7+1 Child

7+1 Child
Rahasia jeni


__ADS_3

Sekarang semua nya telah berada di sebuah restoran, adrian menatap ke arah lala dengan raut wajah yang kesal. Sementara lala hanya menunduk kan kepala nya, riana yang berada di sebelah nya yang tak tahu apa apa dia juga ikut menunduk kan kepala nya. Adrian terus memandangi lala, sangat lucu bagi nya saat gadis di pandangan nya hanya bisa terdiam. Sementara jimy dan kedua adik nya masih menahan tawa mereka saat mengingat lala memukuli adrian. “Kau, kenapa dengan kasar memukuli ku? untung saja kau adalah adik jun, jika tidak aku akan kembali memukul mu” ucap adrian dengan nada yang di buat seram. Lala yang sudah mengetahui adrian adalah sahabat jun juga sekaligus sebagai guru bagi para kakak nya dia merasa bersalah karna telah salah sangka dan memukul nya. Untung nya dengan cepat makanan mereka telah datang, lala yang sedang menundukan kepala nya langsung meraih makanan yang ada di depan nya. Dia pun memakan nya dan melupakan adrian yang saat ini sedang memarahi nya. Yang lain nya juga ikut menyantap makanan nya, sementara adrian hanya menatap ke arah mereka, dia merasa sedang di acuhkan oleh anak anak itu. Adrian juga ikut menyantap makanan nya sambil mengangguk angguk kan kepala nya “Ya, makanlah saja kau tidak di akui disini. Sabar, hidup ini memang pahit aku harus menerima nya” gumam nya, dia sangat depresi melihat bocah yang masih bau ingusan di depan nya. Hanya di depan anak anak ini dia seperti tidak ada harga diri nya. “Memang sudah nasib ku di kelilingi oleh anak anak yang nakal seperti mereka” ucap adrian yang masih tak henti henti nya ngedumal. “Oh iya ka, kenapa kalian bisa ada di taman” tanya lala yang penasaran, “Tadi kami habis berlatih setelah selesai ingin pergi mencari makan, tapi ka adrian membelokan mobil nya di taman. Dia bilang akan mengajak gadis kecil untuk ikut bersama kami” jelas Yang, “Tak tahu nya yang di maksud adalah kamu” lanjut Yang, sambil menyuap makanan kedalam mulut nya. Lala yang mendengar penejelasan dari kakak nya dia pun terheran dan berbisik kepada Jimy yang berada di sebelah nya “Ka, bagaimana dia bisa mengetahui aku ada di sana? Apakah dia seorang penguntit?” bisik lala kepada jimy namun bisa terdengar jelas oleh adrian. Jimy hanya tersenyum menahan tawa nya, sementara adrian yang melihat lala sedang membicarakan diri nya, dia dengan sangat kesal berdiri dari duduk nya “Yaaa, apa kau meragukan ku? Apa kau menganggap ku sebagai penguntit?” ucap nya dengan kesal “Apa kau ingin melihat ku membalikan meja ini sekarang juga” lanjut nya dengan nada kesal. Lala dan riana yang melihat adrian sangat terkaget, sementara jimy dan yang lain nya hanya tertawa melihat adrian yang sedang terlihat marah. “Tenang lah dulu kau harus duduk” ucap lala menenangkan nya sembil memberi isyarat dengan tangan nya untuk menyuruh pria di depan nya duduk. Adrian lalu terduduk dia kembali memakan makanan nya dengan emosi, saat ingin mengambil sepotong kentang dia mengambil pisau yang berada di sebelah nya, lalu menusuk nya dengan kencang hingga menimbulkan suara yang keras dan menatap lala dengan tatapan tajam sembari memasukan kentang yang masih menancap di ujung pisau ke dalam mulut nya. Jimy, Yang dan Jo semakin tertawa geli melihat tingkah adrian yang terlihat seperti anak kecil. Sementara riana menatap ke arah jimy, dia baru pertama kali melihat jimy tertawa geli seperti itu. Lala pun hanya menghela nafas melihat tingkah pria aneh di depan nya “Hufftt dia kenapa sih, aneh sekali” gumam nya dalam hati. Akhir nya mereka kembali melanjutkan makanan nya, hingga semua telah selesai menghabiskan nya. Mereka pun dengan cepat bergegas pulang dengan dua mobil berbeda lala masih bersama riana di supiri oleh bodyguard nya, Sementara adrian dengan jimy yang dan jo.


