
Hujan mengguyur cukup deras malam itu. Namira memikirkan Arnav yang tertidur di sofa. Ia pun keluar setelah satu jam tidak bisa memejamkan mata sejak Arnav keluar kamar. Lelaki itu meringkuk di sofa dengan selimut tebalnya. Namira hendak memperbaiki selimut itu. Ia juga tergoda mengecup pipi Arnav. Saat ia mengecup dan hendak mundur, Arnav menekan tengkuknya dan mencium bibirnya. Semakin dalam dan menggebu, Arnav tidak bisa mengontrol rasa rindunya pada Namira.
"Hentikan." Namira mendorong tubuh Arnav. Dengan suasana gelap ditambah hujan yang turun deras, Arnav tidak bisa membendung perasaannya lebih lama. Ia menggendong Namira ke kamar.
"Bukankah kamu tidak bisa tidur dengan orang yang membencimu?" Namira teringat perkataan Arnav.
"Jadi apa kamu membenciku? Jangan merusak suasana hatiku yang sedang tidak ingin berdebat." Ucap Arnav.
Namira mengalihkan pandangan.
"Apa bibir itu juga menyentuh gadis lain?" Tanyanya tanpa memandang Arnav.
"Oh jadi kamu berpikir aku seburuk itu? Tanyakan langsung jika butuh penjelasan. Jangan menerka-nerka. Siapapun yang kamu hadapi, belajarlah tegas dalam menyelesaikan masalah." Arnav menatap Namira geram. Ia kembali keluar kamar karena hasratnya sudah hilang.
***
Pagi ini Namira merasa tidak enak badan. Ia lelah dan stress. Ini adalah hari Minggu dimana tidak ada aktivitas seperti hari biasanya.
"Aku sudah memesan sarapan. Ayo makan." Ajak Namira canggung.
"Kenapa tidak memasak? Kamu sakit?" Tanya David. Arnav mau tidak mau ikut memperhatikan Namira.
"Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan." Jawabnya datar.
"Aku hari ini mau ambil data ke pulau Karimun kak. Aku akan naik kereta." Ucap David pada Arnav.
"Aku antar sampai stasiun!" Tawar Arnav.
"Tidak perlu. Aku akan pergi dengan Namira." Jawab David melirik kakak iparnya.
"Maksudmu?" Namira bertanya bingung.
"Antar aku ke stasiun. Sebelumnya aku harus ke suatu tempat." Ucap David. Namira yang merasa badannya tidak enak hanya bisa mengangguk.
"David, sebenarnya aku sedang tidak enak badan." Keluh Namira.
"Aku yang akan menyetir. Kamu hanya perlu menyetir saat pulang dari stasiun." Paksa David.
"Kenapa kamu memaksanya?" Tegur Arnav.
"Sudah, tidak apa-apa." Jawab Namira. David pun tersenyum.
"Aku sudah kenyang!" Arnav menghentikan makannya dengan kesal dan masuk ke kamar. Ia meminum kopi di balkon kamarnya.
Namira masuk untuk mengambil tasnya.
"Kamu sungguh akan pergi?" Arnav berdiri dan masuk ke kamar.
"Iya." Namira menjawab datar.
"Wajahmu pucat. Aku akan ikut." Seru Arnav sambil mengambil jaket.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku ada urusan dengan David." Jawabnya datar. Arnav menghela nafas dan menarik tangan istrinya.
"Kamu masih istriku. Jangan lupa itu! Kamu tidak boleh pergi atau tetap pergi tapi denganku!" Tegas Arnav.
"Baiklah. Mas Arnav boleh ikut." Namira hanya bisa pasrah.
***
"Ini sih aku seperti supir kalian! Kenapa kalian duduk di belakang?" Tanya David tak suka.
"Dia sedang tidak enak badan. Aku hanya menjaganya." Jawab Arnav.
"Kalian masih saling cinta, kenapa bertingkah konyol seolah akan berpisah? Seharusnya muncul saja ke publik dan tegaskan rumor itu tak benar." Terang David.
"Kakakmu tidak menyangkal. Artinya itu benar." Komentar Namira.
"Tidak ada yang meminta penjelasanku." Jawab Arnav datar.
"Seperti anak kecil!" Gerutu David.
***
Mereka mampir ke sebuah kafe.
"Kak, kamu tidak boleh masuk. Aku dan Namira ada misi penting." Ancam David. Arnav menghela nafas.
