Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Mimpi di Rumah Namira


__ADS_3

Arnav terus mencoba menghubungi Namira namun gagal. Ia pun mengirimkan pesan.


Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk tanggal 20.


Pria itu menghembuskan napasnya kasar. Ia mengambil jaketnya dan menuju rumah Namira. Gadis yang baru saja menghidupkan ponselnya membaca pesan dari Arnav dan melihat pesan panggilan sebanyak tiga buah.


"Cih, usahanya hanya segitu saja." Gumam Namira yang berharap akan ada puluhan panggilan tak terjawab. Ia lapar dan memesan makanan siap antar. Tak berapa lama kemudian muncul informasi jika kurir pengantar makanan sudah berdiri di depan rumahnya.


Namira melangkahkan kaki keluar dan betapa terkejutnya saat Arnav juga berdiri di sana.


"Terima kasih Pak!" Arnav memberi uang kepada kurir makanan tersebut. Namira panik dan hendak menghindar serta menutup kembali pintu rumahnya namun tangannya ditahan oleh Arnav.


"Jika ada masalah dibicarakan, jangan kabur!" Ia mengancam Namira dengan tatapan yang menakutkan. Arnav masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu membuat Namira ketakutan.


"Jadi ibu dan bapak sedang tidak di rumah? Seharusnya saya meminta nomor ponsel calon keluarga saya." Ucapnya sinis.


"Sebentar lagi mereka pulang." Namira menjawab asal.


"Oh ya? Untungnya papa mertua adalah pebisnis yang nomor ponselnya dapat saya temukan di Gugel." Arnav mengamati setiap sudut ruangan. Kali ini ia seperti mafia.


"Silahkan makan dulu. Lapar membuat orang menjadi emosi." Sindir Arnav. Berhubung Namira hanya memesan satu porsi, Arnav akhirnya harus membuka-buka lemari pendingin mencari makanan. Ia memasak mie instan dengan cekatan.


"Mari makan!" Ucap Arnav.


Namira masih memikirkan tujuan laki-laki ini kemari. Setelah selesai dengan makan malamnya, Namira bergegas ke toilet untuk sikat gigi sementara Arnav memang selalu menyiapkan permen mint tanpa gula di sakunya. Hal ini menjadi kebiasaannya karena kerap bertemu nasabah. Mereka kembali duduk di meja makan dan Namira menghidupkan semua lampu yang beberapa sebelumnya dimatikan.


"Duh, jangan sampai tetangga berpikir aneh-aneh." Gumam Namira.


"Nah, itu kamu bisa berpikir sampai situ! Apa jadinya kalau laki-laki yang bertamu malam-malam ini gagal menjadi suamimu?" Goda Arnav sambil memainkan jemarinya di atas meja. Tampilannya yang kasual membuatnya nampak lebih santai dan berbeda.

__ADS_1


"Ayo bicara Namira. Jangan hanya bergumam atau bermain surat-suratan. Apa yang mengganjal sebaiknya dibicarakan saja." Nada bicara Arnav menjadi serius disertai tatapan matanya yang tajam.


"Jadi kenapa tiba-tiba mas Arnav menerima tawaran mbak Prita?" Namira memberanikan diri menatap mata Arnav tepat di titik coklat itu.


"Katamu jika saya menolak artinya saya risih dan gugup karena ada perasaan padanya? Jadi kalau saya terima bukankah artinya kebalikannya?"


"Bukannya justru itu artinya benar-benar suka?" Namira kembali menguliti Arnav dengan pertanyaannya.


"Tidak usah bertele-tele. Kamu suka atau tidak dengan saya?" Arnav langsung bertanya dan menggenggam tangan Namira.


"Mas sendiri suka tidak dengan saya?" Gadis itu membalik pertanyaan Arnav.


"Baiklah! Saya rasa kita berdua sama-sama gengsi soal perasaan. Entah karena masa lalu kita yang menyakitkan soal itu atau memang murni soal gengsi. Menurutmu kenapa saya mengajakmu menikah? Kenapa saya selalu berusaha memberi yang terbaik buat kamu?" Arnav membalas Namira dengan pertanyaan interogasinya.


