Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Jika Jodohku Bukan Kamu


__ADS_3

Arnav masih merutuki nasibnya. Ia segera menghampiri Serkan yang sudah selesai berbicara dengan dokter lain yang merawat Namira.


"Bagaimana?" Tanya Arnav.


"Sabarlah. Dia hanya butuh istirahat sedikit lebih lama. Apa yang bisa kubantu? Aku rasa Namira akan bersikeras bangun untuk kuliahnya dan juga untuk Armi." Serkan mencoba merasionalkan pikiran Arnav.


"Aku akan memintakan ijin pada bagian akademik." Ujar Arnav.


"Jangan. Aku akan menggantikannya. Sebentar lagi ujian semester. Kamu urus saja dalang dibalik semua ini. Oiya, bagaimana dengan stok asi Armi? Ini sudah larut, pikirkan Armi." Serkan mencoba sebisa mungkin menyadarkan Arnav.


"Aku tidak kuat. Aku benar-benar tidak kuat jika harus memikirkan semua." Arnav menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu tidak sendiri. Tenanglah." Serkan menepuk pundak Arnav.


"Aku akan di sini, kamu pulanglah bersama David. Pikirkan Armi dan berpikirlah jernih untuk mengurus kasus ini." Saran Serkan.


"Mungkin seharusnya Namira bersama orang lain. Aku hanya membuatnya susah. Mungkin nasibnya akan bahagia jika itu bukan denganku. Serkan, kurasa seharusnya bukan aku." Arnav menangis dengan pelan. Ia rasanya begitu merana karena Namira adalah cinta matinya yang ia perjuangkan sepenuh hati.


Serkan meninju wajah Arnav.


"Berhenti menjadi lemah! Namira butuh kamu! Aku pun sudah merelakan dia untukmu. Sekarang kamu malah berandai-andai jika dia tidak menikah denganmu? Bangun!??" Serkan menepuk pipi Arnav dengan kencang. David langsung melerai mereka.


"Ini rumah sakit. Tenanglah!" Ia mengatakan dengan rasa lelah.


***


Arnav tiba di rumah dengan lesu. Bu Ijah mohon ijin menginap karena hari sudah larut. Arnav pun mengangguk. Sementara Vita nampak terjaga menatap Armi yang sedikit rewel.


"Maaf Vit. Beberapa hari ini dia memang rewel. Tidurlah di kamar tamu bersama bu Ijah. Aku akan menemani Armi." Ucap Arnav. Sebenarnya Vita merasa kasihan dengan pria itu namun ia tidak ingin membantah.


David membersihkan diri dan masuk ke kamar lainnya. Ia juga berusaha menyusun strategi untuk menangkap pelaku. Baru kemarin Arnav mengajaknya ke kantor polisi perihal minuman penggugur kandungan. Hari ini bahkan lebih buruk dari itu.


Arnav menatap Armi.


"Papa mohon untuk tetap tenang ya nak. Tidak perlu khawatir, mamamu pasti baik-baik saja. Dia orang yang sangat kuat. Bahkan saat melahirkanmu saja dia tidak menjambak-jambak papa." Arnav pun melanjutkan menceritakan semua hal tentang Namira pada Armi sekaligus mengusir rasa galaunya. "Baru beberapa hari lalu di malam hari kita jalan-jalan. Begitu cepat rasa bahagia berubah menjadi kesedihan." Arnav menatap Armi yang hanya membalas menatapnya.


***

__ADS_1


Pagi harinya Arnav langsung menuju ke kantor polisi bersama David. Hari itu juga mereka menuju ke perusahaan kurir tersebut. Sedikit demi sedikit fakta terkuak bahwa seorang wanita dengan ciri-ciri seperti Dilla memang mengacu sebagai tersangka. Arnav bertekad dalam sehari ia harus menemukan Dilla karena Armi tidak bisa ditinggal terlalu lama. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Dilla melalui pesan singkat. Ia berkata bahwa Namira baru saja keguguran. Ia sangat stress dan meminta Dilla menemuinya karena ia tau Dilla sedang cuti. Gadis itu membaca pesan Arnav dan berdandan secantik mungkin. Kali ini ia membawa sesuatu untuk minuman Arnav.


"Nav, aku turut berduka atas Namira. Tapi siapa yang kini menjaganya?" Tanya Dilla di restoran tempat mereka janjian.


"Dokter yang kerap bersamanya. Apa aku diduakan oleh Namira, entahlah. Aku sedang galau." Jawab Arnav.


"Aku sudah memesankan kopi kesukaanmu. Tenanglah." Dila mengelus tangan Arnav.


Sesuai rencana, David dan seorang polisi mengamati mereka dari jarak tertentu. Sementara Arnav merekam pembicaraannya.


