
Februari
Memasuki usia kehamilan tujuh bulan, bu Megumi menanyakan kabar Namira melalui video panggilan. Mereka bertemu terakhir kali di bulan Oktober dan itu membuat keluarga Namira merasa kangen. Di tengah panggilan, bu Megumi melayangkan fokusnya pada sebuah kotak susu untuk ibu hamil.
"Kamu hamil?" Tanya bu Megumi. Sontak Namira menjadi terkejut.
"Kenapa mama bisa menebak seperti itu?" Tanya Namira panik.
"Memangnya di rumahmu ada wanita lain lagi? Siapa lagi yang minum susu untuk orang hamil?" Bu Megumi menaikkan volume suaranya.
"Haduh.. Iya aku hamil ma! Memangnya kenapa sih? Lagipula aku hamil dengan suamiki bukannya dengan orang lain atau pria lajang." Keluh Namira yang juga ikut emosi.
"Mama sudah bilang jangan hamil dulu! Kehidupan setelah memiliki anak itu tidak selalu mulus! Kamu juga tidak sebebas dulu. Ada tanggung jawab lain yang harus dipikul. Ada beban juga yang harus ditanggung." Jelas bu Megumi panjang lebar.
"Ma, anak ini bukan beban!" Tegas Namira.
"Iya tapi rumah tanggamu belum stabil. Kalian masih saling ego. Keluarga Arnav juga belum menerimamu sepenuhnya. Kalian masih harus adaptasi. Kalau kalian tidak cocok lalu bagaimana? Kamu harus berpisah dengan menanggung anak." Bu Megumi masih nampak emosi.
"Ah terserah mama saja! Pokoknya jika anak ini lahir dan mama mau kemari silahkan, Namira akan tanggung semua biaya. Jika tidak kemari juga terserah. Lalu soal perpisahan, jika Namira berpisah dengan mas Arnav dengan membawa anak tidak akan rugi. Namira sudah memiliki bekal yang cukup baik itu ilmu maupun bisnis." Jelas Namira kesal dan mematikan panggilan.
Arnav yang baru saja tiba dan hanya mendengar bagian akhir kalimat Namira mulai terpancing emosi. Ia berusaha menanyakan baik-baik pada Namira.
__ADS_1
"Siapa yang menelpon?" Tanya Arnav penuh selidik sambil meletakkan tas kerjanya di sofa.
"Mama." Jawab Namira jutek.
"Jika aku tidak salah dengar kalian membicarakan soal perpisahan denganku?" Pria itu semakin menatap tajam.
"Tidak usah dibahas." Namira menghela nafas.
"Namira, jika kamu berpikir untuk berpisah, anak ini milikku. Kamu boleh mengambil semuanya tapi sisakan anak ini untukku. Dia akan menjadi sahabatku dan hal terakhir yanh mengingatkanku padamu." Tegas Arnav dan kemudian ia pergi membersihkan badannya. Namira menjadi semakin kesal. Arnav benar-benar keras kepala dan sok tau.
Sementara di kamar mandi Arnav membiarkan tubuhnya diguyur air. Ia berpikir keras dengan apa yang ia dengar.
"Kita sudah sejauh ini dan kamu masih saja berpikir berpisah? Namira, aku benar-benar tidak paham apa kurangku." Keluh Arnav. Rasanya ia ingin menangis mengingat semua yang ia lakukan selama ini tidak dianggap oleh Namira. Gadis itu masih saja berpikir perpisahan. Apa mungkin ia akan berpaling ke mantan-mantannya saat pembalasan dendamnya menjadi sukses telah berhasil?
"Kamu sudah makan? Ayo kita makan malam di luar. Siapa yang tau beberapa bulan lagi kamu sudah meninggalkan aku." Keluh Arnav sambil menyiapkan jaket untuk Namira. Tentu saja Namira menjadi murka. Suasana hatinya sedang buruk dan Arnav masih saja mengompori.
"Mas Arnav yang PINTAR! Bisa tidak kalau mendengarkan penjelasan jangan setengah-setengah? Aku capek salah paham terus. Apa kita tidak bisa akur sebentar? Aku paham beradaptasi itu sulit. Tapi kita sudaj berjanji akan melalui semua dengan baik kan?" Tegas Namira sambil bangkit dari duduknya.
"Kenapa jadi kamu yang marah?" Arnav menatap Namira bingung.
"Bagaimana aku tidak marah. Mas Arnav salah paham! Siapa yang mau meninggalkanmu? Apa kamu berharap itu benar terjadi? Aku hanya menimpali ucapan mama soal kehamilanku. Dia takut jika keluargamu dan ego kita membuat kita berpisah dan akhirnya aku harus menanggung anak sendirian." Namira menghela nafas panjang sambil cemberut.
__ADS_1
"Lantas kenapa kamu tidak menjawab jika kamu tidak akan berpisah dariku?" Arnav masih tidak memahami.
"Aku emosi dengan ucapan mama. Seolah semua tidak mengharapkan kehamilanku. Ah sudahlah. Aku malas berdebat dengan orang sok tau!" Gerutu Namira dan akhirnya memilih mengambil tasnya hendak pergi keluar.
"Mau kemana? Aku minta maaf ya! Aku bukan salah satu yang tidak mengharapkan kehamilanmu. Justru aku adalah orang yang sangat mengharapkannya." Ucap Arnav memohon dan menahan tangan Namira.
"Suasana hatiki buruk!" Tegas Namira.
"Yasudah kita jalan-jalan saja yuk. Kita belanja mencicil keperluan bayi lalu mampir makan di mall." Ajak Arnav sambil merayu.
"Baiklah." Sahut Namira.
Mereka menuju mall dan mulai membeli perlengkapan bayi yang bersifat netral yaitu gendongan, stroller, dan bouncer. Mereka belum mau membeli pakaian dan lainnya karena usia kehamilan Namira yang baru tujuh bulan. Mereka juga bertekad tidak mencari tau jenis kelamin calon anak mereka dan memutuskan membeli apapun dengan warna netral.
.
.
.
.
__ADS_1
.