Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Siasat


__ADS_3

Tanggal lima April


Kedua orang tuanya belum juga kembali. Firda yang saat ini sedang libur tengah semester kemungkinan menjadi alasan mereka berlama-lama di rumah nenek. Namira pun membersihkan rumah dan tidak mempedulikan ucapan Arnav semalam. Ia menikmati hari-harinya dengan berjalan ke pasar, memasak, dan menonton film kesukaannya di televisi. Siska mencoba menghubunginya namun gadis itu tidak peduli. Sedangkan Arnav nampak mengacuhkan sikap pembangkang Namira.


***


"Mas, mbak Namira kemana sih? Atau terjadi sesuatu di jalan?" Siska nampak cemas dan bertanya pada Tama.


"Entah ya. Sudah kamu coba hubungi?" Tama yang sedang bersiap menemui nasabah tidak terlalu mengindahkan pertanyaan Siska. Ia menyarankan untuk menanyakan lebih jauh pada bosnya.


"Mas Arnav, mbak Namira kemana ya? Saya khawatir terjadi sesuatu di jalan." Ungkap Siska. Mendengar pernyataan 'Terjadi sesuatu di jalan' membuat Arnav tergerak untuk menghubungi Namira. Ia berharap tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi.


Namira melihat ponselnya menyala. Sebuah panggilan masuk dari Arnav. Ia merasa sangat gugup untuk menerima panggilan itu hingga akhirnya dibiarkan. Khawatir pria itu salah paham, Namira bergegas mengirimkan pesan.


Saya baik-baik saja. Saya mohon ijin tidak masuk kerja.


Terkirim.


Arnav yang mendapatkan pesan seperti itu sedikit khawatir. Ia berpikir jika Namira sedang sakit.


"Ini masih awal bulan, pekerjaan kita tidak banyak. Saya harap kita bisa pulang tepat waktu dan menyimpan energi untuk menghadapi akhir bulan." Ucap Arnav yang disambut sorak sorai rekan-rekan satu timnya. Sayangnya hal itu tidak sesuai harapannya mengingat adanya agenda ramah tamah dari Direktur Pusat.


Arnav memerintahkan Siska untuk tetap pulang lebih awal. Ramah tamah seperti ini biasanya tidak membutuhkan seluruh staff untuk hadir. Petinggi-petinggi sajalah yang dianggap penting untuk hadir.


"Tolong hubungi Namira dan beri kabar ke saya." Pinta Arnav pada Siska. Gadis itu sedikit curiga dengan perhatian Arnav. Namun jika memang mereka memiliki hubungan khusus, Siska tidaklah keberatan karena ia bukan penggemar Arnav.


Sesuai janji, Siska menghubungi Namira dan jawabannya adalah ia sedanh kurang sehat. Namira bingung harus menjawab apa karena tidak mungkin secara terang-terangan ia mengatakan jika ia malas kerja.


Arnav yang mendapatkan pesan dari Siska meninggalkan acara ramah tamah yang hendak ditutup dengan acara makan-makan.


"Pak Bambang, pak Hari, saya mohon pamit karena ada urusan mendesak." Arnav meminta ijin dengan sopan.


"Baik Arnav. Saya sudah mendapat begitu banyak informasi tentang kamu. Saya berharap kamu dapat terus memajukan bank Az." Ucap pak Hari sambil tersenyum ramah.


Saat ini sudah pukul 8 malam. Arnav membawakan bubur dan makan malam untuk dirinya sendiri. Ia akan mampir ke rumah Namira. Pria itu tentu saja sangat khawatir mengingat Namira hanya di rumah seorang diri.


****


Namira terkejut karena ada yang menekan bel rumahnya. Ia sedang mencari-cari pekerjaan online yang cocok untuknya. Dilihatnya dari lantai dua, mobil Arnav terparkir di depan rumahnya. Ia membuka pintu dengan gugup.


"Ada apa mas?"


"Kamu sakit? Sudah makan belum?" Arnav bertanya dengan nada suara yang lembut.


"Sudah. Masuklah." Ucap Namira.


"Saya membawakan bubur. Saya juga belum makan malam."

__ADS_1


"Di kantor sampai jam segini? Padahal kemarin-kemarin buru-buru pulang." Sambung Namira dengan nada ketusnya.


"Ada acara ramah tamah. Jadi saya makan sendiri nih?" Goda Arnav.


Namira membawa laptopnya ke meja makan.


"Saya temani di sini." Jawabnya sambil fokus menatap laptopnya.


