Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Firasat


__ADS_3

Arnav berjalan menuju parkiran motor di bank Az. Ia tidak mendapatkan apa yang ia cari.


"Halo, mas Farhan, bisa bantu aku?" Ia mengambil ponselnya dan menelpon kakak iparnya yang seorang polisi.


"Ada apa dik?" Tanya suara di seberang.


"Aku akan mengirimkan sebuah foto kendaraan dan tolong dicek nama pemiliknya." Tegas Arnav. Farhan pun mengiyakan.


Pria itu memasuki lobby bank, mengamati divisi per divisi. Ia menuju ke ruang SDM menemui Dilla.


"Halo Arnav. Ada apa kemari?" Dilla segera berdiri menyambutnya.


"Maaf mengganggu. Boleh aku melihat presensi hari ini?" Tanyanya sambil duduk di kursi dekat komputer.


"Tumben. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Dilla yang heran dengan sikap Arnav.


"Aku penasaran dengan timku karena hari ini aku sempat pergi sebentar sebelum mereka tiba." Jelas Arnav berpura-pura.


"Baiklah." Dilla membuka komputernya.


"Carilah bagian divisimu. Aku tinggal sebentar ya." Dilla pamit keluar.


Arnav tidak mengetikkan divinya namun mengetikkan Teller dan Back Office. Terdapat satu nama yang bolos hari ini. Ia tersenyum sinis.


"Terima kasih Dilla." Ucap Arnav ketika pintu ruangan dibuka oleh gadis itu.


"Sama-sama. Oh iya, kenapa Namira tidak masuk sudah dua hari? Dia tidak memberikan surat keterangan sakit sehingga aku tidak bisa mengurus jaminan kesehatannya." Timpal Dilla yang membawa secangkir kopi ke mejanya.


"Oh dia sudah meminta ijin padaku." Terang Arnav.


"Ya tidak bisa begitu dong Arnav. Kalau kamu sudah mengetahui alasannya seharusnya memberitahukan padaku. Penggajiannya juga aku harus merekap kan?" Keluh Dilla.


"Ini sedikit rumit. Jadi sejak tragedi di brankas itu dia sedikit ketakutan ditambah seseorang menguntit dia belakangan ini." Jelas Arnav berusaha agar Dilla mau membantunya.


"Wah, itu bahaya! Kasihan psikisnya. Aku akan menjadwalkan konseling kepada psikolog bagaimana? Jika besok dia masih tidak masuk, aku akan menghubunginya." Saran Dilla.


Arnav mengangguk.


***


Tanggal tujuh April


Namira memberanikan diri masuk kerja.


"Tiga hari lagi." Gumamnya.

__ADS_1


Ia bersiap namun seseorang menekan bel rumahnya. Namira memastikan orang di luar sana melalui tirai lantai atas. Ternyata pria itu adalah Arnav.


"Ada apa mas?" Tanyanya heran.


"Ayo berangkat bersama ke kantor." Jawab Arnav.


"Aku bawa motor sendiri saja mas." Pinta Namira.


"Baiklah, tapi aku mengawasimu dari belakang." Usul Arnav.


Gadis itu mengangguk.


Mereka beriringan menuju kantor. Dari sebuah pertigaan, sebuah mobil melaju cukup kencang. Namun sebelum mobil itu menabrak Namira dari samping, mobil Arnav menyerempetnya dan menghalangi jalannya. Pria itu keluar dan menuju mobil mencurigakan tadi. Ia mengambil foto plat mobil tersebut. Sedangkan Namira yang masih kaget hanya menepikan motornya dan melihat yang terjadi melalui spion motornya.


"Maaf, bisakah Anda keluar? Saya mohon itikad baiknya. Seharusnya Anda tidak mengebut di persimpangan." Arnav mencoba bersikap sopan.


Wanita dalam mobil itu menggunakan masker dan kacamata hitam. Ia juga tidak mau keluar dan justru meninggikan gasnya meninggalkan Arnav.


"Oke, ada dua orang yang mencurigakan." Terkanya. Ia pun menuju lokasi Namira.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arnav.


"Aku tidak apa-apa. Sudahlah! Ini benar-benar tidak sebanding dengan lima puluh juta! Aku tidak takut!" Namira histeris sementara Arnav menenangkannya dengan memeluk pundaknya.


Setiba di kantor, Namira diminta menuju ruangan HRD.


