Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
AKU KAMU


__ADS_3

Mendengar Namira menangis, Arnav secepat kilat membalikkan motornya kembali. Ia teringat jika Namira tidak mengantarnya sampai gerbang melainkan hanya di depan pintu. Arnav semakin mempercepat langkahnya hingga ia tiba dan melihat sebuah sepeda motor di depan rumah Namira dan gerbang yang terbuka. Arnav langsung mencari sekring listrik dan menghidupkannya hingga wajah si penguntit nampak. Namira yang semakin takut karena lampu mendadak menyala akhirnya memutuskan tetap di lantai dua.


"Kamu!" Arnav langsung menghantamkan tinjunya ke arah pria itu. Pria tersebut membalas tak kalah kerasnya. Setelah beberapa kali baku hantam, penguntit itu melarikan diri.


Arnav menyeka darah dari sudut bibirnya dan menghubungi Namira. Gadis itu masih menjawabnya dengan berbisik.


"Aku di bawah." Ucap Arnav dengan nafas tersengal-sengal. Namira bergegas turun dan mengintip melalui tirai jendela. Ia segera membuka pintu dan memeluk Arnav sambil menangis.


Tingkah Namira membuat Arnav terkejut dan salah tingkah.


"Hu.. hu... aku takut!" Isak Namira.


Arnav membelai rambutnya dan mengajaknya masuk. Namira melepaskan pelukannya dan memandang wajah Arnav yang membiru di area pipinya.


"Ini kenapa? Sebentar, aku ambilkan es batu dulu." Dengan sigap Namira mengambilkan es batu dan menempelkannya pada pipi Arnav. Tak lupa ia mengoleskan salep pada memar tersebut.


"Sudahlah, ini tidak apa-apa." Sela Arnav.


"Iya hari ini tidak apa-apa tapi akan terasa besok." Protes Namira.


"Mas berkelahi dengan penguntit itu?" Namira berjalan ke arah dapur untuk membuatkan coklat hangat untuk Arnav.


"Iya." Jawab Arnav singkat. Ia bingung apakah seharusnya memberi tahu Namira soal identitas penguntit itu atau tidak.


"Saya pikir mas jago berkelahi ternyata tidak juga ya." Ejek Namira.


Arnav membulatkan matanya pada Namira.


"Kita lihat saja besok siapa yang lebih parah lukanya." Sambung Arnav sinis.


"Maksudnya? Apa itu artinya besok akan bertemu lagi? Kalian ingin melanjutkan perkelahian?" Namira bertanya tanpa henti.


"Dia... sepertinya aku kenal." Gumam Arnav.


"Saya pikir saya salah lihat, tapi apa benar itu Riyan?" Namira bertanya dengan tatapan kosong.


"Iya. Itu Riyan." Jawab Arnav sedikit takut jika nanti Namira menjadi histeris.


"Lalu apa alasannya?" Namira menatap Arnav serius.


"Dia menyukaimu. Apa lagi memangnya alasannya?" Arnav menghela nafas.


"Menyukaiku? Apa benar ada orang yang menyukaiku?" Namira masih berpikir dengan ekspresi yang menggemaskan.


"Memangnya kenapa tidak ada?" Arnav mulai kesal dengan tingkah gadis itu.


"Karena selama ini tidak pernah ada yang serius menyukai aku." Gumam Namira sambil menyembunyikan kekecewaannya.


"Sepertinya masa lalumu berat ya." Arnav setengah mengejeknya.


"Iya. Aku akan berterima kasih pada Riyan dan menolaknya baik-baik. Lain kali aku tidak akan ketakutan lagi." Lanjut Namira mantap.


"Apa maksudmu? Bagaimana kalau dia psikopat?" Arnav tidak habis pikir dengan kesimpulan Namira.


"Aku rasa semuanya bisa dibicarakan baik-baik." Namira tersenyum cerah seolah sedang menjadi artis yang memiliki fans.

__ADS_1


"Cobalah dewasa sedikit. Jika dia orang normal, sudah pasti dia mendekatimu baik-baik. Memberi perhatian, melindungi, bukan menakut-nakuti!" Tegas Arnav.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan Firda muncul.


"Wah, mas Arnav masih di sini?" Tanyanya santai. Namira langsung mendekati adiknya dan menjitak kepalanya walaupun tinggi badannya lebih rendah dari Firda.


"Aduh! Kamu kenapa sih?" Tanya Firda.


"Harusnya kamu cepat pulang! Ada penguntit tadi!" Bentak Namira.


"Ah kamu kebanyakan nonton film horor dan thriller." Timpal Firda.


"Kakakmu benar." Sambung Arnav.


