
Namira tidak menjawab pertanyaan Arnav. Ia masih kesal dengan semua yang terjadi.
"Jadi mas ceritakan semua pada mbak Dilla? Yakin sekali jika dia orang baik! Saya bahkan tidak menceritakan apapun pada siapapun. Mas ceritakan juga soal perjanjian itu?" Tanya Namira kecewa dan kesal ditambah dengan intonasi yang tinggi.
Arnav nampak terkejut dengan sikap Namira yang ternyata bisa menjadi sangat marah.
"Saya minta maaf. Sebaiknya kamu mengenal Dilla dulu. Saya lupa menceritakan soal pertemanan kami sejak di bangku kuliah." Jelas Arnav.
"Saya tidak peduli mau kalian berteman dari orok atau dari kapan. Dia satu kantor dengan kita! Bahkan Siska saja tidak saya beritahu!" Keluh Namira.
"Cobalah sekali-kali jangan berburuk sangka pada orang lain. Jangan minder, jangan pesimis!" Pinta Arnav sambil memegang pundak Namira.
"Jangan sentuh saya! Mas Arnav pulang saja. Tau darimana saya minder dan pesimis? Dari mbak Dilla? Tidakkah mas curiga kenapa dia memberikan kesan jelek tentang saya kapada mas Arnav? Kalau sepercaya itu padanya nikah saja dengan dia! Lagian kenapa harus repot menikahi orang yang perasaannya tidak jelas. Seharusnya menikah saja dengan orang yang menyukai kita." Namira masih saja sewot.
"Jika semua orang berpikir seperti kamu lantas siapa yang akan dicintai ketika semua ingin mendapatkan orang yang mencintai? Saya sedang membangun cinta. Ketika kamu ingin menikah dengan orang yang mencintai kamu, saya orangnya. Sekalipun kamu tidak suka, saya akan membuat kamu menjadi suka. Sebaliknya, ketika saya memilih menikah dengan orang yang mencintai saya tapi tidak saya cintai, itu akan repot. Karena laki-laki sulit jatuh cinta sedangkan wanita lebih mudah." Jawab Arnav sabar.
"Sudahlah berhenti berpidato. Pulang sekarang!" Pinta Namira.
Arnav menghela nafas.
***
Ponselnya berdering.
"Halo Dilla, ada apa?" tanya Arnav.
"Nav, ada reuni di kampus, di kota Sura. Apa kamu tidak mau sekalian mengundang teman-teman alumni ke pernikahanmu? Jika orang-orang di kantor tidak boleh hadir bukankah lebih baik alumni hadir?" Tanya Dilla.
"Ide bagus itu. Aku kirimkan undangannya ke kamu ya! Aku tidak bisa reuni karena sibuk mempersiapkan pernikahan." Timpal Arnav.
"Ya ampun! Lalu pengantin wanitanya sibuk apa dong? Ngambek?" Goda Dilla.
"Dia sepertinya cemburu padamu." Lanjut Arnav.
"Hahaha! Dasar bocah! Sudah dulu ya!" Timpal Dilla.
Arnav menghela nafasnya. Sebelas hari lagi terasa begitu panjang.
***
Tanggal Sembilan
Arnav menatap langit-langit kamarnya di akhir pekan. Hari ini dan besok ia libur. Sebenarnya bisa saja ia mencari penerbangan ke kota Sura namun kondisi hubungannya dengan Namira sedang kacau.
Ia mengambil ponsel menghubungi Namira.
__ADS_1
"Halo." Sapa gadis itu jutek.
"Hari ini ada acara tidak?" Tanya Arnav.
"Saya banyak acara. Firda pulang hari ini." Jawabnya ketus.
"Baiklah. Saya temani menjemput Firda ya?" Balas Arnav dengan menahan senyum.
"Baik. Mas saja yang jemput. Sudah ya, saya sibuk." Masih dengan nada ketusnya.
"Saya jemput kamu dulu saja lalu setelah menjemput Firda, kita makan siang bersama." Timpal Arnav.
"Yasudah terserah." Jawab Namira.
Arnav tertawa setelah panggilan dimatikan.
"Lucu sekali calon istriku ini." Gumamnya.
***
Arnav menjemput Namira yang sudah siap dengan pakaian berwarna jingga. Gadis itu nampak sangat manis. Ia masuk ke dalam mobil masih dengan wajah juteknya.
"Namira, sebenarnya saya hari ini ada reuni di kampus. Tapi saya tidak datang." Arnav membuka percakapan.