"Pagi Namira! Silahkan duduk. Saya ingin mengobrol sebentar." Ucap Dilla.


Tak lama setelah itu Arnav menyusul masuk.


"Ada apa Nav?" Tanya Dilla menoleh ke pintu.


"Aku harus ikut di sini." Jawabnya gugup.


"Tidak perlu. Biarkan aku bicara dengannya berdua." Pinta Dilla.


"Aku rasa pelakunya orang di kantor ini." Arnav menyela.


"Nav, tolonglah, aku tau cara mengatasi ini." Pinta Dilla.


Arnav menghembuskan napas kasar dan keluar dari ruangan tersebut sementara Namira masih bingung dengan pembicaraan keduanya.


"Maaf, saya ingin bertanya, kemana kamu selama dua hari? Bukankah aturannya sudah jelas jika harus meminta ijin atau melapor saat tidak masuk?" Tanya Dilla sambil meletakkan tangannya di atas meja dan memajukan kursinya. Namira yang duduk di sebrang meja hanya menatap Dilla dengan pandangan kosong.


"Apa ada seseorang yang mengganggu kamu?" Tanya Dilla kembali.

__ADS_1


"Aku tidak tau dia siapa. Sebenarnya kejadian di brankas tidak membuatku takut karena itu kaitannya hanya soal kecemburuan terhadap mas Arnav. Tapi kalau sampai menguntit dan berniat mencelakaiku memangnya aku salah apa?" Namira menatap Dilla tajam.


"Apa kamu pikir pelakunya di kantor ini?" Dilla kembali bertanya.


"Aku tidak tau mbak. Selama ini aku tidak punya musuh dan tidak ada yang menyukaiku." Jawabnya datar.


"Kenapa kamu bisa yakin tidak ada yang menyukaimu?" Dilla menatapnya tak percaya.


"Karena semacam kutukan. Tapi entah kutukan itu sudah hilang atau belum. Nyatanya lelaki menyukai wanita yang berpendidikan tinggi dan cantik. Jika dihadapkan dengan level seperti itu tentu saya tidak ada apa-apanya." Jawab Namira dengan pandangan nanar.


"Baik. Saya simpan dulu informasi ini. Lain kali dengan senang hati saya akan mendengar keluh kesahmu yang lain. Jangan sungkan." Ucap Dilla.


Namira pun keluar dari ruangan Dilla dan menuju divisinya dengan langkah gontai.


"Mbak! Duh kemana saja sih? Pekerjaan punya mbak saya yang mengerjakan!" Keluh Siska yang sangat antusias melihat Namira tiba.


"Terima kasih Siska! ke depannya teruslah berusaha keras seperti ini ya!" Namira tersenyum sementara Siska malah memonyongkan bibirnya.


Arnav yang melihat Namira ada di divisi segera menuju ruangan HRD.


"Bagaimana dia?" Tanyanya pada Dilla.


"Duduklah! Dia tidak percaya diri. Dia minder tapi entah apa yang membuatnya begitu. Kamu suka padanya?" Tanya Dilla memastikan.


"Kami akan menikah tanggal 20." Jujur Arnav.


"Apa? Bagaimana bisa dia menerima kamu padahal dia sendiri seminder itu?" Dilla nampak tidak percaya.


"Ada beberapa perjanjian. Aku pikir dia tidak menyukaiku atau justru gengsi. Tapi ternyata dia merasa rendah diri ya?" Arnav menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Sudahlah! Itu urusan kalian berdua. Nanti aku akan coba ngobrol-ngobrol dengan yang lain dan melihat gerak-gerik orang yang menyukai Namira ataupun kamu. Apakah ada nama yang kamu curigai?" Dilla bertanya.


"Sebentar, soal pernikahan kami tidak ada yang boleh tau. Kemudian untuk orang yang aku curigai, mereka adalah Riyan dan Prita. Aku sempat sedikit ribut dengan Prita." Terang Arnav.


"Hm.. Prita memang sedikit berubah sekarang. Yasudah, kamu sabar dulu. Semakin lama di sini malah membuat yang lain curiga." Ujar Dilla. Arnav pun mengangguk dan keluar.


Tidak ada yang menyadari bahwa Arnav mencurigai orang-orang di kantor. Ia juga tetap berusaha profesional pada pekerjaannya.


.


.


.


Kemarin libur update, hari ini ramaikan yaa.. 😋

__ADS_1


__ADS_2