Firda menatap heran, terutama ke arah wajah Arnav.


"Mas kenapa?" tanyanya.


"Ya itu! Dia digebukin penguntit! Untung saja aku telpon dia dan dia segera datang kemari!" Tegas Namira.


"Aku bukan digebukin! Kami berkelahi dan dia menyerah lalu kabur!" Arnav membela diri.


"Serius ada penguntit? Ayo lapor polisi saja!" Saran Firda.


"Tidak usah! Besok kuselesaikan dulu! Aku menginap saja di sini ya! Aku akan tidur dengan Firda!" Ucap Arnav yang kini merasa menemukan sahabat baru yakni calon adik iparnya.


***


"Bisa-bisanya ada penguntit!" Ucap Firda yang kini merebahkan diri ke kasurnya.


"Apa tujuannya?" Firda kembali penasaran.


"Dia menyukai kakakmu." Balas Arnav.


"Banyak juga yang suka sama dia. Sayangnya dia tulalit." Ucap Firda sambil tertawa.


"Dia selalu merasa tidak ada yang menyukai dia." Arnav menimpali.


"Benar. Ini karena si pria itu." Sambung Firda.


"Ceritakan semuanya!" Pinta Arnav.


"Saat SMA, dia berpacaran dengan Bani. Kalau dari sikapnya seolah memang dia menyukai Namira. Tapi ternyata tidak sama sekali. Jadi dia aktingnya mengalahkan artis papan atas." Jelas Firda.


Arnav terkejut mendengar cerita itu. Rasanya ingin marah pada lelaki yang bernama Bani.


"Merek satu SMA?" Tanya Arnav pada Firda.


"Iya. Dia adik kelasnya Namira." Firda menjawab sambil memainkan game online dari ponselnya.


"Hah? Seleranya daun muda?" Arnav merasa cemas karena dirinya tidak masuk kriteria.


"Sabar. Mungkin dari situ dia bisa belajar." Ucap Firda sambil menepuk pundak Arnav.


***

__ADS_1


"Pagi!" Arnav keluar dari kamar Firda dan melihat Namira menyiapkan sarapan.


"Pagi. Bagaimana lukanya mas?" Tanya Namira.


"Tidak apa-apa. Kamu khawatir ya?" Goda Arnav.


"Tidak sama sekali." Balasnya jutek.


Ponsel Arnav berdering. Sebuah panggilan dari mas Farhan.


"Halo mas! Kabarku baik! Ada apa?


Oh.. baiklah mas. Terima kasih banyak bantuannya!" Ucap Arnav.


"Ada apa?" Namira bertanya sambil menyajikan nasi goreng di atas meja.


"Aku minta mas Farhan menyelidiki motor penguntit itu. Ternyata benar itu milik Riyan. Aku bisa menggunakan ini sebagai ancaman untuk membawa dia ke kantor polisi jika dia masih mengganggumu." Ucap Arnav.


Namira merasa terharu atas perhatian Arnav.


"Sudah membuat janji dengan dokter untuk tes kesehatan?" Tanya Namira sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


"Iya sudah. Besok malam sepulang kantor aku jemput kamu. Sekarang kan hari minggu." Arnav juga menyendokkan nasi gorengnya.


"Bagaimana jika aku sehat dan terbukti tidak mempunyai bekas wanita? Apa hadiah untukku?" Goda Arnav.


"Wah, sekarang kita bicara 'aku kamu' seolah seumuran saja. Tidak ada hadiah. Itu artinya kita cukup bersyukur saja." Jawab Namira santai.


"Memangnya kenapa dengan 'aku kamu'? Bukankah bagus jika kita bisa lebih akrab? Atau mungkin kamu bisa menganggapku daun muda." Timpal Arnav.


Namira membulatkan matanya mendengar kata daun muda.


"Cepat habiskan lalu pulanglah." Pinta Namira.


"Tidak. Aku mau menginap di sini. Aku akan minta Iwan mengambil seragam kerjaku di laundry." Balas Arnav sambil tertawa.


***


"Aku ketahuan oleh Arnav!" Ucap Riyan pada Prita.


"Yang terpenting Namira sudah ketakutan. Tapi sebenarnya seberapa rasa sukamu pada Namira? Kamu seperti psikopat, bukan pengagum rahasia." Timpal Prita.


"Hahaha! Aku hanya ingin bersenang-senang saja dengannya!" Riyan tertawa menggelikan.


"Tapi akhirnya Namira tidak mungkin menyukaimu!" Sambung Prita.


"Terserah! Yang penting juga tidak menyukai Arnav. Ya intinya aku hanya iseng." Riyan kembali tertawa-tawa.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2