Nampak Vita di dalam sana duduk seorang diri.
"Ada apa ini Vita?" Tanya Namira heran.
"Ehem. Jadi pak Arnav ke Pulau Samo untuk memutasi bu Dilla. Dia disana untuk memastikan bu Dilla tidak akan mengganggu bu Namira lagi." Jawab Vita.
"Tapi kamu bilang tidak tau waktu itu?" Protes Namira.
"Pak Arnav meminta saya begitu. Saya tidak tau ada apa dengan masalah kalian." Jawab Vita.
"Oke baiklah! Berarti tuduhan itu tidak benar ya. Aku akan coba menjelaskan pada keluarga besar. Satu lagi aku akan mencari media yang katanya memiliki narasumber terpercaya itu." Jelas David.
"Tapi siapa yang tau jika mereka tidak tidur bersama di pulau Samo?" Namira menerka.
"Namira, kuncinya ada di kamu. Jangan biarkan Dilla merusak rumah tanggamu. Buat dia keluar dari kandangnya dan mengakuinya ke publik." Nasihat David.
"Tapi aku bahkan tidak tau apa benar jika aku mempertahankan Arnav? Kalau dia sudah bersama Dilla aku harus apa?" Tanyanya serak. Ia semakin lemah dan matanya panas.
"Tanyakan pada pak Arnav." Jelas Vita.
Namira mengangguk. Pernasalahan seperti ini saja ia tidak mampu selesaikan. Terlebih Arnav yang juga memilih bungkam.
Mereka kembali ke mobil. Namira langsung memejamkan matanya.
"Namira, apa mau membeli obat?" Tanya David.
__ADS_1
Gadis itu tidak menjawab. Ia tertidur dan Arnav dengan sigap membawa kepala Namira ke pundaknya.
"Kak, aku rasa sebaiknya cepat diselesaikan. Kota Sura sudah geger, keluargamu dipermalukan. Tapi kamu tidak juga memberi penjelasan." Terang David.
"Biarkan saja. Dengan begitu aku akan kehilangan semuanya dan bisa melihat siapa yang layak denganku." Terang Arnav.
"Apa yang kamu bicarakan kak? Apa harus sampai meruntuhkan semua bisnismu sejauh ini?" David masih tak mengerti pola pikir Arnav.
Namira merasa sangat sedih sekaligus bersalah.
***
Mereka tiba di stasiun dan Namira terbangun saat mobil berhenti. Ia pindah ke depan di samping kemudi. Tinggal Namira dan Arnav di dalam mobil. Mereka hanya saling diam.
Hujan mengguyur dengan sangat deras. Listrik pun mati. Namira bergegas ke kamar dan merapatkan selimut. Ia menggigil dan demam.
"Namira, kita ke dokter saja?" Arnav menatap cemas saat hendak mengganti pakaiannya.
Namira menggeleng. Ia berusaha bangun dan memeluk Arnav.
"Itu semua bohong kan? Mas Arnav tidak ada apa-apa dengan Dilla kan?" Namira bertanya dengan tangan dan bibir yang bergetar.
"Kamu demam. Ayo minum obat dulu." Arnav mendudukkan Namira dan mengambil obat. Namira masih menahan tangan Arnav.
"Apa kamu sakit karena memikirkan ini?" Arnav menatapnya.
Namira menghempaskan badannya ke tempat tidur. Efek obat membuatnya merasa lebih baik.
"Namira, apa kamu takut kehilangan aku?" Arnav menatapnya sendu.
"Aku takut sekali." Namira menangis dan Arnav memeluknya.
"Aku pergi untuk memutasi Dilla." Jelas Arnav.
"Apa kamu yakin tidak terjebak dengannya dan tidur dengannya?" Namira terisak.
"Aku tidak bodoh Namira." Arnav membelai rambut istrinya.
"Tapi dia juga tidak bodoh." Jawab Namira.
"Aku senang kamu bisa mengekspresikan perasaanmu. Aku senang sekali. Tapi lain kali ekspresikanlah tanpa aku harus berbuat sejauh ini." Terang Arnav. Senyumnya merekah.
Namira masih terus memeluk Arnav. Ia tidak ingin wangi tubuh Arnav menghilang. Lelaki itu pun juga tak kalahnya ingin selalu bersama Namira hingga pergulatan panas tak mampu dihindari lagi.
.
.
.
.
__ADS_1