
Jeni pun telah sampai di taman itu, dia berjalan seorang diri tanpa di temani bodyguard nya. Dia melihat sekeliling untuk mencari gadis yang menjadi incaran nya, tapi langkah nya terhenti saat dirinya melihat bram. Akan sangat susah bagi nya untuk mengerjai lala, dia pun masih terdiam di tempat nya. “Ahhh..Si*l, lagi lagi ada bram disana, mengapa dia selalu bersama dua gadis itu” gumam nya. Jeni hanya memperhatikan ketiga nya dari jauh, dia melihat ke arah bram. Dia merasa tatapan bram sangat berbeda saat menatap lala, dia tidak merasa kan tatapan yang seperti itu pada saat bram mentap diri nya. Jeni pun berfikir jika bram menyukai lala, hati nya semakin memanas. Dia tak kuat melihat kedua nya yang terlihat bermesraan walaupun di sebelah nya terlihat ada orang, tapi bram dan lala terlihat seperti sepasang kekasih. Akhir nya terlintas di benak nya untuk berpura pura sedang berlari di sekitaran taman, untung nya dia membawa sepatu dan ada juga beberapa kaos di mobil nya. Dia pun segera melakukan aksi nya, jeni berlari kecil sambil menggenggam sebuah pecahan kaca di tangan nya. Saat sudah dekat dengan posisi ketiga orang itu, dia berpura pura terjatuh di depan mereka. Lalu dia sengaja menggoreskan luka di lutut nya dan di telapak tangan nya yang membuat dia mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
*Di waktu yang bersamaan*
__ADS_1
Adrian bersama jimy dan kedua adik nya berada di dalam mobil, saat di perjalanan dia melihat anak buah nya berada di sekitaran taman. Dia pun menyadari jika anak buah nya yang ia lihat sedang ia tugas kan untuk menjaga lala. Lalu adrian sengaja membelokan mobil nya ke arah taman membuat jimy dan yang lain nya terheran. “Ka, kenapa kita kesini bukan kah kita ingin mencari tempat makan?” tanya jo yang penasaran. Adrian pun tersenyum sambil mengatakan “Turun lahh, aku ingin mengajak gadis kecil untuk makan bersama kita” ucap nya. Mereka bertiga tak mengerti apa yang di maksud dengan adrian, mereka semua hanya mengikuti adrian yang turun dari mobil. Saat sedang mencari posisi anak buah nya, adrian melihat seorang gadis kecil yang menggenggam sebuah kaca di tangan nya. Dia memperhatikan gadis yang terlihat tidak asing bagi nya, setelah itu dia membuka ponsel nya dan melihat sebuah foto. Saat dia menatapi nya orang itu terlihat sama dengan yang ada di layar handphone nya. Adrian yang merasa adik perempuan jun dalam bahaya langsung bergegas mengikuti nya. “Kalian diam lah pelankan suara kalian, saat ini adik kalian seperti nya dalam bahaya” ucap adrian, sontak ketiga nya kebingungan karna adik mereka hanya lah lala. Sedang kan lala berada di toko riana, mereka terus mengikuti gadis itu. Sampai akhir nya jo melihat lala sedang bersama riana dan bram dari kejauhan, “Ahhh si*l.., lagi lagi dia selalu bersama lala” umpat nya dalam hati. “Ka, itu lala wanita itu sedang menuju ke arah nya” ucap jo, semua pun menengok ke arah yang di tunjuk oleh jo. Saat jo ingin menghampiri dia di tahan oleh adrian “Tunggu kita lihat dulu apa yang akan di lakukan gadis itu” ucap adrian, tapi setelah itu dia menyadari tidak ada bodyguard di antara lala dan teman teman nya. “Ehh, kemana anak buah kakak mu. Mengapa tidak terlihat? Biasa nya mereka mengenakan baju hitam” tanya adrian. Saat adrian berbicara jo langsung menerobos berlari ke arah lala, saat jeni terjatuh dan mengeluarkan banyak darah lala belum menyadari nya. Dari jauh jo melihat apa yang di lakukan oleh jeni, dia yang sudah sampai di dekat lala dengan cepat menarik tangan nya, lalu memeluk lala dalam dekapan nya. Waktu jo sangat tepat karna saat jeni mengeluarkan darah dia sudah berhasil mengalihkan pandangan lala agar tak melihat kearah darah yang bercucuran. “Huhhhh, anak itu selalu saja tak menurut. Ayo cepat sebaik nya kita ke sana” ajak adrian kepada jimy dan Yang, kedua nya juga sedari tadi sangat khawatir dengan lala. Kejadian antara keduanya membuat riana dan bram terkejut, bagaimana bisa itu terjadi dalam waktu yang bersamaan. Namun saat bram melihat wanita yang terjatuh adalah jeni dia dengan cepat membangun kan nya “Jeni.. Apa itu kau?” ucap bram yang sangat khawatir. Sementara lala yang mendongak ke arah atas kepala nya dia sangat terkejut