
Hingga malam pun tiba, hans bergegas ke alamat yang diberikan oleh kirana. Saat sudah berada percis di alamat yang tertulis, dia sangat di buat bingung karena tak melihat kirana di sana. Yang dilihatnya hanya sebuah bangunan yang cukup tua tapi terlihat masih kokoh berdiri, terdengar suara pintu yang terbuka dari dalam nya keluar kirana. Hans terpana saat melihat wanita di depan nya, kirana menggunakan dres hitam dengan panjang selutut kaki nya dengan bagian dada yang sedikit terbuka. Gadis itu terlihat seksi dengan pakaian nya,
“Masuk lah!, biar ku perlihat kan apa yang ada di dalam nya. Pasti kau sangat heran mengapa aku mengajak mu kesini” ucap nya sambil berjalan masuk kedalam dan di ikuti oleh hans. Di dalam nya terlihat banyak sekali lukisan, berbagai macam lukisan ada di sana bahkan ada juga beberapa lukisan erotis yang terlihat di sana. Hans sangat terkejut dengan pemandangan nya, ini seperti sebuah galery kecil yang sangat sederhana.
“Ini semua koleksi lukisan ku, aku yang membuat nya sendiri. Selain menjaga toko eskrim milik ku, aku selalu menyempatkan diri kesini. Ini adalah sampingan ku, tidak mungkin aku bisa menghidupi adik ku hanya dengan berjualan eskrim saja. Belum lagi kami harus membayar uang sewa untuk rumah kami” jelas kirana, lalu berjalan menuju sebuah lukisan dan memberikan nya kepada hans.
“Bawalah ini bersama mu, ku rasa dia adalah penyebab adik mu terluka” ucap nya. Hans hanya menatap lukisan seseorang dengan pakaian serba hitam nya dan masker yang menutupi sebagian wajah nya. Dia bukan melihat orang yang ada di dalam nya, tapi dia melihat lukisan yang terlukis dengan sempurna dan menampilkan kesan seperti nyata. Hans kemudian memfoto nya lalu mengirimkan gambar nya kepada jun
“Terimakasih atas info mu, aku sudah mengirimkan nya kepada ka jun. Tapi apakah kamu yang melukis ini?” tanya hans, “Tentu saja bukan, ini riana yang melukis nya. Waktu acara pensi itu dia melihat nya sedang terburu buru dan juga guru di sekolah nya sudah menangkap pelaku itu, yang tak lain adalah salah satu murid di sekolah nya. Tapi adik ku berfikir jika sebenar nya dia lah pelakunya bukan murid itu” jelas kirana.
“Ya untuk siapa pelakunya kami memang belum menemukan, biar kakak ku saja yang mengurus nya. Tapi aku tidak menyangka jika riana sangat berbakat, apa kau yang mengajari nya?. Untuk anak seusia nya bukan kah ini sangat susah untuk di buat” ucap hans membalas ucapan kirana.
“Hm.. memang aku yang mengajarkan nya, tapi aku tak melihat ada jiwa seni dalam diri nya. Dengan begitu musnah sudah harapan ku untuk mendaftarkan nya di galery BE” sahut kirana. Sementara hans yang mendengar nama galery nya dia langsung teringat dia juga ingin menanyakan sesuatu tentang lukisan dan ingin mengembalikan buku sketsa milik kirana.
__ADS_1
“Kirana jawab pertanyaan ku, apa kah itu kau yang mendaftarkan nya?” tanya hans, tapi kirana tak mengerti dengan apa yang di ucap kan nya. “Mendaftarkan apa?” kirana dengan cepat menjawab nya. “Apakah itu kau, beberapa tahun yang lalu ada yang mendaftarkan sebuah lukisan tanpa nama. Dan lukisan itu mendapat juara satu, namun sudah diumumkan berkali kali tidak satupun orang naik ke atas panggung. Dan akhir nya kami memutuskan untuk memajang nya di galery” jelas hans,
Kirana hanya terkejut kenapa hans bisa mengetahui nya, dia memang memdaftarkan nya di galery BE. Sejak dulu mimpi nya ingin menjadi pelukis kontrak di galery itu, memang dalam lima tahun sekali galeri itu akan mengadakan lomba untuk semua para pelukis berbakat dan jika berhasil mendapat juara satu galeri itu akan merekrut nya sebagai pelukis kontrak dan bisa menghadiri beberapa lomba ke luar negeri untuk di promosikan menjadi pelukis terkenal.
Tapi kirana masih terheran, mengapa hans bisa tahu padahal selama ini tak ada yang tahu tentang nya. “Ya itu memang aku, tapi kenapa kamu mengatakan nya dan mengapa kamu tahu?” ucap kirana. Bukan nya menjawab kirana hans malah memeluk nya
“Greeep”
Kirana terkejut dengan perbuatan hans, jantung nya berdegup kencang ketika kepala nya tepat bersandar di dada bidang milik hans yang di sertai dengan suara detak jantung nya. Sementara hans masih memeluk erat kirana “Akhir nya aku menemukan mu, kau sudah melewatkan banyak promosi untuk dirimu. banyak dari petinggi seni yang menanyakan keberadaan mu, mereka ingin bertemu dengan pemilik lukisan itu” ucap hans yang sangat riang karena sudah menemukan pemilik lukisan yang terpajang di galery nya. Lalu kirana yang mendengar nya melepaskan pelukan hans
“Bukan kah pemilik nya seorang kakek?, aku melihat nya sering berkeliaran di sekitar sana. Saat aku bertanya pada staf mereka bilang dia lah pemilik gedung itu, lalu aku sempat meminta tanda tangan nya” ucap kirana sambil menunjuk salah satu bingkai foto yang terdapat tanda tangan. Hans melihat kemana arah kirana menunjuk saat melihat tanda tangan itu dia nampak tak asing, ternyata benar dugaan nya itu adalah tanda tangan mendiang kakek nya.