"Kamu tidak seperti orang sakit." Celetuk Arnav.


"Saya memang tidak sakit." Jawab Namira. Arnav langsung tersedak saat mendengar jawaban Namira. Gadis itu pun mengambilkannya air minum.


"Kenapa tidak masuk kerja?" Arnav memarahinya.


"Saya hanya ingin istirahat."


Arnav menghela nafas.


"Saya mandi di sini saja bagaimana? Lalu kita menuju hotel Y untuk cek makanan." Tawar Arnav.


"Prosedur yang paling penting malah terlupakan. Daftarkan dulu tanggalnya ke kantor sipil." Namira menjawab dengan tenang.


Arnav benar-benar merasa sangat bodoh. Tentu saja ini yang paling penting. Dirinya malah sibuk mengurus hal-hal lain dan melupakan hal legal.


"Calon istriku sangat pintar. Terima kasih sudah mengingatkan walaupun sedikit terlambat." Ungkap Arnav yang sedikit kehilangan selera makan.


"Iya saya sudah mencetak undangan." Jawab Arnav sambil tersenyum.


"Oh, tua tidak menjamin bertambah pintar." Sindir Namira. Ia kemudian membuka bubur yang dibawa Arnav dan menyantapnya.


"Katanya sudah makan?" Arnav menggodanya.


"Berbicara dengan mas Arnav membuat lapar." Keluhnya.


Arnav yang baru kali ini mendapati Namira banyak bicara menjadi terpesona dan gemas dengan gadis itu.


"Besok ijinkan saya libur lagi. Serahkan berkas milik mas Arnav pada saya." Usul Namira.


Arnav langsung mencari informasi mengenai berkas yang harus disiapkan. Ia pun setuju dengan ide calon istrinya.


"Sudah jam sembilan. Cepat pulang sana mas!" Pinta Namira.


"Wah sekarang sudah berani ya mengusir saya. Baiklah saya pulang. Tapi bagaimana dengan tes makanannya? Sudah terlanjur diagendakan hari ini." Keluhnya.


"Tes saja sendiri. Bukankah sejauh ini mas tidak menanyakan pendapat saya?" Sindir Namira.


Arnav menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya ia ingin menhabiskan waktu lebih banyak bersama Namira.

__ADS_1


"Masih 15 hari lagi." Gumamnya.


"Apa yang dihitung? Lebih baik jalani saja apa adanya tidak usah dihitung atau diburu-buru. Cincin pernikahannya juga belum. Dekorasi, mobil menuju kesana, gaun, ah masih banyak." Protes Namira.


"Akhir pekan kita benar-benar harus meluangkan waktu untuk mengurus semuanya." Timpal Arnav.


Namira mengangguk dan mempersilahkan Arnav pulang.


***


"Prita! Aku dengar hubunganmu dengan Arnav tidak berjalan lancar." Sapa Riyan yang satu divisi dengan Prita.


"Darimana kamu tau?" Tanya Prita curiga.


"Dari ekspresi wajahmu yang ditekuk. Kudengar dia mau menikah." Ungkap Riyan.


"Aku sedang mencari calon istrinya." Balas Prita.


"Menyelinap saja di hari pernikahannya. Apa rencanamu?" Tanya Riyan.


Suasana kantor cukup sepi setelah acara ramah tamah.


"Kamu dengar pak Hari memuji Arnav? Aku bisa saja mempromosikannya ke kantor-kantor di luar kota dan membuatnya di mutasi. Saat itu aku akan hadir di sana mengisi hari-harinya." Celetuk Prita.


"Harusny kamu lakukan sebelum dia menikah." Komentar Riyan.


"Aku tidak masalah jadi yang kedua. Aku hanya perlu tau alasan dibalik pernikahannya yang terburu-buru ini dan siapa calon pengantinnya." Balas Prita.


****


Namira menghubungi Arnav.


"Mas, menu makanannya apa saja?"


"Ada bakmi, sate, bakso, siomay, dan menu prasmanan yang isinya gurame fillet, ah macam-macam." Jawab Arnav yang kesulitan menyebutnya satu per satu.


"Saya susul kesana ya!" Pinta Namira yang tergoda dengan menu-menu yang diucapkan Arnav.


"Sudah malam! Saya jemput saja!" Arnav melarangnya karena ini sudah jam 9 malam.


.


.


.


jika memungkinkan update 2 bab, author akan update 2 bab 😋

__ADS_1


__ADS_2