Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Yayasan Bimbingan


__ADS_3

Namira masih di kelas sore dan Rido sangat rajin menunggunya. Sudah satu minggu hal ini berlangsung. Pembahasan Rido selalu seputar pernikahan padahal mata pencaharian Rido berasal dari yayasan ini dan beberapa sekolah formal saja sebagai guru lepas. Bukannya apa-apa tapi seakan ia terlalu lancang membahas pernikahan seolah semua itu mudah. Di sisi lain, hari-hari Namira masih seputar mencari pekerjaan. Bank Az nampaknya sedang membuka lowongan.


"Apa aku turuti saja keinginan mama?" batinnya. Namira merasa ia tidak akan lolos wawancara. Tidak ada salahnya mendaftar.


Selang dua hari kemudian sebuah telepon masuk dari orang tidak dikenal.


"Apakah saya berbicara dengan Namira Inggrid?" tanya suara di seberang.


"Iya benar."


"Terkait lamaran Anda di bank Az sedang kami proses. Dapatkah Anda melakukan wawancara kerja besok jam 10 pagi?" ucap sosok tersebut.


"Iya saya bisa." Balas Namira.


"Baiklah saya tunggu di bank Az cabang Peninsula. Perkenalkan nama saya Adrian. Terima kasih atas waktunya." Telepon pun dimatikan.


Namira menghela nafas. Di satu sisi ia menyukai hal ini namun di sisi lain ia menjadi gugup.


Hari yang ditunggu tiba. Namira melaju menuju bank Az cabang Peninsula. Perjalanan memakan waktu 45 menit.


"Wah, aku harus terbiasa dengan perjalanan sejauh ini." Ucapnya dalam hati.


Rasa gugup menyelimutinya. Namun ia terkejut ketika mendapati ruangan yang sempit di dalamnya.


"Maaf, saya Namira. Saya ingin bertemu pak Adrian."


"Oh, silahkan duduk. Saya Adrian." Seorang bapak-bapak ramah dengan postur tinggi jangkung mempersilahkannya duduk.


"Saya bukan pimpinan di kantor cabang ini. Saya adalah asisten kepala divisi. Sebentar lagi mas Pratama akan mewawancarai mbak Namira." Ucap pak Adrian.


"Baik pak." Sahut Namira.


Tidak beberapa lama muncullah seorang pria yang lebih muda dari pak Adrian.


"Hai, perkenalkan saya Pratama." Beliau orang yang sangat ramah.


"Saya Namira Pak." Ucap Namira.

__ADS_1


"Di sini santai saja. Seperti yang kamu lihat, kami satu tim semua laki-laki dan kami sangat santai di kantor cabang ini. Namira bebas memanggil kami pak atau mas. Jadi ini masih tahap wawancara. Kami akan mengevaluasi dan melapor ke pusat. Kurang lebih tiga bulan kemudian anda baru dapat bergabung. Apa tidak masalah?" Terang Pratama.


Namira nampak berpikir keras. Mengapa lama sekali tiga bulan?


"Apakah saya pasti diterima?" tanyanya ragu.


"Iya. Kamu pasti diterima. Kami akan mengusahakan prosesnya secepatnya. Namun jika di tengah proses menunggu terdapat tawaran kerja lain, silahkan itu hak Namira memilih yang mana." terang Pratama. Namira hanya mengangguk. Setelah itu ia diminta ke kantor pusat. Bank Az memiliki kantor pusat di Kota Delta tempat Namira tinggal. Jaraknya hanya lima menit dari rumahnya. Ia melalui hal yang sama yaitu wawancara. Semua berjalan lancar.


Di sela-sela waktunya menunggu, Rido masih saja menanyakan kesiapannya menikah. Hal ini lama-lama menjengahkan Namira.


"Ria, apa Rido tidak tau jika aku tidak menyukainya?" Namira mencurahkan perasaanya kepada teman masa kecilnya itu. Sejak mengajar di yayasan yang sama, mereka kembali akrab.


"Entah. Biarkan saja dia. Pemikirannya sekarang adalah nikah karena dia kan lebih tua dari kita empat tahun. Bagi dia mungkin nikah adalah kompetisi. Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Begitu kurang lebih yang ada di pikiranku." Jelas Ria.


Saat ini Namira selalu menolak ajakan makan malam dari Rido. Sekalipun ia mengunjungi Namira ke rumahnya, ia bersikap biasa saja. Kadang ia berdalih sudah tidur apalagi karena jam mengajar Rido baru selesai jam 9 malam.


Minggu demi minggu berlalu. Rido datang dengan kabar teranehnya.


"Hai, bulan depan aku akan menikah." Tiba-tiba ia memulai perbincangan saat rapat pengajar di yayasan.


"Selamat ya Do!" Ucap Ria.


"Kerja dimana dia Do?" tanya Ria mencari tahu.


"Dia baru lulus SMA. Muridku." Jawabnya santai.


Sontak Ria dan Namira saling pandang. Itu artinya calon istrinya adalah 9 tahun lebih muda.