“Itu tanda tangan kakek ku, beliau memang sering datang ke galeri ku karena akulah satu satu nya cucu yang mewarisi kesenian dari dalam diri nya. Gedung ini memang milik kakek, tak salah juga mereka bilang begitu” jelas hans. Kemudian kirana tampak mematung, dia tak tahu harus berkata apa ternyata hans adalah pemilik galery itu. Dan selama ini dia salah mengira jika kakek tua itu lah pemilik nya.
__ADS_1
“Kenapa? Kenapa tak datang waktu itu, bukan kah itu impian mu?” hans kembali melanjutkan perkataan nya dengan bertanya kepada kirana, sementara gadis di depan nya hanya terdiam sambil menatap nya.
“Duduk lah dulu, aku akan menyiapkan makan malam. Seperti biasa nya kau harus menemani ku minum” bukan nya menjawab pertanyaan hans kirana malah mengajak nya untuk makan. Hans tetap menunggu mungkin kirana nanti akan mengatakan alasan nya setelah duduk. Kirana pun sudah selesai menata meja nya, hans masih terduduk memandangi gadis yang tengah sibuk menyiapkan hidangan. Lalu kirana ikut terduduk di depan hans, kedua nya saling menatap. Dengan cepat kirana membuka sebotol wine untuk di minum nya malam ini. “Tahu kah kamu mengapa aku melakukan nya?” tanya nya, hans hanya menggeleng kan kepala nya.
“Dulu saat hari itu, tepat nya saat aku mendaftar kan lukisan nya aku mendapat kabar dari rumah sakit jika orang tua ku meninggal. Aku sudah mendaftarkan nya tapi aku memang belum mengisi siapa nama ku. Lalu aku meninggalkan lukisan nya di sana dan aku bergegas pergi kerumah sakit, saat aku sudah di sana orang tua ku sudah tertidur lelap”
“Tiga hari setelah itu aku kembali mendatangi galeri milik mu. Aku melihat jika lukisan ku mendapat juara satu, bukan nya senang aku malah sedih. Sudah berkali kali aku ikut serta, tapi di saat aku menang kedua orang tua ku sudah tidak ada. Aku tetap memilih diam, riana masih kecil saat itu jika aku mengatakan lukisan nya milik ku mungkin aku akan meninggal kan gadis kecil itu untuk bepergian ke luar kota bahkan keluar negeri untuk mendapatkan promosi. Jadi aku memilih untuk diam melihat nya terpajang di galeri mu saja aku sudah sangat senang” kirana telah selesai menjelas kan nya kepada hans.
Hans tertegun mendengar nya, ternyata masih ada yang meninggalkan karier hanya demi keluarga nya, memang sangat langka perempuan seperti kirana. Kemudian hans mengambil sesuatu dari balik jaz nya, “Aku juga inging ada yang dibberikan kepada mu” ucap hans sambil memberikan buku sketsa milik riana yang ada bersama nya. Saat melihat nya kirana langsung cepat mengambil nya dan terlihat senang, “Huaahhh, akhirnya aku menemukan nya. Aku sempat sedih karena buku ini tak terlihat di dalam tas ku. Aku sudah mengikhlaskan jika dia memang hilang, tapi tak ku sangka aku masih berjodoh dengan buku ini” ucap kirana sambil memeluk buku nya.
Hans hanya tertawa kecil melihat ekspresi lucu kirana yang mencium cium buku sketsa nya. “Berterima kasih lah pada buku mu, karena nya aku tahu siapa pemilik lukisan itu. Aku sudah melihat semua di sana, ku rasa sangat layak untuk di pentaskan” ucapan hans seketika membuat kirana merubah ekspresinya menjadi datar. Kemudian membuka buku nya dan membolak balikan halaman. “Aduhh dimana gambar itu, m*ti aku jika dia melihat nya” gumam nya dalam hati
Hans pun mengerti jika kirana tengah mencari potret diri nya yang sedang menggunakan lingerie. Hans menahan tawa nya, karena gambar itu sudah lebih dulu di robek dan disimpan di ruang kerja nya. Dia tidak mau kirana menjadi canggung terhadap nya karena sudah melihat itu, jadi dia sengaja merobek nya.
__ADS_1
“Kau kenapa? Apa yang kau cari?” pertanyaan hans membuat kirana memberhenti kan aksi nya membolak balikan buku milik nya. “Apa kau melihat sesuatu lain selain ini?, aku ingat masih memiliki gambar lain disini” tanya kirana dengan pelan. Hans menggelengkan kepala nya “Tidak hanya itu yang ku lihat” ucap hans dengan tergugup sambil menenggak wine di tangan nya. Setelah mendengar ucapan hans kirana tampak lega gadis itu menarik nafas nya dalam dalam dan membuang nya perlahan. “Huuhhh, untung saja dia tak melihat. Jika pun sudah hilang biarkan saja yang penting bukan dia yang melihat nya” ucap kirana dalam hati.