Aduh, dia malah tambah marah. Arnav bergumam.
"Bukan begitu. Saya menitipkan undangan untuk teman-teman kepada Dilla." Arnav berupaya sebisa mungkin agar Namira berhenti marah.
"Mbak Dilla itu suka sam mas Arnav. Saya itu perempuan. Sudah jelas bisa paham perilaku perempuan lain. Hanya saja caranya dia mendekati mas Arnav itu lebih halus dibandingkan mbak Prita yang agresif." Namira gemas dengan Arnav yang tidak juga memahami siasat wanita.
"Buktinya apa? Sejauh ini dia tidak pernah berkata suka. Jika kamu cemburu katakan saja. Saya pasti akan senang sekali." Ucapnya dengan senyum yang lebar. Pandangannya masih tetap berfokus pada jalanan.
Namira mendengus kesal. Arnav meliriknya dan tersenyum.
"Undangannya sudah jadi. Kurang lebih seperti ini. Kamu bawa sejumlah 150 ya. Oh iya, mbak Sari sudah menelponmu belum?" Arnav antusias mengeluarkan undangan dari dashboard mobilnya ketika lampu lalu lintas berwarna merah.
"Saya tidak tahu. Kalau nomor tidak dikenal biasanya tidak saya angkat." Ucapnya sambil menatap undangan itu satu per satu.
Arnav menghela nafas. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kakaknya.
"Halo mbak, aku bersama Namira. Apa mbak jadi menanyakan soal segala hal yang disukai Namira untuk kado pernikahan?" Arnav kemudian menyerahkan ponselnya pada Namira dan memberi isyarat agar gadis itu berbicara dengan kakaknya.
"Ha.. Halo" Ucap Namira gugup.
"Iya mbak. Apa saja saya suka. Kalau perawatan wajah saya tidajk terpaku pada satu merk. Iya mbak, baik, terima kasih banyak." Namira kemudian memberikan ponselnya kembali pada Arnav.
__ADS_1
"Mbak Sari tanya apa?" Arnav menoleh ke arah Namira.
"Tanyakan saja pada Mbak Sari mas. Saya bingung harus menjelaskan darimana karena terlalu panjang." Jawab Namira dengan nada santai dan nampak ia sedang memainkan ponselnya.
***
Firda sudah tiba dan mendapati kakaknya dan calon kakak iparnya sedang menunggunya di pintu kedatangan.
"Bagaimana liburanmu?" Tanya Arnav.
"Baik mas. Sebenarnya aku tidak betah di sana. Terlalu banyak huru-hara terutama para wanita." Firda bercerita panjang lebar dan nampak akrab dengan Arnav. Namira hanya menyibikkan bibirnya.
"Ayo makan siang! Kita akan makan siang dimana dan siapa yang bayar?" Tanya Namira sengit.
"Firda, kamu suka apa?" Tanya Arnav.
"Aku suka ayam krispi mas. Tapi apa saja sebenarnya aku mau." Jawabnya setengah malu-malu.
Mereka menuju restoran cepat saji yang menyajikan ayam krispi.
"Firda, apa kakakmu pernah pacaran?" Arnav memancing pertanyaan saat Namira sedang ke kasir memesan dan mengantri makanan.
"Pernah dong. Masak kakakku belum pernah pacaran?" Firda menjawab sambil tertawa.
"Saat kuliah atau kapan?" Arnav mulai tertarik dengan perbincangan mereka.
"Sepertinya waktu SMA. Karena pria itu dia jadi tidak percaya diri seperti sekarang. Oh atau ada lagi ya selain itu? Yang aku tau sih saat SMA itu yang paling membekas." Jelas Firda panjang lebar.
"Oh tidak apa. Kupikir masih baru-baru ini kakakmu pacaran. Kalau sudah lama artinya sudah dilupakan, kan?" Arnav menghibur dirinya sendiri.
"Siapa bilang? Dia masih banyak berharap bertemu lagi dengan mantannya itu. Sepertinya masih banyak teka-teki soal putusnya mereka." Jawaban Firda membuat Arnav sedikit sakit hati.
Namira tiba membawa nampan. Ia kemudian duduk bersama Firda dan Arnav. Pandangannya tertuju pada orang-orang yang sibuk makan, ngobrol, atau sekedar menunggu seseorang.
"Namira! Kamu Namira kan?" Ucap seseorang yang ia kenal.
.
.
.
.
Tinggalkan jejak yaa readers...
__ADS_1