Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
My Crush Landing on You


__ADS_3

Usai sorak sorai dari rekan-rekannya, pak Bambang memanggil Arnav ke ruangannya. Disana telah muncul pak Harri.


"Selamat siang pak!" Sapa Arnav.


"Hai Arnav! Selamat siang! Mari silahkan duduk dulu." Sapa Pak Harri didampingi juga oleh Pak Bambang.


Setelah Arnav duduk, pak Harri melanjutkan pembicaraan.


"Wah pengantin baru! Bagaimana malam-malam panjangnya? Nampak sekali kurang tidur ya?" Ejek Pak Harri.


Arnav hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nav, bagaimana pendapatmu tentang Pulau Tidore?" Tanya Pak Bambang memulai percakapan serius mereka.


"Daerah tersebut memiliki perekonomian yang sangat maju pak walaupun jumlah penduduknya sedikit serta minim sarana prasarana." Jawab Arnav.


"Oleh sebab itu, Bank Az akan membuka cabang di sana." Ucap Pak Harri. Arnav hanya mengangguk-angguk mengerti.


"Saya membutuhkan Ketua Cabang beserta jajarannya. Untuk Teller kemungkinan akan saya ambil dari penduduk lokal di sana saja. Sedangkan untuk bagian BO dan HRD akan saya ambil dari kantor pusat dan cabang di area sini." Ujar Pak Harri.


"Pratama kinerjanya bagus Pak. Selain itu kantor cabang Siantar, kantor di Kota Sura yang berbeda pulau dengan kantor pusat ini juga memiliki banyak pegawai dengan kinerja bagus." Saran Arnav.


"Saya menawarkan posisi ketua cabang Tidore kepada kamu. Pratama akan saya pindahkan ke pusat di sini, sedangkan Adrian akan menggantikan Pratama." Terang pak Bambang.


"Saya pak?" Arnav kembali meyakinkan perkataan Pak Bambang.


"Iya. Gajimu akan naik lima kali lipat mengingat di sana merupakan area perekonomian yang maju. Kamu juga akan mendapatkan tempat tinggal." Lanjut Pak Bambang.


"Bagaimana Pak Harri? Saya menjadi sedikit bingung dengan keputusan ini." Arnav menanyakan pendapat Direktur bank Az.


"Saya setuju dengan Bambang. Sebagai permulaan pembukaan di sana, kamu saya tunjuk sebagai Kepala Cabang. Jika dalam dua tahun perkembangan bank Az menjadi sangat baik, kamu bisa kembali kesini dan menggantikan Bambang." Ujar Pak Harri.


Arnav masih merasa bingung.


"Saya harap ada hitam di atas putih. Akan saya diskusikan dulu dengan Namira." Ucapnya seraya pamit.


"Prita memang benar. Hanya Arnav yang patut memegang cabang baru. Dia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengelola tim nya." Lanjut Pak Harri yang ternyata didengar oleh Arnav dari balik pintu.


"Saya ijin pulang. Ada masalah yang harus saya diskusikan." Pamit Arnav pada Tama dan Raja.


"Sabar mas, tunggu nanti malam." Goda Tama. Arnav hanya tersenyum tipis dan pergi.


Dua hari lagi kamu dipindahkan. Setuju atau tidak kamu tetap saya pindahkan Nav.

__ADS_1


Sebuah pesan masuk dari pak Harri membuat Arnav semakin bingung.


***


Arnav menuju rumahnya dan dilihatnya pintu terkunci. Ia segera menghubungi Namira yang saat itu sedang di lokasi pelatihan menyetir.


"Mas Arnav sudah pulang?" Tanya Namira di seberang telepon.


"Iya, ada hal penting yang harus aku diskusikan denganmu. Aku membawa kunci cadangan, jadi jangan cemaskan aku." Jawabnya ketus.


Namira merasa ada yang aneh dengan sikap Arnav. Ia melihat jam di tangannya. Ini jam dua siang. Ia segera menyelesaikan administrasi pembayaran dan akan memulai kursusnya besok.


***


"Mas Arnav sudah makan?" Namira berbasa basi menanyakan hal tersebut saat melihat suaminya di ruang tengah dengan laptopnya.


"Sudah. Terima kasih. Bekalnya enak." Jawabnya sambil menatap Namira.


"Bisa tolong buatkan aku secangkir kopi? Kamu juga buatlah minuman dan kita bicara di sini." Pinta Arnav. Gadis itu segera menuju ke dapur.


Tak lama ia membawa secangkir kopi dan teh hangat.


