Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Rumah Arnav


__ADS_3

"Tenang saja. Saya tidak sepede itu kok. Sudah lelah saya menjadi orang yang kepedean."


Arnav kembali menatap Namira dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Keuntungannya apa? Berapa tahun?" tanya Namira yang terpancing pada keputusan Arnav.


"Kamu pingin lanjut kuliah kan? pingin punya usaha dan apalagi keinginanmu?" Arnav menggali keinginan Namira sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


"Kuliah dulu saja deh. Itu saja sudah menghabiskan banyak uang." Ujar Namira.


"Berapa kira-kira?"


"50 juta sampai lulus magister."


"Saya transfer 50 juta begitu kamu tanda tangani ini."


"Wah, anak sultan." Balas Namira setengah merendahkan.


"Saya pekerja keras dan jarang jajan-jajan tidak berguna." Celetuk Arnav.


"Berarti perhitungan?" Komentar Namira.


"Terserah mau diartikan seperti apa. Saya hanya berusaha bijak mengelola uang."


"Memangnya sekarang sedang bijak?"


"Namira, ketika saya punya uang, saya membeli aset yang dijual dibawah normal oleh nasabah-nasabah yang butuh uang cepat atau hendak pindah ke luar kota. Asal kamu tau, gaji saya sebulan juga tidak habis untuk mentraktir kamu kopi seperti ini setiap hari. Baik, sekarang waktunya kalkulasi. Biaya nikah 50 juta, kita sederhana saja. Jadi total saya transfer 100 juta. Kemudian untuk uang makan sehari-hari, ambillah dari keuntungan mini market. Itu akan jadi punyamu. Bahkan jika kita berpisah, kamu tidak akan hidup susah. Bukan begitu?"


Namira hanya terdiam mendengar penjelasan Arnav.


"Lalu mas minta keuntungan seperti apa setelah mengeluarkan banyak uang?" tanya Namira penuh selidik dan matanya meruncing.


"Saya hanya ingin kamu melakukan tugasmu sebagai istri sebaik-baiknya."


"Masak, nyuci, semacam itu kan?" tanya Namira dengan pemikiran dangkalnya.


"Jalankan saja sebaik-baiknya. Tolong berusahalah untuk menerima pernikahan ini kedepannya." Arnav menjelaskan dengan ketegasannya. Sayangnya wanita yang ia ajak bicara sepertinya tidak terlalu cerdas mengenai hubungan pria dan wanita.


"Ya oke. Sekarang pertanyaannya adalah mau berapa tahun?"


"Lima tahun." Jawab Arnav.


"Lama juga ya. Setelah berpisah saya berarti mendapatkan titel dan minimarket untuk usaha. Ya sebanding sih." Gumamnya.


"Tidak perlu harus berpisah, kamu sudah mendapat semuanya." Sela Arnav.


Namira nampak berpikir lagi.


"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Arnav membuyarkan pikiran Namira.

__ADS_1


"Jadi setiap bulan uang makan kita berdua dari minimarket ya? Lalu kalau saya mau belanja-belanja bagaimana?"


"Pakai keuntungan minimarket. Makanya saya suruh kamu mengelola. Jika dikelola dengan baik, itu pasti akan lebih dari cukup." Terang Arnav.


"Wah, latar belakang saya kesehatan, bukan ekonomi. Tapi tenang saja, saya akan belajar. Ditambah soal uang jajan nanti saya akan mencari kerja sambilan online." Ucapnya.


Akhirnya ia menandatangani kesepakatan tersebut. Sementara Arnav menyembunyikan senyumnya.


***


Ulang tahun bank Az diselenggarakan dengan meriah. Dimulai dengan jalan santai, gathering keluarga yang isinya makan-makan, live music, hingga dooprize yang dipastikan semua pegawai akan memperolehnya. Namira melakukan jalan santai bersama Siska. Seorang petugas teknisi ATM yang bernama Rhino mendekatinya mengajak berkenalan. Mereka lantas melanjutkan perjalanan bertiga. Arnav berjalan bersama Raja dan Tama. Sedangkan Pratama dan Tristan bersama istri dan anak mereka. Arnav tampak sibuk mengkode panitia lain terutama soal nomor undian di lokasi finish.


"Beb!" Prita langsung menggandeng tangan Arnav. Pria itu berusaha melepasnya dan saat itu pula Reva memanggilnya. Ia lantas menemui Reva dan melupakan tujuannya terhadap Arnav. Sampai di lokasi finish, tiba saatnya gathering dan makan-makan sambil menyaksikan live music serta beberapa persembahan dari panitia.


"Wah, anaknya imut sekali pak Pratama." Ucap Namira terkagum-kagum pada keimutan anak Pratama yang sedang tertidur di stroller.


"Terima kasih Namira! Ayo cepat nyusul!" balasnya.


"Gimana nyusul, pasangan aja tidak ada." Ejek Tristan yang sedang mengambil makanan untuk anaknya yang berusia lima tahun. Namira hanya diam.


Live music pun dimulai. Ida nampak memegang sebuah gitar dan bernyanyi. Tepuk tangan nampak riuh disertai dengan panggilan-panggilan terhadapnya. Postur yang tinggi dengan body ideal ditambah wajah cantik nan modis membuat Ida sangat populer. Ia mulai mengalunkan sebuah lagu.


