
Tanggal lima belas.
Orang tua Namira sudah kembali. Mereka sibuk menyebarkan undangan, mendekorasi rumah, dan memikirkan menu masakan untuk menjamu orang-orang yang bertamu ke rumah sebelum hari H. Arnav dan Namira pun tidak saling bertemu karena pria tersebut juga sibuk dengan urusan keluarganya yang hendak tiba.
Tanggal enam belas.
Orang tua Arnav tiba dan melakukan fitting baju. Mereka juga membantu meninjau lokasi hotel karena Arnav masih tetap ke kantor seperti biasa.
Tanggal tujuh belas.
Hari-hari Arnav dan Namira masih sama, yakni sibuk dengan urusan masing-masing. Arnav telah memberitahukan teman-teman satu divisinya.
Tanggal delapan belas.
Semakin siap dan mantap untuk menghadapi hari H. Arnav pun terus-terusan digoda oleh rekan satu divisinya.
"Nav! Serius mau menikah?" Tanya Reva.
"Lho anak BO tau darimana?" Arnav menjawab dengan pertanyaan.
"Satu kantor juga sudah tau Nav! Aku pribadi minta maaf soal perilaku ku pada Namira. Aku tidak menyangka dia akan menjadi istrimu." Ucap Reva.
"Aku maafkan. Tapi selanjutnya siapapun karyawan baru di kantor, tolong jangan memperlakukan mereka dengan rendah." Tegas Arnav.
Badannya yang tinggi pun melangkah meninggalkan Reva.
***
Tanggal sembilan belas April
Keluarga Arnav semakin banyak yang datang. Sebagian dari mereka menginap di hotel. Tidak banyak aktivitas yang dilakukan Arnav bersama mereka karena ia masih tetap harus ke kantor.
"Nav, langsung pulang ya!" Pinta bu Santi. Arnav hanya mengangguk.
Ia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Apalagi teman-teman satu divisinya yang kerap menggodanya.
"Langsung gas ya mas!" Goda Tama.
Arnav hanya tersenyum geli.
"Kamu masih kerja Nav? Seharusnya ambil cuti saja." Saran Dilla.
__ADS_1
Arnav yang masih memikirkan soal karakter Dilla menjadi sedikit berhati-hati pada wanita tersebut.
"Mau kado apa Nav?" Tanya Dilla.
"Tidak perlu repot-repot. Aku minta doanya saja semoga aku dan Namira bisa bahagia bersama selamanya." Ucap Arnav sambil tersenyum senang. Ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Dilla pun hanya membalas dengan senyuman yang nampak dipaksakan.
***
Tanggal dua puluh
"Kita akan ke hotel jam satu siang. Kamu akan mulai didandani di jam tersebut. Mama dan papa selesai acara akan kembali kesini. Hanya kamu dan Namira yang akan tetap di hotel." Ucap bu Santi.
Arnav mengangguk. Bahkan sarapannya pagi ini pun tidak ia sentuh karena terlalu gugup.
"Makan Nav! Biar nanti malam bertenaga!" Goda mbak Sari.
Arnav hanya tersenyum malu-malu.
"Tidak kusangka Arnav bisa menunjukkan ekspresi menggelikan begini." Lanjut mas Farhan.
"Tapi Namira itu nampaknya sangat polos ya. Dia juga tidak agresif, tidak manja. Hm.. Sepertinya susah nih." Mbak Sari kembali menggoda.
Sementara di rumah Namira....
"Mbak, Yanti bakal menemani mbak Namira seharian ini sampai resmi menikah!" Ujar salah satu sepupu Namira yang cantik semampai.
"Terima kasih." Jawab Namira kaku.
Rumahnya kini sangat ramai. Kakek neneknya serta saudara-saudaranya telah berkumpul sejak pagi.
"Bagaimana rasanya mbak?" Tanya Yanti.
"Mbak tetap menyarankan kamu untuk tidak terburu-buru menikah." Ketus Namira.
"Mbak sebenarnya mau menikah usia berapa? Apa ini karena didesak calon suami mbak yang sudah berusia tiga puluh tahun?" Yanti menjadi semakin ingin tahu.
"Pokoknya kamu harus sangat mapan dulu baru menikah." Nasihat Namira.
