Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Melelahkan


__ADS_3

Akhirnya seminar diikuti oleh tim medis lain selain Serkan, perawat Sylvia, dan Namira. Tanggal tujuh belas dini hari Arnav dan Namira berangkat ke kota Tua. Perjalanan memakan waktu tiga jam. Mereka akan tiba jam enam pagi. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya diam sedangkan Arnav disibukkan dengan barang bawaan mereka.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Arnav khawatir.


Namira hanya mengangguk dan tertidur di pundak Arnav.


***


Mereka tiba di kota Tua dan langsung dijemput oleh mas Farhan.


"Selamat datang!" Ujarnya sambil memeluk Arnav dan bersalaman dengan Namira.


"Tidak dinas mas?" Tanya Arnav.


"Aku masuk malam." Jawabnya seraya membantu memasukkan barang-barang ke bagasi mobil.


"Kita ke rumah mama papa dulu kemudian ke hotel ya mas!" Seru Arnav sambil memperhatikan wajah Namira dari spion mobil. Ia menemani mas Farhan duduk di depan.


Beberapa menit mereka sudah tiba di sebuah rumah berlantai dua yang sangat besar dengan pagar tinggi menjulang. Tak hanya itu, halaman yang luas dan kolam renang di sisi samping sangat menarik perhatian. Dengan gugup Namira melangkah. Tangannya juga terus digenggam oleh Arnav.


"Tenang saja. Nanti kita segera ke hotel." Bisik Arnav menenangkan.


Namira tidak menggubrisnya.


"Halo! Anak-anak mama!" Sapa bu Santi sambil memeluk Namira dan Arnav bergantian. Pak Arya pun pagi ini juga masih di rumah dan menyambut mereka. Bahkan mbak Sari pun menyembul di balik pintu.


"Hai kalian!" Sapanya riang. Sekalipun ia berjarak sepuluh tahun lebih tua dari Namira, namun ia tak kalah muda dan modis.


Namira hanya tersenyum dan mereka pun masuk ke dalam rumah bersama. Tersaji berbagai menu sarapan di atas meja.


"Ayo kita sarapan!" Ajak bu Santi.


Namira duduk dengan canggung.


"Kamu sedikit pucat, apa baik-baik saja?" Tanya mbak Sari pada Namira.


"Aku baik mbak. Hanya sedikit lelah." Jawab Namira ramah.


"Setelah ini beristirahatlah!" Sambung pak Arya.


"Ma, pa, setelah sarapan, aku dan Namira akan ke hotel. Kami pinjam mobil ya!" Arnav membuka pembicaraan.


"Kamu saja yang ke hotel. Namira akan tetap di sini." Sambung bu Santi. Namira menelan ludah. Ia mengharap Arnav paham betul jika ia tidak nyaman di sini.


"Dia akan ikut Arnav. Selesai rapat kami kembali kemari. Ada beberapa hal yang harus kuurus dengan Namira sebelum rapat." Tegad Arnav.


"Yasudah. Tapi nanti segera kemari ya! Kita fitting dan cek lokasi resepsinya. Semua sudah beres. Hanya jika ada yang kurang berkenan bagi kalian, mama dan kakakmu akan menyesuaikan." Jelas bu Santi.

__ADS_1


"Namira, kamu lebih berisi ya sekarang?" Mbak Sari berkata sambil mengamati Namira. Ia hanya tersenyum mendengar komentar kakak iparnya.


"Baru saja mama mau mengatakan begitu! Tapi itu bagus kok. Nampak lebih cantik." Sambung bu Santi. Sebenarnya Namira malas membahas hal-hal seperti ini. Hidupnya hanya dipenuhi hal-hal serius.


"Yang penting Arnav tetap cinta!" Celetuk Pak Arya. Farhan yang juga berada di sana hanya menatap Namira dan Arnav bergantian. Ia paham jika adik iparnya beserta istrinya ingin segera kabur.


"Oh ya dong pa! Aku bangga karena artinya aku memberinya gizi yang baik." Celetuk Arnav.


***


Kini Namira dan Arnav telah berada di mobil. Namira menghembuskan nafas dan memejamkan mata.


"Maaf ya!" Arnav menggenggam tangan Namira. Gadis itu diam dan tak berniat menanggapi.


Arnav merasa serba salah. Sejak mereka berangkat, istrinya hanya diam. Tersenyum sebentar kemudian kembali diam.


Setibanya di hotel, Arnav bergegas membersihkan diri sedangkan Namira memilih tidur.