"Mas Arnav! Cieh cieh! Ida nyanyi sambil lirik-lirik mas Arnav lho!" Ejek Tama. Hampir seantero kantor menjodoh-jodohkan Arnav dengannya dan di sisi lain menjodohkan Prita dengan Arnav. Lelaki yang diisukan itu ikut menghentakkan kaki di setiap irama sambil menggendong anak Pratama. Tanpa disangka Ida berucap, "Lagu ini khusus untuk pria penyayang anak-anak." Ia langsung melanjutkan lagu lainnya. Namira yang melihat sorak sorai penonton menjadi minder. Memang sudah karakternya sejak penolakan dokter Dimas menjadi seorang wanita minder.


Rhino mengajaknya ke loby sambil menikmati hidangan penutup. Gadis itu mengiyakan saja ditemani Siska. Mereka berfoto bertiga dan Namira menjadikannya status messengernya. Arnav seperti kehilangan jejak. Ia yang tampil selanjutnya akhirnya mengubah lagunya menjadi mellow. Dengan postur tingginya, ia bernyanyi dengan tegap dan memukau. Hanya dua wanita yang berani menatapnya sambil berdiri yaitu Ida dan Prita.


Tibalah pengumuman doorprize. Arnav sangat beruntung karena mendapatkan kulkas. Sedangkan Namira harus menukarkan kupon undiannya ke sekretariat karena tidak masuk hadiah utama. Ia mendapatkan speaker padahal ingin sekali rice cooker. Rhino yang mendapatkan panci presto akhirnya menawarkan miliknya.


Namira tersenyum senang. Lain halnya dengan Arnav yang melihat pemandangan itu. Ia langsung menyapa Rhino.


"Hai No! Cuci mata ya sekali-kali karena keseringan otak atik ATM." Canda Arnav. Rhino pun menepuk pundak Arnav. Hujan tiba-tiba mengguyur. Panitia diminta membereskan alat-alat vital di luar ruangan. Arnav basah kuyup sedangkan Namira memilih pulang dengan mantelnya.


"Bisa-bisanya dia pulang duluan dan jalan ke parkiran bersama Rhino." Gumam Arnav.


Dari tempat parkir Namira melihat Prita memberikan payung pada Arnav yang sudah terlanjur basah kuyup.


***


Hari minggu waktunya bersantai.


Namira, tolong bawakan bubur dan obat.


Sebuah pesan dari Arnav.


"Ada-ada saja. Bukannya dia punya pegawai mini market?" batin Namira.


Setibanya di rumah Arnav, ia melihat Prita baru saja hendak keluar pagar. Namira buru-buru sembunyi. Setelah situasi aman, ia menekan bel.


"Ada apa lagi Prita?" suara Arnav hendak membukakan gerbang. Pria itu sangat kaget melihat Namira berdiri di luar gerbang.

__ADS_1


"Eh, Namira, masuk." Ajaknya.


"Saya duduk di teras saja mas." Pinta Namira.


Walaupun pucat, Arnav masih tetap rapi.


"Mas, kalau bisa minta mba Prita saja yang anter obat. Dia kan mantan perawat. Trus jangan dobel-dobel nyuruh orang mas." Ucap Namira kesal.


"Apa kamu cemburu?" tanya Arnav tersenyum.


"Ya ampun! Ngapain saya cemburu. Jelas-jelas kalah telak, buat apa memulai persaingan? Saya kesal mas Arnav merusak minggu saya." Terangnya sewot.


Arnav menghentikan senyumnya.


"Saya buatkan minum dulu."


"Aduh nggak perlu mas. Katanya sakit, kok masih bisa buat minum."


"Masuk dulu saja ya, saya mau bicara serius."


"Aduh nggak deh mas. Nanti saya malah lihat barang-barang mba Prita di dalam sana." Namira masih menolak dengan sewotnya.


"Kamu mikir apa sih soal saya sama Prita?"


"Entah ya. Yasudah mas, saya mau pulang." Ucapnya sambil tersenyum.


Arnav menggenggam tangan Namira membuat jantungnya berdegup kencang.


"Eh, apa-apaan ini?"


Ditanya seperti itu oleh Namira, Arnav hanya diam sambil menatapnya. Perbedaan tinggi 10 cm itu jelas membuat Namira sedikit mendongak.


"Orangtua saya akan melamar akhir pekan besok." Ujarnya.


"Oh gitu. Tapi kan mas harusnya ketemu orang tua saya dulu. Lalu jangan lupa ya mas komisinya. Saya mau daftar dulu dan belajar ujian masuk Magister. Ini bulan Maret, nah Mei sudah ujian mas." Terang Namira sambil mencoba melepas genggaman tangan Arnav.


"Cek saldomu. Aktifkan sms banking mu dong." Ledek Arnav.


"Wah, jadi sudah ditransfer? Makasi mas! Saya langsung belajar deh sekarang." Ucapnya gembira yang membuat Arnav tersenyum.


"Saya belum makan." Ucap Arnav.


Namira menyadari sebenarnya jika Arnav demam. Ia juga lupa membawakan bubur pesanan Arnav.


"Saya belikan makanan dulu ya. Itu saya bawakan penurun demam dan vitamin." Jawab Namira.


"Masak saja bagaimana?" nego Arnav.


"Haha. Saya tidak bisa masak. Besok-besok baru mau belajar. Saya belikan makanan dulu mas. Ditunggu saja sambil istirahat."

__ADS_1


Ia mengendarai motornya dengan riang gembira dan melupakan segala hal soal Prita.


__ADS_2