
Namira bekerja di sebuah klinik internasional. Gajinya cukup besar jika dibandingkan rekan-rekan sejawatnya. Bekerja sama dengan dokter-dokter tampan juga menjadi sebuah nilai tambah bekerja di klinik tersebut. Tak hanya itu, pasien-pasien dengan paras rupawan kerap datang dan pergi. Hidupnya telah makmur apalagi karena pekerjaannya tidaklah delapan jam melainkan hanya enam jam. Hal ini membuat Namira dapat melakukan praktik di dua tempat. Sebuah masa yang penuh dengan kenyamanan hidup. Bahkan kedua orangtuanya pun bangga dengan penghasilan yang diperoleh Namira.
"Selamat pagi dokter Andra!" Namira memberi salam. Pagi ini ia tugas jaga bersama dokter Andra. Beliau adalah pemilik dari klinik internasional ini.
"Pagi Namira. Mari berharap semoga pasien kali ini tidak terlalu menguras tenaga." Ucapnya ramah. Namira membalas dengan senyuman. Terkadang tugasnya di klinik ini mencakup tugas perawat. Mulai dari menjahit luka, mensterilkan alat, mengunjungi hotel tempat pasien menginap, dan masih banyak lagi. Hal ini terjadi karena setiap shift hanya diisi oleh dua hingga tiga orang. Kemungkinan yang terjadi adalah satu dokter dengan satu perawat, satu dokter dengan satu bidan, atau satu dokter dengan perawat dan farmasis.
"Hari ini lagi-lagi sepi sekali ya." Ucap dokter Andra.
"Iya dok. Sejak para wisatawan mengetahui arah menuju puskesmas terdekat atau rumah sakit internasional dengan peralatan yang lebih lengkap, mereka memilih kesana." Balas Namira.
"Yasudah tidak apa-apa." Dokter Andra membalas dengan lesu.
Beliau kira-kira berusia tiga tahun lebih tua dari Namira. Dengan penuh semangat dan ketelitian ia berani membuka sebuah klinik internasional sejak dua tahun lalu. Berdiri di tengah pusat wisatawan menginap, lingkungan sekitar klinik seakan tidak pernah sepi. Dokter Andra adalah orang yang sangat sederhana walaupun sebenarnya ia sangatlah kaya raya.
Berbeda halnya dengan Dokter Dimas. Ia dua tahun lebih tua dari Namira. Terkenal dengan kecerdasannya dan teoritisnya, banyak rekan-rekan yang kurang nyaman jika berjaga dengannya. Hal itu bukan masalah bagi Namira karena ia dapat mengimbangi sikap teoritis dokter tersebut.
"Dokter, ini adalah keluhan pasien bernama Miss Jade. Ia mengalami keracunan makanan." Namira menjelaskan setelah di ruang depan ia melakukan observasi dasar kepada pasien berkebangsaan Jerman tersebut.
"Baiklah, biarkan aku memeriksanya."
Beliau menyuruh Namira memberikan antibiotik.
"Dok, apakah perlu diberikan antibiotik? Biarkan saya menelpon farmasis." Sanggah Namira.
"Di buku tertulis begitu. Apa ada yang salah? Memangnya tidak boleh diberikan? Apakah cukup obat penghenti diare?" tanyanya bertubi-tubi sambil membenarkan letak kacamatanya.
Namira menghela napas melihat tersiratnya keragu-raguan pada dokter yang satu ini. Perdebatan pun selesai setelah menghubungi farmasis dan mencari literatur lain.
Namira sedikit menaruh rasa pada dokter Dimas karena penampilannya yang keren. Ia sangat tau bagaimana harus berpenampilan menarik. Apalagi semua barang mewah yang digunakan adalah hasil kerja kerasnya. Ya, setidaknya itu yang Namira ketahui. Pria tersebut berjaga di banyak klinik dan rumah sakit internasional. Kemampuan bahasa inggrisnya sangat baik. Ia juga mengajar les privat kepada murid-murid SMA yang ingin melanjutkan ke jurusan kedokteran.
__ADS_1
Sayang seribu sayang, di kesempatan yang lain, seorang wanita datang ke klinik dan membuat keonaran.
"Aku tidak mau putus! Kita sudah tunangan! Ingat itu! Aku sudah membayar mahal untuk semua masa yang kita lalui!"
"Kamu kekanak-kanakan! Keluar dari sini dan jangan membuat onar!" Teriak dokter Dimas. Namira dan Antari yang menemani dokter Dimas berjaga malam otomatis menjadi kaget.
