Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Kantor Pusat


__ADS_3

"Kenapa kamu memanggilku mas sedangkan Pratama Pak?" Tanya Arnav sambil memandang Namira.


Gadis itu berpikir keras. Sangat tidak nyaman jika ini terkait dengan status Arnav yang masih lajang.


"Saya pikir bapak lebih muda dari pak Pratama. Saya minta maaf." Jawab Namira tertunduk.


"Begitu ya? kami seumuran padahal. Mungkin karena dia sudah memiliki anak dan istri jadi jiwa kebapakannya sudah muncul." Nilai Arnav.


Briefing dimulai dan doa dipimpin oleh Riyan. Sesekali ia melirik Namira. Setelah itu semua kembali ke rutinitas. Namira diminta menyelesaikan pencairan kemarin. Ia menuju lantai satu.


"Wah ini nih biang keroknya. Kita tidak bisa pulang cepat kemaren." Ujar seorang wanita berperawakan gemuk.


"Kamu kemana kemarin?" tanya pak manager. Tertulis nama Dewa di sana.


"Saya pulang pak." Jawab Namira gugup.


"Siapa yang ijinkan kamu pulang? Dira sendirian tidak ada yang membantu. Pencairan harus selesai kemarin. Kami sampai malam di sini. Ditambah lagi lihat pakaianmu. Kenapa dulu memilih kerja di bank Az? Pakaianmu seperti pegawai bank Diamond! Parah banget sih kamu!"


Namira hanya diam saja.


"Lanjutkan pencairan! Kamu sudah mencatat semua kan?" Ujar wanita bertubuh gemuk. Namira mengangguk sambil menahan tangis.


Di tengah-tengah pekerjaannya ia sempat bingung.


"Nah kenapa? Udah merasa pinter trus langsung pulang?" tanya wanita tersebut.


Lagi-lagi ia diam. Ini benar-benar seperti neraka. Dengan sigap Namira menyelesaikan semuanya. Ia lantas menuju lantai atas tanpa mempedulikan bekal makannya.


"Wah terima kasih Namira. Pencairan semua cabang selesai. Tapi ingat untuk mengutamakan pencairan nasabah pusat ya." Ucap Tama. Gadis itu diam saja.


"Kamu belum makan?" tanya Arnav lagi.


Namira menelungkupkan wajahnya di meja dan perlahan menangis.


"Ikut aku." Arnav menepuk pundak Namira namun gadis itu tidak bergeming.


Arnav turun ke lantai satu.


"Pak Dewa, saya kesulitan mencari admin. Ketika sudah mendapatkannya, saya mohon jangan disiksa seperti itu pak. Kalau tidak ada pencairan, bank ini collapse!" tegurnya.


"Saya berhak mengetes mentalnya. Dia punya bakat menjadi orang sukses." Jawab Pak Dewa santai.


"Tidak begitu pak caranya. Mulai sekarang ketika Dira tidak masuk, biarkan Rika yang membantunya dan bukan Reva." Tegas Arnav.


Baik Reva maupun Dewa cukup tercengang dengan sikap Arnav.


Namira memasang status di messenger nya.


'Sungguh tidak betah di sini.'

__ADS_1


Arnav mengomentarinya.


'Itu jalan menuju sukses'


Namira tidak menggubrisnya.


Sosok Pratama muncul di jam-jam pulang kantor.


"Pak Pratama!" Namira memanggilnya dengan senang.


"Hai Namira, bagaimana kabarmu?"


"Pak, saya mau bicara penting." Ia mulai menahan tangis.


"Namira! kamu boleh langsung pulang. Pratama ada perlu denganku." Sela Arnav.


Mereka langsung mengangguk dan pergi sementara Namira merasa kesal karena keinginannya untuk curhat dihalangi.


"Halo, Arini! ayo bertemu di kedai kopi di sebelah bank Az." Ajak Namira pada teman SMA nya. Mereka pun bertemu dan kebetulan Namira libur mengajar di hari kamis malam.


"Kamu pesan apa?" tanya Arini.


"Espresso saja. Ini minuman apa ya? Tapi harganya paling murah." Ia pun memesan espresso. Ketika pesanan datang, Namira terkejut melihat segelas kecil kopi di atas mejanya.


"Ya ampun, kecil banget!" Ujar Namira. Ia mencoba meneguknya.