"Karena mas merasa harus segera menikah dan menjaga mbak Prita atau mbak Ida untuk masa depan mas Arnav." Namira berkata sambil menunduk karena air matanya hampir tumpah mengingat apa yang ia pikirkan selama ini.


"Saya ingin mengajarkan kamu berpikir lebih luas dan dari berbagai sudut. Bukannya lebih baik jika saya langsung menikah dengan salah satu dari mereka jika memang saya menyukai mereka? Pastinya mereka akan senang hati menerima lamaran saya dan tentu saja tanpa penawaran apapun. Kenapa harus kamu?"


"Apa kamu menyukai saya?"


Namira dengan tegas berkata, "Tidak!"


"Baiklah. Apapun jawabanmu tidak mengubah tanggal pernikahan kita. Saya sudah mengurusnya sejauh ini." Arnav berkata sambil menutupi kekecewaannya.


"Saya merasa tidak boleh menyukai mas Arnav. Tragedi pintu besi dan entah apa lagi selanjutnya. Terlalu banyak drama. Saya juga tidak pantas menjadi orang pilihan mas Arnav." Namira melanjutkan perkataannya.


"Apapun yang terjadi, berhati-hatilah dengan Riyan. Jika perlu kamu harus memberitahu sahabatmu Ria untuk merahasiakan apapun tentang hubungan kita." Pinta Arnav.


"Tenang saja. Ria tidak tau kontrak kita. Saya tidak menceritakannya pada siapapun." Namira memainkan jemarinya.

__ADS_1


"Kamu boleh menyukai saya. Tidak pernah terlintas jika kamu tidak pantas mendampingi saya." Arnav menepuk pundak Namira.


"Satu lagi, jangan samakan saya dengan para pria yang dulu kamu sukai. Mereka kekanak-kanakan." Arnav mengenakan jaketnya hendak pulang. Sebenarnya ia enggan meninggalkan Namira karena rasanya permasalahan ini belum usai. Ia kecewa dengan penolakan tegas dari gadis itu.


Namira hendak mengantarkan Arnav ke pintu dan tepat di depan pintu Arnav terdiam menghentikan langkahnya.


"Saya terima surat pengunduran dirimu. Tapi itu berlaku mulai tanggal sepuluh. Besok adalah tanggal lima. Jadi kamu masih harus kembali. Jika tidak ingin mengurus pernikahan kita, biar saya sendiri yang melakukannya." Arnav menutupi ekspresi sedihnya sementara Namira semakin merasa tidak enak. Ia juga nampak sedang memikirkan perkataan Arnav tadi soal dirinya yang boleh menyukai Arnav.


Pria itu gemas melihat tampilan Namira dengan piyamanya. Ingin rasanya ia menginap di sini. Tak tahan lagi, Arnav menarik lengan Namira yang sudah berada di ujung pintu hendak membukanya ke dalam pelukan pria itu. Namira merasa kaget dan sulit mengontrol detak jantungnya, begitu pula dengan Arnav.


"Saya bukan orang yang mudah panik, mudah grogi, mudah marah. Jadi jangan pernah menarik kesimpulan jika menjauh artinya risih, grogi, cinta, dan sejenisnya." Ucap Arnav sambil membelai rambut Namira. Perbedaan tinggi mereka membuat Namira tenggelam di dada calon suaminya.


"Kenapa berdetak begitu kencang?" Tanya Namira dalam hati.


Arnav perlahan melepaskan pelukan itu dan mendekatkan bibirnya ke arah Namira.


"Saya menyukaimu." Arnav berkata lirih.


Namira merasa ini mimpi hingga lelaki itu mendaratkan kecupannya di kening Namira.


"Itu yang pertama bagi saya. Semoga juga yang pertama bagimu." Arnav menatapnya sendu lalu menuju ke pintu. Ia memastikan di luar gerbang sepi agar tidak menimbulkan gosip. Arnav memakai helm nya dan tersenyum kemudian melajukan motornya. Namira langsung menutup gerbang dan mengunci pintu. Ia merasa ini mimpi dan tidak tahu bagaimana harus merespon. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur. Begitu pula dengan Arnav yang menembus dingin. Segelas susu hangat diharapnya dapat membuatnya mengantuk namun tidak berhasil.


.


.


.


.

__ADS_1


Like and comment


thank you.


__ADS_2