"Sayang, aku rapat dulu ya!" Arnav mencium kening Namira dan pergi. Sebenarnya ia ingin menghibur istrinya tapi ia akan menunggu hingga selesai rapat.


Sementara Namira bergelut dengan pikirannya. Ia merasa tidak nyaman. Bertemu banyak orang asing dan mendengar pendapat orang baru sungguh menyebalkan.


Selang satu jam Arnav kembali. Namida masih tertidur dengan lelap.


"Sayang, ayo bangun dan mandi. Kita nikmati fasilitas hotel." Arnav mengelus pipi Namira.


"Iya. Aku tidak ikut ramah tamah dan lainnya. Aku merindukanmu!" Arnav membenamkan kepalanya di leher Namira.


"Jangan menggombal. Aku akan mandi dan kita selesaikan urusan resepsi. Setelah itu baru nikmati fasilitas hotel." Usul Namira seraya membangkitkan diri.


Arnav merasa masih belum berhasil memperbaiki mood istrinya. Ia menghela nafas kasar.


Di sisi lain, Vita harus menyelesaikan sisa pekerjaan Arnav yakni beramah tamah. Gadis itu lagi-lagi terpana dengan sikap Arnav yang sangat mengutamakan Namira.


"Pak Arnav, selanjutnya bagaimana?" Tanya Vita waktu itu.


"Maaf, istriku sedang butuh hiburan. Aku harus kembali. Sisanya kuserahkan padamu." Begitulah ingatan Vita berputar mengenai sikap bosnya.


***


Namira dan Arnav beranjak ke lokasi bridal yang dipilih bu Santi. Mereka fitting. Walaupun bagi Namira semuanya terlalu berlebihan, namun ia enggan berkomentar.


"Bicara padaku apapun yang membuatmu tidak nyaman." Arnav memegang pundak Namira.


"Aku baik-baik saja. Cepat kita selesaikan. Aku lelah." Ucap gadis itu. Arnav mengangguk. Untuk lokasi pernikahan, mereka akan melangsungkannya di atrium hall Mall Casablanca milik bu Santi.


"Halo ma, kami sudah di mall. Tidak masalah soal dekorasinya." Ucap Arnav menghubungi bu Santi. Beliau meminta Arnav untuk datang ke rumah dan makan malam bersama. Namira menghela nafas.

__ADS_1


"Aku belum terbiasa. Tapi baiklah." Ujar Namira tak berdaya.


Arnav merasa bersalah namun ia pun bingung harus berbuat apa.


***


"Kalian tidur di sini? Besok resepsinya siang hari sampai malam." Ujar bu Santi. Namira sontak terkejut.


"Kenapa lama sekali ma?" Tanya Arnav sambil melirik Namira.


"Teman-teman mama dan papa banyak Nav. Begitu pula dengan temanmu dan teman kakakmu serta Farhan." Jawab bu Santi yang nampak tidak suka dengan komentar Arnav.


"Bagaimana Namira?" Tanya bu Santi.


Sudah diputuskan baru bertanya. Apa gunanya? Ucap Namira dalam hati.


"Tidak apa ma. Kami tidak sibuk." Jawab Namira sambil berusaha tenang. Ia yang sudah tidak mual beberapa hari ini mendadak mual. Mungkin karena stress. Namun ia berusaha menahannya.


"Istrimu saja setuju! Ya sudah, besok pagi bergegas kemari ya! Kalian boleh tidur di hotel malam ini walaupun sebaiknya tidur di sini saja." Usul bu Santi.


"Arnav masih ada urusan dengan salah satu karyawan. Sepertinya sampai malam. Daripada kembali kemari memakan waktu istirahat Arnav, jadi sebaiknya tidur di hotel." Arnav mencari alasan.


"Ya baiklah." bu Santi tak banyak berkomentar.


**


Baru beberapa meter dari rumah Arnav, Namira memuntahkan makanannya pada sebuah plastik di dalam mobil.


"Namira, kamu kenapa?" Tanya Arnav panik.


"Sudah jangan pedulikan aku. Cepat kembali ke hotel dan kita istirahat." Perintah Namira.


"Bagaimana aku bisa tidak peduli pada kondisi istriku?" Arnav sedikit emosi. Ia menepikan mobilnya pada sebuah mini market. Ia membeli susu hangat pada mesin minuman.


"Setidaknya minumlah yang hangat-hangat." Arnav menyerahkan minuman.


"Aku minta maaf membuatmu stress." Ucap Arnav sambil membelai rambut istrinya.


"Aku juga minta maaf karena belum bisa berbaur dengan keluargamu." Namira berkata sambil melempar pandangan keluar mobil.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2