"Tapi suami mbak kan sudah mapan, kenapa mbak harus mengejar mapan?" Yanti kembali menyerang dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Kemapanan itu semu. Mau tidak mau kita harus memiliki rencana cadangan. Setidaknya diri kita juga harus mapan." Balas Namira. Yanti hanya mengangguk-angguk tanda paham.
***
Jam satu siang, mereka bergegas menuju hotel. Namira memasuki ruang rias yang berbeda dengan Arnav dan keluarganya. Banyak hal yang dilakukan hingga akhirnya jam menunjukkan angka empat. Sudah saatnya Arnav menuju ruang pernikahan. Beberapa tamu nampak hadir. Saat Arnav sudah mengucapkan janji pernikahan, barulah Namira diperbolehkan menuju pelaminan. Arnav terkejut dengan penampilan Namira yang sangat anggun dengan gaun putih panjangnya yang bermanik-manik namun berlengan panjang. Rambutnya bergelombang dengan mahkota dan membawa sebuket bunga. Namun Namira tidak menatap Arnav dan justru sibuk memandang dekorasi pelaminannya yang sangat menawan dipenuhi bunga-bunga asli.
Ketika ia mendekat, gadis itu hanya tersenyum kaku pada Arnav. Setelah menandatangani beberapa dokumen dan mendapatkan buku nikah, mereka duduk di pelaminan. Arnav sangat gugup, begitu pula dengan Namira. Para tamu tidak akan bersalaman namun mereka lah yang akan berjalan-jalan menuju meja tamu satu per satu.
Arnav membantu Namira yanh sedikit kesulitan dengan gaunnya. Dengan lembut ia menggandeng tangan istrinya. Mereka menyambut dengan ramah. Siska, ria, Pratama, Adrian, hingga Tama dan Raja sudah mereka hampiri. Teman-teman orang tua mereka pun juga sudah. Mereka menuju meja tamu di belakang. Nampak Dilla dan seorang wanita dengan laki-laki dan anak perempuan berkisar usia lima tahun. Di meja sebelahnya lagi nampak Prita yang terus menunduk serasa ketakutan.
"Nav, selamat atas pernikahanmu. Semoga bahagia." Ucap wanita berparas cantik oriental dengan rambut lurus hitam nya.
"Terima kasih Nov, terima kasih Yuda." Ucap Arnav pada wanita tersebut dan suaminya. Dilla pun memberi ucapan selamat namun ia memeganh sebuah gelas.
"Ah, maaf Namira! Aku sungguh minta maaf." Ujar Dilla sambil membersihkan noda cocktail di baju Namira yang jelas saja membuat noda itu makin melebar.
"Sudahlah mbak, tidak apa-apa." Jawab Namira. Ia mengajak Arnav ke meja Prita namun lelaki tersebut enggan.
"Kalian lanjutkan saja, saya permisi ke meja sebelah." Pamit Namira.
Sebenarnya Arnav ingin marah pada Dilla soal ketidaksengajaannya menumpahkan minuman, namun ia urungkan karena sedang ada Novi dan keluarganya.
"Mbak Prita, terima kasih sudah hadir." Ucap Namira.
Gadis itu duduk seorang diri dan tersenyum pada Namira.
"Aku sungguh tidak lagi mempermasalahkan pernikahan kalian, tapi tolong jangan biarkan Arnav terus-terusan marah padaku." Ucapnya.
Namira menepuk pundak Prita dan berkata, "Saya akan coba menjelaskannya mbak."
Mereka kembali ke pelaminan. Arnav menatap Namira khawatir. Sebuah lagu dipersembahkan oleh Ria untuk mereka dan diakhiri dengan pelemparan buket bunga. Acara berlangsung meriah dan lancar hingga Namira berbisik, "Kenapa betah sekali di meja mbak Dilla?"
Arnav menoleh gugup karena Namira berbisik begitu dekat dengannya namun sekaligus mempertanyakan arti dari pertanyaan tersebut.
"Aku hanya tidak mau menemui Prita." Jawab Arnav.
"Oh ya? Kupikir karena nyaman dengan mbak Dilla. Padahal lebih anggun wanita di sebelahnya." Lanjut Namira.
"Novi? Aku memang dulu menyukainya." Jawab Arnav yang sontak membuat Namira membelalakkan matanya.
"Tenang dulu, dia tidak mau menungguku dan menikah dengan Yuda." Ucap Arnav sambil menggenggam tangan Namira.
__ADS_1
Acara diakhiri dengan foto bersama.
***