Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Blood


__ADS_3

"Saya sudah membaca CV mu. Tolong tempati poli KIA pada hari Senin sampai dengan Jumat jam delapan pagi sampai dengan jam satu siang. Perawat Sylvia akan membantumu." Ucap lelaki itu tegas.


"Maaf dokter, saya perlu mengetahui aturan-aturan serta denah klinik ini." Sahut Namira hati-hati.


"Perawat Sylvia akan membantumu. Mulailah bekerja hari ini. Ada lagi yang hendak ditanyakan? Untuk gaji pokok kamu akan mendapatkan tiga juta per bulan ditambah bonus peresepan obat serta pelayanan pasien. Jika ada pasien melahirkan maka akan berbeda lagi perhitungannya dan kamu harus siap dipanggil kapanpun itu." Jawabnya masih dengan tatapan dingin.


"Baik, terima kasih. Saya akan menemui perawat Sylvia." Namira pun bergegas keluar karena tidak nyaman berlama-lama berada di ruangan tersebut.


Namira mengamati sekeliling. Sekalipun ini hanya sebuah klinik, namun ternyata sangat luas. Ada taman di belakang, poli umum, poli gigi, poli KIA, apotek, IGD, dan beberapa kamar pasien. Terdapat juga ruang pertemuan serta ruang rawat luka.


"Apa Anda yang bernama Namira?" Tanya seorang perawat paruh baya.


"Iya. Dengan siapa ini?" Namira mengulurkan tangannya sopan.


"Saya Sylvia." Jawabnya tersenyum.


"Mari kita berbicara di ruangan Anda." Ajaknya seraya menuju ruang poli KIA.


"Jadi setiap ruangan memiliki perawat, saya hanya salah satunya. Dokter Serkan ada di poli umum bersama perawat Joni, saya di sini bersama Anda, Dokter Arin di poli gigi bersama Perawat Ningsih. IGD dijaga oleh dokter Aji dan perawat Ayu. Penjaga bangsal adalah satpam Eko bergantian dengan satpam Tejo serta perawat Nindi dan Wisnu." Terang perawat Sylvia.


"Mereka menjaga bangsal hingga malam hari?" Tanya Namira terheran-heran.


"Tergantung kondisi pasien. Kami memiliki banyak perawat dan dokter internship yang bisa berjaga sewaktu-waktu. Hal itu karena dokter Serkan dan dokter Aji merupakan dosen pembimbing skripsi dari sebuah Universitas di pulau sebelah, pulau Karimun." Jelasnya kembali.


"Oh baiklah. Berarti ada dua dokter umum di sini ya bu?" Namira kembali memastikan.


"Mereka adalah dokter spesialis penyakit dalam dan penyakit menular. Lalu untuk dokter kandungan, kami akan menghubungi dokter Rio setiap bulannya. Jadi pasien yang hendak USG dapat berkumpul sebulan sekali." Terang perawat Sylvia. Namira mengangguk-angguk tanda mengerti.


Pasien sudah mulai mengantri. Namira merasa belum siap akan tetapi ia tidak dapat menolak. Pasien terus saja berdatangan tanpa jeda membuat Namira bahkan tidak dapat menjawab pesan maupun panggilan Arnav.

__ADS_1


"Bu, saya minta waktu dua menit saja untuk membalas pesan." Ujarnya.


Perawat Sylvia mengangguk.


Aku baik-baik saja dan langsung mulai bekerja.


Namira mengirim pesan pada Arnav.


Antrian pun dilanjutkan hingga jam satu siang. Mereka bahkan belum beristirahat.


"Apa tidak ada istirahat? Lalu sebelum saya apakah ada bidan lainnya?" Tanyanya pada perawat yang sepertinya tak kenal lelah.


"Ada mbak Namira. Dulu namanya bidan Lusi. Beliau pindah ke pulau Karimun karena diterima menjadi Pegawai Negeri." Ucap perawat Sylvia.


Mereka baru selesai jam dua siang. Akhirnya Namira bersiap pulang.


"Nanti jika ada pasien melahirkan maka bersiap-siaplah." Ucap dokter Serkan saat dirinya baru keluar dari ruangannya.


Klinik tersebut terkesan cukup mewah. Ruang tunggu yang nyaman, lampu-lampu yang mewah serta beberapa ambulans berjajar memberi kesan segar tanpa nuansa horor. Cleaning service serta bagian kamar pasien ternyata berjumlah lebih dari tiga orang. Ditambah pegawai Apotek yang terdiri dari dua apoteker dan dua asisten selalu siap dua puluh empat jam.


"Serkan! Kamu tidak pulang?" Tanya seorang dokter wanita bernama Arin. Ia adalah dokter gigi.


"Aku akan menggantikan papa di IGD. Sore kemungkinan baru pulang bergantian lagi dengan papa. Aku akan menghubungi salah satu muridku untuk membantu menjaga IGD nanti malam sekaligus menjaga bangsal." Terangnya dengan tatapan dingin.


"Baiklah aku pergi dulu. Sabtu atau Minggu siang mari pergi ke bioskop." Ajak Arin tersenyum namun Serkan tidak menjawab. Dokter Arin sangat modis dan tinggi semampai. Rambutnya panjang bergelombang. Ia menaiki mobilnya melewati Namira. Gadis itu kembali merasa disisihkan. Ia hanyalah seorang bidan. Tak sebanding dengan dokter gigi Arin yang sudah menjadi Orthodentist atau bahkan dokter Serkan yang menjadi spesialia penyakit dalam.


"Kenapa dulu aku tidak menjadi dokter saja? Ah aku lupa kalau tidak punya uang." Gerutunya. Ia kemudian berjalan ke halte bus.


***

__ADS_1


"Halo Arnav, apa aku masih harus ke kantormu? Bisakah motornya dikirim saja ke rumah? Aku tidak masalah dengan merk dan warnanya. Yang paling penting adalah aku bisa menggunakannya." Pinta Namira.


"Kamu akan membiarkan laki-laki ke rumah? Aku tidak suka dan tidak tenang." Jawab Arnav di seberang telepon.


Namira menghela nafas dan akhirnya menuju ke kantor Arnav. Ia tidak jadi menaiki bus melainkan ojek motor.


Serkan melihat pemandangan tersebut dan mengamati.


"Serkan, pulanglah istirahat. Papa akan tetap jaga sampai sore. Apa perlu datang ke acara reuni kampusmu nanti sore? Carilah istri supaya ada yang mengurusmu seperti papa yang selalu diurus mama." Ujar dokter Aji sambil tertawa.


"Aku juga masih diurus mama. Tidak perlu khawatir." Jawabnya angkuh.


***


Namira sangat lelah hingga akhirny begitu tiba di ruangan Arnav, ia menuju sofa dan tertidur.


Arnav mencium pipinya.


"Eh, jangan dicium. Aku belum mandi. Tubuhku banyak bakteri karena aku berada di sekitar orang sakit." Ujar Namira panik.


"Kamu seharusnya memakai baju astronot saat berjaga. Jadi begitu pulang kamu melepasnya dan tidak perlu khawatir dengan bakteri." Jelas Arnav sambil tetap duduk di sebelah Namira. Gadis itu akhirnya memilih tidur di paha Arnav.


Dilla yang hendak memberikan laporan harus menelan ludahnya di depan pintu.


"Huh, dasar! Sepertinya aku membiarkan hubungan mereka terlalu damai." Gumamnya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2