Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Love Light


__ADS_3

Mereka pulang dengan cukup banyak barang. Namira membeli pompa asi elektrik, tas penyimpan asi, tas penyimpan kebutuhan bayi, stroller, bouncer, serta gendongan. Selain itu mereka juga membeli camilan dan berbagai bahan makanan.


"Makan di mall tidak mengenyangkan. Aku akan memasak lagi." Gerutu Namira.


"Mau masak apa?" Arnav muncul di belakang Namira.


"Mie instan dobel." Seringai Namira.


"Kamu sudah tau itu kurang menyehatkan kan?" Protes Arnav.


"Sekali kali boleh kan? Supaya lebih sehat akan aku beri sayuran dan telur." Namira tersenyum cerdik.


Arnav pun pasrah.


Saat Namira sedang menikmati makannya, Arnav meletakkan dagunya pada pundak Namira.


"Aku janji akan membantumu mengurus anak kita. Bu Ijah juga akan aku minta datang setiap hari. Untuk pengunduran dirimu di klinik, itu hakmu Namira. Jika masa cutimu habis dan kamu ingin tetap bekerja agar tidak jenuh, aku persilahkan. Walaupun keluarga kita tidak mendukung, kita berdua harus saling menguatkan." Arnav memijat pundak Namira.


"Tumben suamiku pintar." Sindir Namira.


Arnav menghela nafas.


"Aku salut padamu karena walaupun hamil kamu tidak rewel seperti wanita-wanita lain. Kamu juga tidak manja." Puji Arnav.


"Wanita-wanita lain? Memangnya sudah pernah menghamili yang lain?" Goda Namira.


"Haduh kamu ini. Galak sekali. Tapi aku sungguh berterima kasih padamu." Ucap Arnav. Namira hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


***


Arnav menemani Namira berjalan kaki di taman. Ia membaca jika aktivitas ini dapat membantu melancarkan lersalinan. Tak hanya itu, Arnav juga memutuskan mengikuti yoga hamil untuk pasangan. Walaupun awalnya Namira menolak karena ia bisa melakukannya sendiri di rumah, namun Arnav dapat meyakinkannya jika dibimbing tutor tentu lebih baik. Namira juga akan memiliki banyak teman baru.


"Untung saja ini hanya seminggu sekali." Protes Namira. Gadis itu memang tidak menyukai keramaian. Ia juga tidak begitu suka bergaul apalagi untuk sekedar rumpi yang kurang penting.


"Sayang, ayo sarapan bubur ayam." Ajak Arnav berusaha meredakan emosi Namira yang selalu menggerutu jika berkumpul dengan banyak orang.


Seorang ibu hamil yang tadi sekelas dengan Namira pun menghampiri mereka.


"Halo mbak Namira dan mas Arnav! Saya Yenni. Tadi saya di sebelah kalian." Sapanya.


Namira menatap bingung namun akhirnya ikut tersenyum.


"Suaminya mana mbak?" Tanya Namira.


"Anda mau dibungkus? Duduk saja di sini bersama Namira, akan saya pesankan." Arnav mencoba memberi solusi. Ia sedikit takut melihat tatapan Namira ke arahnya.


"Ah tidak perlu mas. Saya ikut menemani mas Arnav mengantri saja, tapi saya di samping, tidak di dalam barisan. Kalau saya duduk di sini dan tidak makan malah saya menjadi kurang nyaman ditatap orang-orang yang mencari kursi kosong." Jelas Yenni sambil memainkan rambutnya.


"Mbak, telpon saja suaminya. Saya khawatir kalau Arnav meninggalkan mejanya maka akan diisi oleh orang lain. Dipikir kursi ini pasti kosong. Apalagi jam segini pelanggan sedang banyak." Saran Namira sambil memberi kode pada Arnav untuk tetap duduk.


"Duh, tidak bisa dihubungi." Alasan Yenni. Namira mulai naik darah apalagi tempat itu semakin ramai membuat oksigen disitu berkurang.


"Mas pedagang bubur!!" Teriak Namira. Arnav dan Yenni menoleh takjub pada Namira.


Salah satu asisten pedagang yang tugasnya menerima uang dan menambahkan bumbu pada bubur pun menoleh.

__ADS_1


"Ya mbak?" Ia menghampiri Namira.


"Bungkus dua komplit. Kalau sudah berikan pada mbak yang ini. Saya yang bayar nanti." Tegas Namira.


Arnav terkejut seolah melihat sisi lain dari Namira. Yenni pun tidak menyangka jika Namira tidaklah lembut dan anggun.


"Ini mbak." Ucap pedagang bubur.


"Makasi mas. Bubur empat ditambah jeruk hangat dua. Berapa mas?" Tanya Namira jutek.


"Tujuh puluh ribu mbak." Ucap pedagang bubur. Namira menyerahkan seratus ribu dan membiarkan kembaliannya.


"Terima kasih ya mbak." Komentar pedagang bubur. Namira mengangguk sopan. Ia lantas menarik tangan Arnav mengajaknya menuju mobil.


"Mbak Yenni, saya duluan ya! Coba suaminya ditelpon lagi, kasihan kalau tersasar." Sindir Namira. Yenni pun kesal dan merasa dibodohi.


"Wah Namira asli seperti ini." Arnav berkomentar sambil menyetir.


"Iya memangnya kenapa? Menyesal? Mas Arnav tuh harusnya kalau ada perempuan seperti itu ya ditolak dong. Malah diam saja seolah memberi harapan." Protes Namira.


"Aku hanya bersikap sopan, bukan memberi harapan." Arnav menjawab sambil fokus pada kemudi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2