Di waktu yang bersamaan bram sudah selesai mengobati luka jeni, dia dengan pelan mengusap rambut gadis di depan nya. “Sudah tidak apa apa” ucap nya dengan lembut, sementara jeni hanya menangis kesakitan. Walaupun gadis itu nekat melakukan tindakan seperti itu, dia juga hanya lah seorang anak remaja. Jeni terus menahan kesakitan yang telah di perbuat nya, kali ini dia tidak menangis buaya. Dia menangis karna tak bisa merasakan perih di telapak tangan dan kaki nya. Sementara bram hanya bisa memeluk dan menenangkan nya, lalu bram bergegas membawa nya pulang. Setelah sampai kehadiran kedua nya di sambut oleh mona ibu dari jeni. Dia terkejut saat melihat anak nya di gendong oleh bram “Ada apa bram? Mengapa kau menggendong nya” tanya mona, lalu bram menedudukan mona di sofa ruang tamu yang berada di dalam rumah itu. Lalu menjelaskan apa yang terjadi kepada jeni “Tidak apa apa tante.. tadi saat aku berada di taman dengan teman ku, aku melihat jeni terjatuh lalu mengeluarkan banyak darah dengan cepat aku membersih kan luka dan mengobati nya” jelas bram. Mona yang mendengar ucapan bram dia langsung berterimakasih pada nya, bram pun membalas nya dengan senyuman. Saat sudah di rasa tidak ada apa apa lagi bram pun segera pamit kepada mona dan jeni. “Tante sebaik nya aku pamit, ini sudah hampir sore aku harus pulang” ucap nya, “Ahh iya, terimakasih bram sudah mengantar jeni” sahut mona. Bram dengan cepat berdiri dari kursi nya lalu mengelus rmbut jeni yang masih menahan sakit di tangan nya setelah itu dia bergegas pulang. Setelah sudah tidak terlihat lagi bayangan bram mona menatap tajam ke arah putri satu satu nya “Kau ini kenapa bisa seperti ini?” tanya mona kepada jeni “Mahh, aku ingin mengerjai shiella. Aku berpura pura terjatuh dan melukai tangan ku sendiri agar bisa mengeluarkan darah. Tapi rencana ku gagal untuk membuat nya pingsan” sahut nya. “Kau ini sudah tua tapi mengapa sangat Bod*h” bentak mona, jeni yang mendengar ucapan mamah nya dia membulat kan matanya dan menatap mamah nya lalu berkata “Mah jangan kencang kencang bagaimana jika ada yang mendengar?” ucap jeni dengan nada yang sedikit khawatir dan menengok keseluruh ruangan di rumah nya untuk memastikan ada orang atau tidak. “Apa masih sempat bagi mu untuk menakuti hal itu. Bagaimana jika bram melihat mu sengaja melakukan nya, apakah tindakan ini terlihat seperti selayak nya anak SMP..?” ucap mona dengan nada mengomel kepada putri nya. Jeni hanya terdiam mendengar bentak kan mamah nya, dalam hati nya semakin kesal lagi lagi dia gagal mnegerjai shiella. Dia juga sangat syok karna akibat kelakuan yang di perbuat nya, membuat mamah nya mengucapkan kata kata yang seharus nya tidak di keluarkan dari mulut nya. Karena bagaimana pun juga mereka berdua sudah saling berjanji tidak mengungkit masalah itu. Mona dan jeni punya rahasia yang hanya di simpan oleh kedua nya, sampai saat ini belum ada yang mengetahui nya. Jeni takut jika suatu saat rahasia ini akan terbongkar, pasti dia tidak akan bisa menikmati kekayaan yang sekarang di rasakan nya. Sementara mona juga mengendalikan emosi nya, saat ini dia sudah lumayan tenang. Dia juga baru menyadari apa yang seharus nya tidak dia ucapkan tapi malah keluar begitu saja daru mulut nya. Mereka berdua hanya bisa terdiam merenungkan apa yang terjadi hari ini.


__ADS_2