Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Di rumah saja


__ADS_3

Cukup sekali itu Namira mengikuti yoga hamil beramai-ramai. Ia lantas mempelajarinya sendiri di rumah. Ia mulai rajin berjalan kaki sebelum berangkat ke klinik dan juga mencermati kuliah sambil duduk di bola hamil. Arnav mendukung apapun keputusan Namira asalkan itu tidak membuat istrinya stress.


"Namira, kapan kamu mulai cuti? Aku bisa membicarakannya dengan Serkan." Arnav membuka obrolan sambil menyuapi Namira es krim.


"Aku tidak akan cuti sebelum melahirkan. Semua cuti akan kuambil setelah melahirkan. Cuti tiga bulan." Namira masih mencatat materi yang disampaikan dosennya.


"Aku heran, kenapa kamu tidak panik sama sekali? Padahal dulu aku mengenalmu sebagai gadis panikan." Celetuk Arnav.


"Justru kalau aku panik, semua tidak berjalan lancar. Aku memang gugup, tapi aku berusaha mengontrolnya. Ada nyawa yang sedang aku pertaruhkan." Terang Namira.


"Cerdas sekali." Arnav mengecup pipi Namira.


Gadis itu berusaha tenang padahal sebenarnya ia tersipu malu.


***


Namira mulai merasa badannya sangat berat. Ia mulai susah tidur dan bahkan sedikit sulit bernafas.


"Namira, aku akan mengantar dan menjemputmu mulai sekarang." Perintah Arnav yang tidak tega melihat istrinya menyetir mobil.


"Aduh mas, repot kalau nanti aku ingin mampir-mampir." Gerutu Namira.


"Aku akan ikut mampir-mampir." Arnav berkata acuh sambil berjalan ke arah mobilnya. Ini sudah bulan Maret sehingga pria itu semakin waspada pada kondisi Namira.


Kegiatan di klinik berjalan seperti biasa. Setiap seminggu sekali Namira akan meminta ijin tidak mengikuti kegiatan rapat rutin karena harus memeriksakan kehamilannya. Arnav juga semakin sigap menyiapkan segala kebutuhan istrinya.


***


Memasuki bulan April, Namira sering mengalami kontraksi semu. Ia membuktikan teori kehamilan yang selama ini dipelajarinya. Suatu hari saat Namira sedang di rumah bersama bu Ijah, ia merasakan kontraksi teratur. Ia mulai mempersiapkan tas siaganya.


"Bu Ijah, saya pergi dulu. Kalau nanti ibu selesai beres-beres, tolong kuncinya letakkan di pot bunga. Kemudian besok datanglah lagi kemari untuk bersih-bersih. Meskipun tidak kotor, tetaplah bersih-bersih ya bu." Pinta Namira sambil menggendong ranselnya.


"Ibu mau kemana?" Tanya bu Ijah panik. Ia pikir majikannya akan minggat.


"Saya ke rumah sakit dulu. Nanti saya akan hubungi mas Arnav." Jawab Namira. Ia pun memesan taksi sambil terus menarik nafas setiap kali kontraksi terjadi.

__ADS_1


"Sepertinya ini baru bukaan satu atau dua." Gumamnya.


Namira pun melaju ke Rumah Sakit Ibu dan Anak. Ia langsung dibawa ke ruang observasi. Jam menunjukkan pukul dua siang. Ia mencoba bermain game sambil menenangkan rasa sakitnya.


Jam beralih ke angka empat sore. Arnav pasti sudah hendak pulang. Ia menyuruh bu Ijah menghubungi Arnav tepat jam empat. Rasa sakit kini semakin hebat. Namira masih berusaha mengatur nafasnya sekalipun punggungnya juga ikut sakit tiap kali ia menarik nafas. Kini ia memasuki bukaan empat.


"Halo bu Ijah, ada apa?" Arnav sedang berkemas di kantor.


"Bu Namira pergi naik taksi ke rumah sakit pak." Jawab bu Ijah.


"HAH? Namira mau melahirkan?" Arnav berteriak.


"Sepertinya begitu." Jawab bu Ijah. Ia pun bingung harus menjawab apa karena wajah majikannya terlihat santai saat hendak pergi.


