Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Hidup Tenang


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Namira menjadi sangat ekspresif. Ia mulai cerewet, mudah marah, mudah senang, dan protektif. Masa mual nya sudah berlalu. Ia menjalani kehamilan dengan lebih baik dan tetap menutup rapat berita ini dari siapapun. Ia menggunakan baju longgar sehingga tidak menarik perhatian. Hanya saja beberapa rekan kerjanya menganggapnya lebih berisi.


"Sepertinya hidupmu makmur setelah bekerja di sini!" Komentar Serkan.


"Iya dokter! Gajinya sangat cukup untuk membeli segudang camilan!" Namira tertawa.


Mereka beralih ke kesibukan masing-masing.


***


"Namira! Kita akan seminar ke Pulau Panjang. Kita akan menaiki pesawat selama kurang lebih dua jam. Kegiatan berlangsung tiga hari. Apa kamu mau ikut atau kugantikan yang lain?" Serkan bertanya saat pulang.


"Aku tidak enak jika selalu aku yang ditunjuk. Serahkan saja pada yang lain." Namira menolak halus.


"Baiklah! Bagaimana kuliahmu?" Tanya Serkan sambil berjalan ke parkiran.


"Sejauh ini baik. Tapi yang menyimak materi adalah mas Arnav. Aku sering ketiduran. Hehe!" Jawabnya sambil tersenyum.


"Eh Namira! Kamu kerja di sini?" Tanya seorang wanita, dia adalah Dilla.


Namira hanya mengangguk. " Ada perlu apa di klinik mba?" Tanya Namira sopan.


"Aku telat makan. Maag ku kambuh." Jawabnya tersenyum. Serkan mengajak Namira bergegas.


"Aku duluan mba!" Ucap Namira sambil berlalu.


Dilla yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum sinis. Ia nampak memiliki strategi baru.


***


"Aduh pak Harri, saya tidak bisa keluar kota! Kenapa rapat komite tidak dilakukan di sini saja?" Arnav nampak marah-marah melalui panggilan ponsel.


"Biaya kesana terlalu mahal Nav! Kamu ke kota Tua sekalian berkunjung ke rumah orang tuamu!" Seru pak Harri tak mau kalah.


"Kapan acara itu dilangsungkan?" Tanya Arnav menahan emosi.


"Pertengahan bulan ini. Setelah selesai kamu boleh langsung pulang walaupun sebenarnya kita memiliki satu hari bebas." Jelas Pak Harri.


Arnav menghela nafas.


"Halo ma, bisa tidak resepsiku dan Namira dilangsungkan pertengahan bulan ini? Simpel saja. Aku ada urusan di Kota Tua selama tiga hari. Gunakan hari kedua untuk resepsi." Terang Arnav.


Bu Santi tentu sangat senang. Ia menghubungi bu Megumi.

__ADS_1


"Resepsi pertengahan bulan ini ya bu!" Ujarnya.


"Tapi saya harus langsung pulang karena banyak pesanan masuk pada tanggal itu." Bu Megumi tidak mampu menolak besannya tersebut.


"Tenang saja. Berapa orang dari sana? Akan saya pesankan tiketnya. Jika mau menginap, akan saya siapkan hotelnya sekalian." Bu Santi nampak bersemangat.


"Kami langsung pulang saja. Kurang lebih lima orang saja bu." Jawab bu Megumi sopan.


"Baiklah! Akhir tahun datanglah kemari lagi dan kita jalan-jalan bersama!" Bu Santi mengakhiri panggilan.


Bu Megumi sebenarnya sangat kesal dengan apapun yang mendadak. Itu semua karena ia selalu harus menyiapkan dana untuk ini dan itu. Ia pun menghubungi Namira.


"Halo ma, apa kabar?" Tanya Namira senang. Tumben sekali ibunya menghubunginya.


"Namira, kenapa resepsinya dimajukan pertengahan bulan ini? Mama harus mengatur agenda, mempersiapkan oleh-oleh dan uang yang disisihkan untuk itu belum cukup!" Mamanya mulai panik. Namira heran mengapa kedua ibunya baik kandung dan mertua selali saja panik terhadap sesuatu hal.


"Namira bisa memberikan uang ma. Sudahlah tenang saja. Oleh-oleh akan diurus Iwan. Ada lagi yang mama khawatirkan? Masalah pesanan furniture, coba diselesaikan secepatnya. Pokoknya jika butuh uang tiket, biaya sekolah Firda, katakan pada Namira." Gadis itu berkata dengan jengkel. Bahkan mamanya tidak menanyakan kabarnya. Ia justru fokus pada nominal saja.