"Ketika aku tanya pada dia dan orangtuanya, mereka menyetujuinya. Bagi mereka bukankah aku sudah dewasa dan mapan?" Terangnya bangga.


Sebuah pemikiran konyol dan mulai detik ini membuat Namira yakin bahwa jangan pernah menilai apapun dari luar termasuk dari umur.


"Sudah memikirkan mas kawin dan biaya resepsi?" Ria mencoba memancing.


"Cincin perak saja kan harganya lebih terjangkau. Tidak ada mas kawin selain itu. Kemudian tidak ada resepsi. Kami hanya akan akad nikah saja." Jawabnya enteng.


"Wah beruntung sekali kamu ya. Jarang ada perempuan yang mau pernikahan sekali seumur hidupnya begitu datar. Bahkan sekedar pesta kecil pun tidak ada? Apa kami diundang?" seru Ria.

__ADS_1


"Sayangnya tidak. Akad akan dihadiri keluarga kami saja supaya irit biaya. Apalagi biaya catering." Jelasnya. Kepala yayasan hanya bungkam. Sebenarnya ia tau Rido meminjam uang yayasan untuk melangsungkan pernikahannya.


"Namira, untung kamu tidak sama dia." Ria menepuk pundak Namira. Ada rasa aneh berkecamuk di hati gadis itu. Namun ia tetap meyakinkan dirinya bahwa dia sangat beruntung tidak bersama dengan Rido. Apalagi pemikirannya yang terlalu santai membuat Namira merasa sangat tidak yakin akan masa depan pria itu.


Ketika Rido sibuk dengan pernikahannya, Namira sibuk dengan pekerjaan barunya. Bolak-balik Peninsula-Delta membuatnya cukup lelah di hari-hari pertama kerjanya. Dalam satu tim kecil tersebut, ia, Pratama, Adrian dan kedua staff marketing ternyata sangat cepat akrab. Kantor tersebut hanya memang milik mereka. Tak heran mereka membeli jajanan bersama-sama, istirahat sesukanya tanpa peduli jam yang seharusnya, dan jalan-jalan sore bersama saat tutup kantor. Walaupun Namira hanya satu-satunya wanita, ia tidak merasa asing. Tidak ada kerja lembur. Semua jadwal mengajarnya yang dipindah ke jam malam pun tidak terabaikan. Dua minggu kemudian, Pratama memberi sebuah pengumuman kecil di sela-sela aktivitas kantor kecil tersebut.


"Adrian, Arnav ada rencana kemari." Ucapnya.


"Mau ngapain dia kesini? Sidak?" Tanya Adrian sedikit gugup.


Pratama menoleh ke arah Namira.


"Kamu siap-siap ya." Ujarnya.


Namira bingung dengan maksud kata Pratama.


"Pengumuman teman-teman! Hari ini pak Arnav mau berkunjung kemari. Mari tunjukkan kekompakan kita! Walaupun kita santai tapi prestasi kita gemilang!" ucap Pratama.


Semua menyambut dengan tepuk tangan. Namira berinisiatif membersihkan kantor termasuk kamar mandinya.


"Satu perempuan benar-benar mengubah suasana kantor ya." Ujar Tristan, salah satu staf marketing. Namira hanya tersenyum. Tepat saat jam makan siang, sebuah mobil berhenti di depan pintu kantor. Ruangan tersebut sudah diberikan pewangi oleh Namira. AC pun sudah diatur sedemikian rupa suhunya. Seorang pria dengan tinggi kurang lebih 170 cm turun dari mobil dan menuju pintu.


"Selamat siang!" Ucapnya yang kemudian disambut oleh Pratama.


"Hai! Selamat datang di gubug kami!"


"Pak Sani, bapak boleh ikut masuk atau pergj-pergi dulu." Ucapnya.


"Wah, ketua divisi Mikro di pusat punya supir pribadi ya. Sungguh hebat!" Puji Pratama.


"Aku berkunjung ke anak perusahaan yang mencatat prestasi baik bulan ini." Jawab pria itu.


"Apa rahasianya memiliki nasabah kredit yang tidak bandel serta pencairan berkas yang sangat rapi?" selidiknya.


"Kami punya admin baru. Namira, perkenalkan ini Arnav. Arnav, dia Namira."


Wanita itu tersenyum kikuk sementara Arnav hanya melihatnya sekilas.

__ADS_1


"Wah, kerja kalian santai sekali. Tanpa sepatu, makanan di atas meja. Mungkin ini juga salah satu faktor keberhasilan." Arnav memulai pembicaraan baru. Cukup terlihat bahwa ia tidak terlalu tertarik pada Namira ataupun pencapaiannya.


"Oiya, ketika Dira cuti, aku meminta tolong pada admin mu untuk menggantikan Dira. Walaupun aku tidak yakin dengan alasan cutinya. Sepertinya nantinya dia tidak akan kembali. Sayonara lah pada adminmu." Arnav menepuk pundak Pratama sambil tersenyum.


__ADS_2