"Kenapa kamu bisa cuti? Untung saja ada kamu." Arnav pura-pura tersenyum.


"Mungkin ini takdir. Aku tau sesuatu yang buruk akan menimpamu. Hatiku tersambung denganmu mungkin." Dilla berceloteh.


Minuman pun datang. Bersamaan dengan itu, ponsel Arnav berdering.


"Halo." Jawabnya.


"Namira sudah sadar." Serkan menghubungi Arnav. Pria itu mematikan ponsel dan Arnav berpamitan dengan Dilla.


" Ada sedikit masalah dan aku harus pergi. Nanti kuhubungi lagi." Arnav berdiri dan bergegas pergi tanpa meminum kopinya.


"Bagaimana perasaanmu?" Serkan bertanya pada Namira.


"Apa kamu selalu di sini?" Namira bertanya bingung.


"Tidak. Aku bergantian dengan bu Sylvia, Arnav, dan David." Jawabnya.


Namira menghembuskan nafas.


"Aku ingin cuti dari semua hal. Pergi yang sangat jauh. Itu yang ada di mimpiku. Tapi aku tidak sendiri, aku bersama Armi. Oh iya. dia baik-baik saja kan?" Namira nampak sedih namun ia yakin anaknya tetap mendapat asupan asi karena ia rajin menyetoknya.


"Ia dirawat oleh Vita dan bu Ijah." Serkan tersenyum membelai rambut Namira.


"Aku bukan artis, suamiku juga bukan orang yang sangat kaya. Kita naik mobil biasa, rumah biasa. Apa yang dia irikan? Arnav akan menua. Semisal suamiku bukan Arnav bagaimana?" Namira menatap kosong ke arah jendela.


"Tetap nasibmu akan begini. Itu sudah takdir walau mungkin ceritanya bukan lagi karena ingin memiliki suamimu. Jika aku jadi Arnav, aku pun melakukan hal yang sama. Berusaha melindungimu sebisaku. Tapi sebagai manusia pastilah ada sebuah titik kelemahan." Serkan menjelaskan dengan bijak.

__ADS_1


Tak lama kemudian Arnav tiba dan langsung memeluk Namira. Ia melihat tampilan suaminya yang sedikit berantakan namun tetap tampan.


"Kenapa tidur lama sekali?" Ia memeluk dengan erat kemudian menatap sendu.


"Aku terlalu capek menyiapkan pesta itu sendirian." Jawab Namira tersenyum.


Arnav mengecup bibir Namira dan berhenti saat Serkan berdeham.


"Ah maaf!" Arnav merasa tak enak hati dengan Serkan. Di satu sisi ia sangat berterima kasih pada pria itu.


"Ayo bawa aku pulang, aku rindu Armi." Pinta Namira.


"Pulanglah dengan Serkan, aku harus melihat sendiri bagaimana penyerangmu mendekam di sel tahanan." Perintah Arnav.


"Kita pulang dulu bersama. Dokter Serkan ikut saja. Dia akan menjemput Vita." Goda Namira. Serkan hanya menggelengkan kepalanya.


Di perjalanan dalam mobil:


"Aku rindu sekali pada Armi." Namira menatap pemandangan di luar kaca mobil. Mobil Serkan berada di belakang mereka.


"Kamu tidak merindukan aku?" Arnav meraih tangan Namira


"Tentu aku rindu. Ada yang mau aku sampaikan." Namira menatap Arnav.


"Katakan saja." Arnav memperbolehkan Namira.


" Aku ingin ke negara Sin bersama Armi. Berdua saja dengannya. Aku ingin merasa aman." Pinta Namira dengan tatapan memelas. Arnav tentu paham dengan karakter Namira. Dulu saat ia diganggu Riyan, gadis itu juga memilih menghindar. Apalagi kali ini yang melibatkan nyawanya?


"Bolehkah aku ikut?" Arnav menatap Namira sekilas. Ia khawatir istrinya meminta perpisahan padanya.


"Jika kamu bisa meninggalkan bank Az dan kita memulai hidup baru, aku rasa kamu boleh ikut. Aku tidak masalah dengan asetmu di kota Sura ataupun urusanmu di kota Tua. Tapi di negara Sin besok kita adalah pasangan sederhana yang memulai semua dari kosong. Lingkungan dimana tak satupun mengenal kita dan kita mengenal mereka. Memiliki teman-teman baru." Usul Namira. Nampak dengan jelas jika ia sudah sangat lelah dengan semua yang terjadi setahun ini.


Arnav nampak menimbang-nimbang.


.


.

__ADS_1


.


Kayaknya bentar lagi tamat ya gaes.


__ADS_2