
Tring...
Ponsel Arnav berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Dilla mengirimkan foto Namira dan Serkan. Arnav yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Namira menghubungi Arnav dan suaminya itu langsung menemuinya. Tak lama kemudian Vita pun muncul.
"Ah, pak Serkan!" Seru Vita.
"Kalian sudah saling mengenal?" Celetuk Namira.
"Ya. Aku rasa begitu." Serkan menatap Vita sinis.
"Baiklah, ayo masuk ke ruang prioritas." Arnav menengahi keadaan.
"Lho, kenapa seolah mereka baik-baik saja?" Dilla mengepalkan tangannya melihat pemandangan di depannya.
***
"Mohon untuk mengisi formulir ini." Vita menyerahkan formulir pada Serkan.
"Vita, kenapa kamu jutek begitu? Dia calon nasabah prioritas. Sediakan minum terlebih dahulu." Perintah Arnav. Vita menghela nafas sedangkan Serkan mengikutinya dengan ekor matanya.
Vita mengingat kejadian dimana ia membentak Serkan selaku dosen yang membuat temannya sakit parah. Sekalipun ia dan temannya tidak satu jurusan, tapi mendapati temannya diperlakukan tidak manusiawi membuatnya geram.
Ketika urusannya sudah selesai dengan formulir, baik Namira, Serkan, hingga Arnav mengobrol bersama. Mereka tertawa terutama saat Serkan menceritakan perihal Namira yang kesulitan mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir.
"Huh, dia bisa tertawa juga." Batin Vita. Ia juga bergumam bahwa Namira sangat ceria dan pantas saja Arnav menyukainya.
Saat hendak keluar, Serkan menatap Vita.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Serkan terkesan menyindir.
Vita hanya membulatkan matanya dengan kesal.
"Sampai kapan kamu salah paham pada saya hah anak kecil? Harusnya jangan percaya dengan bualan temanmu itu." Ucap Serkan seraya menabrak pundak Vita.
"Mas, aku pulang dulu ya. Aku capek sekali." Ucap Namira manja.
__ADS_1
Arnav menganggukkan kepalanya dan membelai kepala Namira. Pemandangan ini sungguh membuat Vita iri dan sangat ingin merasakan pemandangan itu terjadi pada dirinya.
"Vita, apa kamu mengenal Serkan?" Arnav memecah lamunan Vita.
"Ah, iya pak! Dia dosen di Universitas Karimun." Vita menunduk dan pamit pergi.
***
Namira merasa pening dan panas dingin. Ia meminum obat dan tidur. Jam lima sore Arnav telah kembali dan mendengar suara Namira di kamar mandi.
"Hoek.. hoek..!" Namira merasa sangat pusing dan mual.
"Sayang!" Arnav bergegas menekan tengkuk istrinya.
"Mas Arnav sudah pulang? Sepulang dari kantor tadi badanku tidak enak." Celetuk Namira dengan mata yang nanar.
"Sini, berbaringlah!" Ajak Arnav. Ia mengambilkan air hangat.
"Aku akan meminum anti mual. Sepertinya ini sudah memasuki babak menegangkan dari kehamilan." Keluh Namira.
"Aku akan membantu sebisaku. Jangan segan meminta bantuanku." Arnav membelai rambut Namira yang berkeringat.
"Mas, mandi dan makanlah dulu." Ucap Namira yang menyadari jika Arnav masih menggunakan pakaian kerjanya.
"Kamu bersiaplah. Kita makan di luar sekalian mengajakmu menghirup udara segar." Ajak Arnav. Tak berapa lama kemudian mereka pergi ke sebuah rumah makan dengan menu rumahan.
Namira menelan ludah melihat banyaknya hidangan yang menggugah seleranya. Arnav pun dengan senang hati menuruti keinginan Namira untuk memesan banyak makanan. Namun baru satu suapan, Namira merasakan mual hebat. Ia berusaha menarik nafas, menghembuskannya, dan menyesap vitamin B6. Tak hanya itu, ia juga meminum pomegranate yang selalu disiapkannya di tas.
"Aku sudah lebih baik. Tapi maaf mas, aku tidak bisa melanjutkan makan." Namira nampak menyesal.
"Tidak apa." Arnav mengelus tangan istrinya.
"Bu, bisakah saya bungkus ini semua?" Namira memanggil salah satu pelayan. Arnav menghela nafas. Istrinya ini memang sangat irit.
"Setidaknya kalau nanti malam aku lapar, ini semua berguna." Sangkal Namira saat mengetahui Arnav menatapnya dengan pandangan malu.
Mereka memasuki mobil dan lagi-lagi Namira merasakan sensasi tidak nyaman pada tubuhnya.
__ADS_1
"Belikan aku kompres hangat mas. Botol karet juga boleh." Serunya sambil menggigil. Arnav menurut dan segera bertindak.
"Namira, bisakah kamu meminta libur pada Serkan? Bilang saja sedang kurang enak badan." Arnav kini mengamati Namira yang berbaring di atas tempat tidur.
"Tidak. Jika di rumah saja aku akan merasa kurang nyaman." Keluh Namira. Arnav merasa sangat khawatir dengan istrinya. Tak hentinya ia mencium kening Namira.
"Aku ingin dipeluk." Namira langsung merangkul Arnav. Pria itu membelai Namira hingga keduanya tertidur.
****
"Hoek.. Hoek..!" Pagi ini Namira kembali muntah hingga tak ada sesuatu yang bisa dikeluarkan lagi. Seluruh isi perutnya sudah terkuras habis.
Arnav sungguh merasa tidak tega.
"Istirahatlah di rumah. Aku mohon. Aku tidak tenang jika kamu bekerja dalam kondisi seperti ini." Arnav memijat tengkuk Namira.
"Aku tidak apa-apa. Tolong belikan bubur. Setelah itu aku akan minum obat." Pinta Namira.
"Anakku, jadilah anak baik ya! Kasihan mama!" Arnav mengecup perut Namira. Gadis itu menatap suaminya dengan haru. Benar juga, seharusnya ia mengkomunikasikan segalanya dengan calon anaknya.
***
"Aku tidak mengijinkan kamu berangkat sendiri. Nanti juga akan kujemput." Arnav menggenggam dan mencium punggung tangan Namira.
Ternyata pergi ke klinik membuat suasana hati dan kesehatan Namira membaik. Ia benar-benar tidak nampak lemas dan tidak ada yang menyadari kehamilannya.
Di sisi lain, Arnav sibuk membaca artikel-artikel terkait kehamilan. Ia bertekad akan mengajak Namira jalan-jalan akhir pekan ini. Semua demi membuat istrinya lebih rileks.
***
"Mas, malam ini aku mulai kuliah." Celetuk Namira seusai keduanya tiba di rumah dan mandi.
"Aku akan membantumu. Tenanglah. Apapun tugasmu nanti akan aku bantu." Arnav merangkul pundak istrinya. Tak selang beberapa lama, Namira tertidur di pelukan Arnav.
"Haah, aku yang kuliah." Guman Arnav sambil menyalakan laptop. Ia mendengarkan dengan cermat perkuliahan hari itu termasuk langkah-langkah presensi. Peraturan kelas, persentase penilaian, semua dicatat dengan rapi olehnya.
Ia kembali membelai rambut Namira seakan berusaha menyalurkan energinya pada gadis itu. Tak lupa ia kembali mengajak calon anaknya berbicara. Arnav benar-benar merasa senang dan bersyukur untuk semua hal yang terjadi sejauh ini.
__ADS_1
***