"Enggak sampai kamu cabut kata-kata putus. Aku bunuh diri saja di sini! Aku sudah berusaha jadi lebih pintar dari kamu! Sebentar lagi disertadiku selesai. Aku S3 di usia 24 tahun!" Ucap gadis itu sambil berteriak.
Namira dan Antari saling pandang seolah dalam hati mereka berkata bahwa usianya sama dengan mereka.
"Ayo keluar!" Ajak dokter Dimas.
Selang beberapa menit kemudian, muncullah dokter Dimas seorang diri.
"Maaf membuat keributan. Dia memang seperti itu. Aku harus tegas." Ucapnya.
"Benarkah kalian tunangan dok?" tanya Antari.
Baik Namira maupun Antari saling tatap. Ini sekaligus menandakan bahwa Namira harus memupus harapannya.
Hari-hari di klinik menjadi semakin suram. Tidak banyak aktivitas yang dapat dilakukan.
"Saya rasa gaji kalian harus dibayarkan pertengahan bulan. Saya mohon maaf. Kondisi klinik sedang tidak stabil. Saya harap klinik cabang Siantar dapat menutupi defisit di klinik ini." Ucap dokter Andra di tengah-tengah pergantian shift.
Antari dan dokter Rosa saling menatap seolah sudah mengetahui ini akan terjadi. Sepertinya di shift sebelumnya mereka saling berbincang mengenai kondisi klinik.
"Aku akan tetap di sini karena di sini nyaman sekali." Ungkap dokter Rosa. Memang bagi para dokter kondisi pasien yang sedikit membuat mereka dapat beristirahat. Mereka yang umumnya telah bekerja di rumah sakit pemerintah akan terkuras energinya lebih banyak apalagi gaji mereka tidaklah seberapa. Banyaknya pasien di rumah sakit setara dengan sepinya pasien di klinik ini.
Sudah tiga bulan, Namira merasa sangat sumpek. Ibunya yang mengetahui kondisi klinik tersebut pun menyuruhnya segera pindah. Akan tetapi Namira masih bertahan.
__ADS_1
"Saya mohon maaf. Kontrak klinik ini tidak dapat saya perpanjang. Bagi teman-teman yang masih ingin bekerja bersama saya, akan saya himbau untuk ke cabang Siantar." Itulah pesan dari dokter Andra. Memang biaya kontrak tempat di pusat wisata ini sangatlah mahal. Namun jika dihitung waktu perjalanan hingga biaya transportasi dari rumah Namira menuju klinik cabang Siantar yang memakan waktu hampir satu jam, Namira merasa tidak akan sanggup. Apalagi jika mendapatkan shift malam atau harus pulang tengah malam.
Dengan berat hati ia memutuskan mundur. Klinik itu pun akhirnya ditutup secara resmi. Sekarang Namira menjadi orang yang terluntang lantung tidak jelas. Sebuah yayasan menawarkan dirinya untuk mengajar di sana. Akan tetapi gajinya sungguh jauh dari kata layak.
"Ma, kalau aku kerja di yayasan itu paruh waktu bagaimana? pekerjaan utama akan segera aku cari." Curhatnya pada mamanya.
"Kerja menggunakan seragam atau sesuatu yang rapi. Mama lelah melihat kamu kerja seolah main-main. Tetangga mengira kamu bukan bekerja. Atau pindah haluan saja di bank." Ujar mamanya.
Namira menjadi galau. Namun yang terdekat yang harus ia jalani adalah mengajar di yayasan.
***
Yayasan yang kecil namun memiliki murid yang banyak. Sebagai lembaga non formal, yayasan ini memiliki beberapa kelas dimulai dari sore hari hingga malam hari. Setiap sesi berisikan tiga kelas. Namira mengambil sesi sore dan ketika hendak selesai mengajar, pengajar sesi malam sudah tiba. Orang tersebut tak lain adalah Rido.
"Ini benar Namira?" tanyanya.
"Eh kamu Rido ya? Ya ampun apa kabar?" Namira balas bertanya.
"Wah, sudah lama sekali ya! Aku baik! Kamu bagaimana? Kenapa bisa disini?" Dodo kembali memburu pertanyaannya.
"Iya aku ngajar." Jawab Namira dengan senyum sumringah.
"Bukannya kamu kerja di klinik?"
"Bangkrut Do!" Namira berkata sambil mesam mesem.
"Pindah ngajar malam saja! Ada Ria juga." Lanjut Rido.
"Wah.. teman-teman masa kecilku berkumpul di sini." Namira sumringah.
__ADS_1
"Tapi bagian yang kekurangan pengajar adalah yang sore Do." Namira menjelaskan.
"Tidak apa. Nanti satu guru malam bisa pindah ke sore. Bisa diatur." Balas Rido dengan senyum manisnya.