nggak usah pak, buat bapak saja."


"Alhamdulillah, terimakasih mbak."

__ADS_1


Qai langsung menutup Gerbang saat bapak ojek sudah pergi. Ia langsung masuk kedalam rumah karena waktu sudah siang.


Qai langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Kemudian ia langsung berganti baju.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Itu artinya saatnya para karyawan isoma. Satu persatu karyawan mulai keluar meninggalkan meja kerjanya.


"Makan apa kita hari ini?" tanya Rahmat menghampiri Rey.


"Bakso saja yuk." Usul Mansur.


"Boleh juga." Ucap Rahmat.


"Kamu mau apa bro?" tanya Mansur pada Rey setelah mematikan komputernya.


"Hari ini aku nggak ikut makan kalian."


"Kamu puasa?" Tebak Rahmat.


Rey membuka tasnya dan langsung mengambil bekal makan siangnya. "Aku bawa bekal." Ucap Rey sambil meninggikan bekalnya dihadapan Mansur dan Rahmat. Pamer.


"Serius kamu bawa bekal?" tanya Mansur belum percaya.


"Lihat dengan jelas" ucap Rahmat sambil mengarahkan kepala Mansur kearah bekal makanan Rey.


"Iri cuy" ucap Rahmat sambil meletakkan siku tangannya diatas pundak Mansur.


"Kayanya besok kita harus minta buatkan bekal istri kita cuy." Usul Mansur.


"Benar juga."


"Ya sudah sana kalian beli makan. Keburu habis jam istirahatnya. Belum solat juga."


"Kita keluar dulu bro." ucap Mansur.


"Sip."


Rey langsung keluar dari ruang kerja dan langsung menuju lantai 5 dimana pantry berada disana.


Ruang pantry hanya berisi beberapa orang. Dan hanya Rey sendiri yang laki-laki. Rey cuek saja meski menjadi pusat perhatian perempuan yang menatapnya.


Rey langsung menuju kursi dan meja yang kosong dan lebih jauh jaraknya dari beberapa orang yang ada disana.


Rey langsung membuka bekal makan siangnya. Ia langsung mengambil ponsel didalam saku celananya.


Rey langsung mengambil potret makan siang hari ini. Dan langsung membuka aplikasi berwarna hijau untuk mengirim pesan pada istrinya. Qaila Zarina.


Rey : "Terimakasih makan siangnya 😊."


Qai : "Semoga kakak suka. Maaf hanya bisa membawakan ituπŸ™."

__ADS_1


Rey : "Aku suka. Aku makan dulu yaπŸ‘‹."


Qai : "Iya. Selamat makan siangπŸ˜ŠπŸ‘‹."


Rey tersenyum membaca pesan percakapannya bersama Qai. Ia langsung mematikan layar ponselnya dan meletakkan diatas meja lalu menikmati bekal makan siang.


Makan siang seketika terasa berbeda karena kini ia menikmati makanan rumahan. Buatan istrinya sendiri.


Mengingat Qai anak satu-satunya dan anak terpandang di desanya. Jujur Rey tidak percaya kalau Qai ternyata sangat pintar dalam memasak.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Waktunya semua karyawan pulang. Rey langsung membereskan meja kerjanya dan langsung beranjak dari sana.


Rey mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Karena setiap sore hari lebih sering jalanan macet.


Wajar saja itu terjadi karena memang dari kantor mana pun seluruh karyawan akan pulang.


Rey belok ke salah satu mini market. Ia langsung masuk untuk membeli beberapa donat dengan rasa yang berbeda. Setelah membayar Rey langsung keluar dari sana.


Langkah kaki Rey terhenti saat melihat sosok perempuan cantik yang berdiri menatapnya.


Rey langsung memutuskan pandangan mereka dan langsung menuju dimana ia memarkirkan motornya.


"Rayhan. Kita harus bicara." Ucapnya.


"Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi Ta." Ucap Rey.


Tanpa sadar ia memanggil intan dengan sebutan Tata. Panggilan khususnya untuk intan.


"Tolong dengarkan aku dulu" ucap Intan sambil menyentuh lengan Rey.


Rey langsung menyempar tangannya. Agar tangan Intan melepaskan lengannya.


"Kita sudah punya kehidupan masing-masing sesuai dengan pilihan kita sendiri Ta." Jelas Rey dengan suaranya yang jelas marah.


"Tapi kamu nggak tahu alasan ku apa Han."


"Apapun alasannya, aku sudah tidak ingin lagi tahu apapun tentang mu Ta. Kamu sendiri yang memilih jalan mu dan aku harus mencari jalan lain untuk menyudahi semua perasaan ku. Jadi tolong jangan menemui ku lagi." Rey langsung menggunakan helmnya dan langsung menghidupkan motornya.


Intan langsung menghadang motor Rey. Seolah mengabaikan pandangan orang lain yang memperhatikan keduanya. Seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena salah paham.


"Kamu mau aku tabrak?" Bentak Rey yang sudah emosi melihat intan.


Sakit hatinya kini menggerogoti jiwanya yang ingin melupakan perempuan yang sudah ia nanti selama ini.


"Kamu salah paham Han. Aku punya alasan kenapa melakukan semua ini. Sebelum semuanya semakin jauh tolong berhenti membuat perempuan itu menjadi pelampiasan mu karena kesalah pahaman kita ini."


Rey tersenyum sinis menatap perempuan dihadapannya kini. "Aku bahkan tidak perduli dengan alasan yang akan kamu berikan Ta."


"Tolong dengarkan aku. Kita harus bicara Han, karena malam ini aku harus kembali ke Jakarta." Pinta Intan dengan linangan air mata.


Bersambung...


Aku sudah Update dari jam 6 ya 😌 nggak tau bakal lolos review jam berapa πŸ™πŸ™πŸ™


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️

__ADS_1


__ADS_2