melihat jo dengan nafas nya yang terengah engah. Lala merasakan harum tubuh jo yang berkeringat, saat ini sangat nyaman bagi nya berada di pelukan jo tapi lala tersadar jika sekarang dia berada di tengah tengah taman. Lala ingin melepaskan pelukan nya tetapi jo menahan nya dengan erat “Diam lah jangan bergerak, jika kau melihat nya kau akan pingsan” ucap jo. Lala yang mengerti dengan omongan jo hanya terdiam dalam dekapan nya, saat jeni mendengar suara bram dia langsung menoleh ke arah bram. Tapi dia malah terkejut tidak melihat lala yang tergeletak di tanah, dia hanya menyadari ada seseorang yang saat ini sedang berpelukan dengan mesra. Jeni menatap wajah jo yang sedang memeluk lala, untuk sesaat dia tak berhenti berkedip melihat ketampanan jo. Bram dengan cepat membangunkan posisi jeni yang setengah terduduk di bawah tanah. “Kau mengapa bisa terjatuh” tanya bram, jeni yang masih memandangi jo dia tersadar dari lamunan nya dan menjawab pertanyaan bram “Aku sedang berlari di sini tapi tadi aku tersandung jadi membuat ku terjatuh dan berdarah” ucap nya. Jeni baru tersadar ternyata yang di peluk lelaki tampan itu adalah lala, dia yang melihat itu sangat kesal “Ahhh.. Si*l, mengapa gadis itu tidak pingsan” umpat nya dalam hati. Bram yang semakin khawatir dengan keadaan jeni dia menanyakan lagi kepada nya “Apakah sakit kau mengeluarkan begitu banyak darah” ucap bram, lala yang mendengar ucapan bram badan nya tergetar, jo yang sedang memeluk nya pun merasakan pergerakan yang di buat lala dengan cepat dia menenangkan nya “Sudah tak apa tenang lah, ada aku di sini” ucapaan jo sukses membuat bram dan riana menengok ke arah nya. Bram yang melihat lala berada di pelukan jo dia sedikit cemburu “Ahh, lagi lagi aku kalah cepat dengan nya” gumam bram dalam hati. Jeni yang memperhatikan bram memandang lala dia melanjut kan akting nya, “Aww, sakit sekali. Huhuhuhuhu” rintih nya dengan nada yang di buat menangis. Bram mengalih kan pandangan nya ke arah jeni dia pun mengelus rambut jeni “Tahan lah aku akan mengobati mu” ucap bram dengan nada yang lembut. Jo yang memperhatikan tingkah jeni sangat ilfeel di buat nya “Heyy, cepat lah bawa gadis itu pergi. Jangan berlama lama di sini” ucap jo dengan nada kesal, bram pun baru menyadari jika lala phobia terhadap darah dia dengan cepat mengangkat jeni. “Maaf, aku akan membawa nya pergi” ucap nya sambil menggendong jeni ala bridalmask lalu pergi meninggal kan jo dan riana. Saat berjalan dia berpapasan dengan adrian jimy dan yang, tapi bram tidak terlalu memperdulikan nya. Dia hanya berjalan melewati nya, para bodyguard dari jauh juga menghampiri nona nya yang terlihat bersama jo dan yang lain nya. Riana masih menatap ke arah jo dan lala yang terlihat masih berpelukan, tak lama adrian telah sampai bersama jimy dan Yang, juga terlihat dua bodyguard dan anak buah nya yang tak mengenakan seragam mereka. Setelah di rasa sudah aman jo melepaskan dekapan nya, saat lala melihat di sekitar nya dia nampak di buat bingung dengan banyak orang yang berdiri mengelilingi nya. Dengan cepat Yang mengelus rambut lala sambil mengatakan “Apa kau tidak apa apa?” tanya nya. Lala hanya mengangguk melihat ke arah Yang dan jimy, mereka pun merasa lega. Jimy menatapi riana yang berada di hadapan nya, sementara adrian memarahi anak buah nya dan beberapa bodyguard yang tak becus menjaga lala. “Kalian mengapa berpakaian seperti ini?, lihat karna jarak kalian yang sedikit jauh membuat kalian kecolongan dengan hal sekecil ini. Bagaimana jika gadis ini tergeletak pingsan?” bentak adrian, para bodyguard dan anak buah nya hanya menundukan kepala mereka. Sementara lala yang melihat pria asing memarahi bodyguard nya dengan cepat memukul punggung adrian “Kau ini siapa? mengapa memarahi anak buah ku” sambil memukul mukul badan pria itu, adrian hanya bisa menahan nya sementara jimy yang dan jo hanya tertawa melihat nya dipukul oleh lala. Riana lalu menangkan lala “Sudah la, kasihan tuh dia” ucap nya, lala pun menghentikan aksi nya. Para anak buah adrian yang melihat nya hanya menahan tawa mereka, karena bagaimana bisa ketua gengster yang di takuti di kota itu hanya diam tak berkutik saat di pukuli oleh seorang gadis kecil.
__ADS_1