Percakapan itu pun berakhir. Namira nampak sangat kesal. Arnav tiba di rumah dan bermaksud menyampaikan pembicaraannya dengan ibunya tadi siang.


"Mas, aku mau bicara!" Ucap Namira tegas.


"Aku juga mau bicara. Tapi kamu duluan saja sayang." Arnav berkata lembut masih dengan pakaian kerjanya.


"Oh, baru saja aku mau menjelaskannya. Jadi aku ada acara rapat komite dengan kepala cabang Az dari berbagai wilayah di kota Tua. Kupikir sekalian saja resepsi, jadi akhir tahun saat kehamilanmu sudah agak membesar, kita tidak perlu resepsi. Cukup berlibur saja." Terang Arnav.


"Undang juga dokter Serkan dan Vita. Dilla tidak usah diundang. Perawat Sylvia juga. Bayarkan tiket mereka, kecuali dokter Serkan. Lalu aku mau minta uang untuk diriku sendiri." Namira memerintah dengan judes.


Dia kenapa sih? Marah-marah, memerintah, menyeramkan sekali ibu hamil.


Arnav bergumam seorang diri.


"Baik sayang. Ada lagi? Ini bawalah kartu debitku. Ini saldo gerai dan Mall. Lalu untuk mini market, gabungkan saja di sini. Aku pasrahkan padamu semua jiwa dan ragaku." Arnav berkata dengan manja.


"Wah mulai kumat. Lalu mas Arnav tidak pegang uang?" Tanya Namira penuh selidik.


"Pegang dong sayang. Gaji dari bank Az." Arnav tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Aku terima debitnya. Terima kasih sayang!" Namira mengecup pipi Arnav.


"Hanya di pipi? mahal sekali harganya!" Protes Arnav.


"Tenang saja. Pelayanan memuaskan pokoknya!" Sahut Namira.

__ADS_1


Arnav merasa gemas dan mengacak-acak rambut Namira.


"Kamu sudah mulai berani dan nakal ya!" Goda Arnav.


Inilah kehidupan yang damai yang diinginkan banyak orang.


***


"Dokter Serkan!" Sapa Namira dengan senyum manisnya.


"Jangan tersenyum seperti itu. Aku semakin merutuki takdir bahwa kamu sudah menikah." Godanya.


"Hahaha! Lucu sekali gombalannya. Oiya, tanggal delapan belas aku akan resepsi di Kota Tua. Bisakah dokter datang? Akan ada perawat Sylvia juga. Aku sangat berharap dokter mau datang. Acaranya hanya sehari tapi ayo kita jalan-jalan di sana selama tiga hari." Ajak Namira.


"Jalan-jalan dengan suamimu juga lalu apa gunanya saya?" Tanyanya dengan tatapan dingin.


"Dia rapat komite!" Namira kembali tersenyum.


"Saya merasa seperti menjadi selingkuhan." Ucapnya kikuk.


"Sudahlah! Kita akan pergi beramai-ramai kok. Ayo kerja dulu!" Ajak Namira.


***


Arnav mengumumkan pada karyawannya jika tanggal tujuh belas hingga dua puluh September ia tidak akan di kantor. Ia pun menunjuk manajernya sebagai pengganti sementara.


"Jadi kamu mau rapat komite di kota Tua Nav?" Tanya Dilla setelah briefing.


Arnav hanya mengangguk.


"Kenapa sampai tiga hari?" Tanya Dilla menyelidik.


"Iya karena aku akan resepsi juga di sana. Oiya, aku harap kamu bisa menghandle semua di sini karena Vita akan pergi bersamaku." Terang Arnav santai.


"Kenapa bisa Vita?" Dilla seolah tak terima.


"Karena dia PR. Aku butuh bantuannya menyusun presentasi dan memperkenalkan bank Az cabang Tidore pada semua orang." Arnav menjawab asal.


"Oh jadi sekarang kepercayaanmu Vita?" Dilla nampak tak suka.


"Bukan begitu. Aku hanya membawa apa yang aku butuhkan." Jawabnya singkat kemudian pergi.


"Selera Arnav selalu muda. Vita baru berusia dua puluh tiga tahun sedangkan Namira dua puluh enam tahun. Tapi aneh juga. Biasanya dia akan membawa tim laki-laki. Kali ini perempuan? Arnav ternyata bisa membagi hati. Awalnya penasaran dengan Namira dan sekarang malah Vita. Oke! Dua istri tapi salah satunya harus aku!" Dilla tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2