Arnav mematikan ponsel dan segera melesat menuju parkir mobil.


"Pak Arnav! Ada apa?" Teriak Vita.


"Aku buru-buru!" Teriak Arnav. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh hingga petugas kepolisian menahannya di tengah jalan.


"Maad pak, istri saya mau melahirkan." Jelas Arnav.


Polisi tersebut menatap ke dalam mobil Arnav.


"Anda tidak membawa siapapun pak!" Tegas polisi tersebut.


"Iya memang! Istri saya mau melahirkan di rumah sakit. Dia sudah di rumah sakit." Arnav menjelaskan dengan gugup dan cepat karena ia sangat panik dan terburu-buru.


"Kalau sudah di rumah sakit artinya sudah aman. Anda tidak boleh melanggar karena membahayakan orang lain. Bukan cuma Anda yang memiliki keluarga." Terang pak polisi tersebut.


"Lalu bagaimana?" Arnav bertanya frustasi.


"Anda ditilang. Silahkan bayar denda atau bertemu di pengadilan." Tegasnya.


"Yasudah saya bayar denda saja." Gerutu Arnav sambil mengeluarkan dompetnya.

__ADS_1


"Tolong ikut saya dulu ke kantor." Ajak polisi tersebut.


Arnav mengacak rambutnya dengan kesal.


Urusan tilang baru selesai jam enam sore. Namira sudah mengalami bukaan enam dan air ketubannya juga sudah merembes. Ia semakin kesakitan dan hendak mengejan, namun ia tau itu berakibat fatal karena bukaan belum lengkap. Nantinya robekan yang terjadi akan semakin lebar. Namira mulai bermeditasi dan mengalihkan konsentrasinya dengan bermain game. Arnav akhirnya tiba dan masuk.


"Namira, kamu baik-baik saja? Maaf aku terlambat." Ucap Arnav lesu.


"Tidak apa." Namira menahan sakitnya.


"Apa yang bisa aku lakukan?" Ia menatap Namira dengan rasa kasihan. Keringat mengucur dari pelipisnya.


"Minta pada perawat untuk memindahkanku. Aku tidak mau melahirkan di ruang observasi yang berisi banyak ibu hamil. Rintihan mereka menyebalkan." Keluh Namira.


Arnav menurut. Awalnya Namira sudah mengatakan ke dokter yang menanganinya namun karena tidak ada pendamping di sisi Namira, dokter menjadi ragu.


Namira pun dipindahkan dan mulai meringkuk sambil terus mengatur nafasnya. Ia juga terus bergumam pada calon anaknya bahwa anaknya adalah anak pintar dan pasti tidak akan menyusahkan orang tuanya.


Arnav yang masih memakai baju kerja tidak tega meninggalkan Namira sedetik pun. Jam menunjukkan setengah delapan malam dan bukaan yang terjadi baru sampai pada tujuh. Perawat memberikan makan malam untuk Namira dan Arnav karena suaminya memilih pelayanan VVIP.


Arnav dengan telaten menyuapi istrinya walaupun setiap kontraksi mulai datang, Namira menjadi tidak selera makan. Tiba-tiba rasa sakit semakin kuat. Arnav langsung memanggil dokter yang tentu saja ia adalah dokter wanita.


"Sudah bukaan lengkap. Ayo bersiap!" Dokter tersebut memberi kode pada bidan di sebelahnya.


Ia mulai memberikan aba-aba pada Namira untuk menarik nafas dan mengejan tanpa suara. Sedikit demi sedikit kepala bayi muncul. Arnav terus mencium kening Namira sambil berbisik, "Kami bisa sayang!"


Akhirnya setelah tiga kali mengejan, bayi tersebut lahir dengan menangis keras. Arnav mengecup bibir Namira berkali-kali dan berkata bahwa Namira hebat. Istrinya bahkan tidak berteriak-teriak atau menjambak-jambaknya seperti rekan-rekan kantornya bicarakan tentang pengalaman mereka.


"Selamat bu, bayi laki-lakinya sudah lahir." Ucap bidan tersebut seraya menyerahkan bayi yang masih berbalut darah kepada Namira untuk mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2