"Ada apa mas?" Tanya Namira cemas.


Namira menautkan alisnya. Ia bingung mengapa tiba-tiba suaminya dipindah tugaskan.


"Maksud mas dimutasi? Ada kesalahan kah?"


"Bukan. Aku murni dipindah tugaskan karena Bank Az akan membuka cabang baru di sana. Aku diminta menjadi Kepala Cabang. Bagaimana menurutmu?" Tanya Arnav dengan wajah memelas berharap Namira dapat mendukungnya sekaligus memberi solusi yang menentramkan hatinya.


"Itu sangat bagus. Berapa lama?" Jawabnya datar.


Arnav merasa Namira biasa-biasa saja dengan berita ini.


"Dua tahun jika aku berhasil mengembangkan Bank Az di sana." Jawab Arnav senatural mungkin.


"Oh baiklah." Jawab Namira masih dengan ekspresi datarnya. Ia mencari informasi tentang Pulau Tidore di ponselnya.


"Wah, tiket pesawat dari sana ke sini sangat mahal. Daerahnya terpencil bahkan tidak ada universitas." Gerutu Namira.


"Iya tapi tenaga kesehatan mendapat gaji yang cukup tinggi di sana." Ujar Arnav.


Namira mengangguk.

__ADS_1


"Aku ingin minta tolong, ikutlah denganku." Pinta Arnav sambil menggenggam tangan Namira.


Wanita itu cukup kaget dengan permintaan Arnav.


"Lalu minimarket Arn yang sudah susah payah mas dirikan bagaimana?" Namira nampak cemas.


"Iwan dapat mengelolanya dengan baik. Aku juga bisa minta tolong Firda di sela-sela aktivitas sekolahnya." Jawab Arnav.


"Aku belum bisa memutuskan." Ujar Namira sambil melepaskan genggaman tangan Arnav.


"Perjanjian itu bagaimana?" Namira kembali bertanya dengan takut.


"PERJANJIAN LAGI! Aku sudah menghapusnya! Kenapa kamu selalu terobsesi dengan kontrak itu?" Arnav menaikkan nada bicaranya yang sontak membuat Namira ketakutan.


"Jika sudah dihapus, berarti tidak ada keharusan untukku menjalani peran istri yang baik. Bukankah begitu?" Namira menatap Arnav tajam.


"Oh, jadi begitu? Setelah semua yang aku beri untuk kamu tanpa perjanjian apapun ternyata kamu balas dengan pemikiran seperti ini?" Tanya Arnav emosi.


"Ambil semua hartaku! Bukankah itu tujuanmu? Sudahlah! Silahkan lakukan apa saja yang kamu mau!" Ia meninggalkan Namira dan masuk ke kamar.


Gadis itu berpikir keras. Masa lalunya dengan mantan pacarnya Bani yang membuatnya berkorban waktu dan uang nyatanya tidak berbalas. Itulah yang membuatnya kali ini takut berkorban demi Arnav untuk merelakan cita-citanya. Sebenarnya ia masih tetap bisa melanjutkan kuliahnya namun harus diundur dua tahun, itupun jika Arnav berhasil memajukan Bank Az. Yang lebih disayangkan adalah mini market Arn yang harus terbengkalai sekalipun Iwan mampu mengatasi permasalahan yang muncul.


Namira menemui Arnav di kamar.


"Mas!" Ia menggenggam tangan Arnav.


Pria itu tidak menatapnya. Ia masih terus berpikir tentang hati Namira yang seperti batu.


"Aku akan menyusul saja hanya jika aku tidak dinyatakan diterima di Universitas Siantar." Ucap Namira.


"Ini baru bulan April dan bahkan tes ujian masuk pun belum. Sebenarnya pilihan itu ada di kamu. Sudahlah lupakan!" Arnav bergegas mengemasi baju-bajunya.


"Aku baru sadar jika kamu hanya mengincar hartaku saja. Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, Ayahku memiliki ratusan gerai emas di kota Sura. Ibuku pemilik lima mall terbesar di kota Sura. Semua tidak lepas juga dari bantuan Pak Harri yang membantu keluargaku mengelola bisnis mereka. Dari sekian banyak gerai emas tersebut serta mall yang dimiliki orang tuaku, lima puluh persen adalah atas namaku. Sedangkan dua puluh lima persen adalah atas nama mbak Sari. Ambillah itu semua!" Lanjut Arnav dengan wajah emosinya.


.


.


.


.


Konfliknya dimulai yaaa gaes...

__ADS_1


__ADS_2