"Pesan yang normal-normal saja makanya! Jus jeruk saja sana!" Saran Arini.


Kini di atas mejanya telah tersedia jus jeruk. Benar-benar membuat Namira membayar lebih.


"Kenapa kamu suntuk banget? Di bank bukannya banyak yang bening?" tanya Arini.


"Bening? Iya bening tapi hatinya busuk." Jelas Namira.


"Masak satu pun ga ada yang nyantol?"


"Tidak! aku tidak mau naksir-naksiran lagi. Kamu kan sudah tau kejadian di klinik dulu. Apalagi di bank ini, aku dianggap seperti sampah. Mana mungkin ada yang suka." Gerutunya.


Tanpa disadari sepasang telinga sedang mendengarkan.


"Bosmu gimana? baik?"


"Pak Pratama baik banget. Walaupun di sana gajiku lebih kecil tapi mereka semua membutuhkan aku. Aku merasa dihargai."


"Lalu bosmu di sini gimana?" Arini melanjutkan.


"Tidak jelas. Aku belum bisa menilai. Aku tidak suka dia. Membela pun tidak. Cuek banget." Terangnya.


Mereka melanjutkan perbincangan hingga jam 9 malam. Waktunya pulang.

__ADS_1


****


"Namira, jika ada yang kurang berkenan katakan saja ya." Ucap Arnav tiba-tiba.


Namira hanya bengong tidak mengerti.


"Lalu kalau tidak mengerti soal kopi, kamu bisa bertanya padaku." Arnav melanjutkan sambil menatapnya dingin.


Ya ampun! apa tadi malam dia di kafe juga? batin Namira.


"Besok akhir pekan tolong datang kemari ya. Kita tidak libur karena harus membereskan barang-barang. Kantor kita akan pindah ke jalan Pagoda." Terang Arnav kepada semua anggota timnya. Namira tidak berkomentar. Saat pencairan di lantai satu, Rika membantunya dengan sangat ramah dan baik. Beberapa orang termasuk pak Dewa pun menjadi lebih lunak.


"Aku Rika. Salam kenal. Aku senang sekali mas Arnav menyuruhku mengajarimu. Dia bicara padaku saja aku senang sekali." Ujarnya. Namira hanya tersenyum.


Bahkan saat jam istirahat, Rika mengajaknya makan bersama disertai beberapa teman lainnya.


"Mas Arnav ganteng banget! senyumnya manis. Orangnya juga mapan dan tidak banyak gombal." Rika bercerita dengan riang gembira.


"Tapi dia kan punya Prita. Padahal mungkin lebih cocok dengan Ida." Sambung wanita lain. Namira hanya mendengarkan saja.


"Eh Namira, kita ini hanya ngefans lho. Jangan cerita-cerita ke siapa-siapa ya? kita tau diri kok tidak pantas dengan mas Arnav." Rika mulai gugup. Namira hanya mengangguk dan tersenyum.


Oh, jadi mas Arnav punya banyak fans? Hmm.


Ia kembali ke lantai tiga dan melihat Prita menawarkan jajanan pada Arnav.


"Bep, besok habis pindahan kantor kita jalan yuk?" Ajaknya.


"Prita, kayaknya aku tidak bisa. Besok aku harus ke mini market mengecek produk-produk membantu Iwan." Ucapnya.


"Hmm yasudah deh." Jawab Prita dengan senyum manjanya.


Dih pacaran kok di sini. Batin Namira.


"Namira! Hari minggu ikut karaoke yuk? bareng Ria juga." Sapa Riyan.


"Jangan mau! dia playboy!" Sela Arnav sambil tertawa.


"Hahaha! tumben pak Arnav ikut-ikut! Minggu ya Namira! bye!" Riyan merasa risih dan kembali.


"Kayaknya dia suka kamu." Seru Tama. Namira hanya mengangkat bahu.


"Kamu pendiam sekali ya." Komentar Tama.


"Padahal di luar dia cerewet sekali." Sambung Arnav. Gadis itu hanya melirik Arnav.


"Wow. Kalian ketemu di luar?" Raja yang merupakan marketing baru ikut berkomentar.


"Tidak sengaja mungkin. Tapi aku tidak tau." Namira buka suara dengan nada dingin. Semua orang pun hanya terdiam.

__ADS_1


__ADS_2