
Namira menangis namun tidak terisak saat Arnav menuduhkan semua kepadanya.
"Katanya perkataan orang marah adalah perkataan yang jujur karena murni dari hatinya. Aku memang membutuhkan uang untuk keperluan hidupku dan cita-citaku. Aku berpacu dengan waktu untuk menggapai itu semua. Namun sebenarnya bukan itu intinya. Aku belum siap membuka hati. Berikan aku waktu." Ucapnya di belakang punggung Arnav.
"Sebenarnya kamu ingin membuktikan kehebatan dan pencapaianmu untuk siapa? Untuk mantan pacarmu bukan?" Arnav mengepalkan tangannya dengan posisi masih memunggungi Namira.
"Iya." Jawab Namira jujur.
"Haha! Begitu rupanya. Untuk mantan pacar dan semua laki-laki yang menolakmu. Bukan untuk membuat keluargamu dan suamimu. Sudah cukup. Aku akan mempercepat keberangkatanku besok. Selamat membalas dendam. Mini Market Arn sesuai kesepakatan awal adalah menjadi milikmu. Uang kuliah itu tetap milikmu. Aku tidak suka mengambil kembali apa yang sudah aku beri. Jika kamu mau melanjutkan ini sampai lima tahun itu terserahmu. Oh iya! Mobilku, ambillah! dan ini untukmu. Tiket pesawat yang berlaku hingga tahun depan. Ini bukan dariku, tetapi dari Bank Az karena setau mereka kita pergi berdua. Semoga balas dendammu berhasil." Pesan Arnav dan kemudian ia pergi.
Namira semakin bingung. Ia tidak tau harus bersikap seperti apa. Tidak lama kemudian ia melihat status Arnav bersama rekan-rekan lainnya yang besok akan berangkat. Pria itu menunjukkan ekspresi baik-baik saja ditambah lagi dengan adanya Dilla di sampingnya.
***
Arnav memilih menghabiskan malam di kantor sekaligus melakukan perpisahan dengan rekan-rekannya. Saat turun ke lobi, ia melihat Prita. Bergegas ia menarik tangan wanita itu.
"Puas kamu sekarang meminta Pak Harri memindahkan aku ke Tidore?" Ucap Arnav dengan emosi.
"Nav, aku hanya ingin kamu menjauhi Dilla. Aku sudah menerima pernikahanmu. Jangan musuhi aku. Biar bagaimanapun dulu kita sangatlah akrab." Ucap Prita memelas.
Arnav melepas tangan Prita dengan kasar. "Kamu terlalu banyak alasan! Dilla akan ikut bersamaku!" Jawab Arnav. Prita menatapnya heran dan terkejut.
"Kenapa bisa?" Gumam Prita.
Arnav yang sudah sangat emosi bergegas pergi.
***
"Halo." Namira menjawab telpon di seberang.
"Apa kamu sudah tau jika Arnav akan ke Tidore?" Tanya Prita terisak.
"Sudah." Jawab Namira berusaha tenang.
"Dilla juga pergi. Padahal sebelumnya HRD kota Sura lah yang akan dikirim." Sambung Prita masih dengan nada terisak.
"Aku sudah pernah bilang, biarkan saja mbak Dilla mau melakukan apapun." Sela Namira.
__ADS_1
"Kamu ikut kan?" Tanya Prita.
"Aku belum tau." Jawab Namira lirih.
"Kamu bagaimana sih? Dia akan menggoda suamimu di sana! Dia licik!" Gerutu Prita.
Namira nampak berpikir.
"Baiklah. Aku akan ikut dan kembali untuk ujian masuk universitas. Aduh itu pasti mahal sekali." Keluh Namira.
"Bodoh! Kamu tidak tau siapa Arnav? Pulang pergi Tidore tidak akan jadi masalah! Ujian online pun juga bisa kan? Amankan dulu suamimu saat ini!" Gerutu Prita.
****
Namira menyusul Arnav ke kantornya. Ia pergi menggunakan taksi. Jam menunjukkan angka delapan. Suasana kantor ternyata belum sepi.
Namira mendapati Arnav dan Dilla sedang makan besar bersama Raja, Siska, Tama, dan pak Bambang. Ia masih berusaha tenang. Menampilkan wajah tanpa ekspresi adalah keahlian Namira.
"Mas, ada yang mencari. Cie cie.. " Goda Tama sambil mencolek Arnav.
"Aku sudah melepasmu sekarang malah kamu mencariku. Permainan apa lagi ini?" Ucap Arnav lirih saat posisinya sudah mendekati Namira sehingga tidak ada yang mendengar.
Namira masih berusaha tenang. Ia tidak menyangka bosnya yang dingin ternyata bisa banyak bicara seperti ini. Terlintas beberapa kenangan saat mereka baru saling mengenal dan kantor ini menjadi saksinya.
"Kita harus berpamitan dengan papa, mama, dan Firda." Ucap Namira datar. Ia kemudian berjalan mendahului Arnav, mengambil tas laki-laki itu. Pria itu menyusulnya dari belakang. Namira segera mencari taksi. Ia masuk terlebih dahulu dan menunggu Arnav menyusul tanpa berbicara.
"Setelah kamu mengetahui kekayaanku lantas berbuat baik padaku, begitu?" Tanya Arnav sinis. Gadis itu hanya diam. Sikap Arnav yang hangat kini sudah hilang berganti menjadi sosok asing bagi Namira.
"Sudah jam sembilan malam, ada apa kalian tiba-tiba kemari? Kalian naik apa?" Tanya Pak Edi saat membukakan pintu untuk putri dan suaminya.
"Naik taksi Pa. Kita kemari mau sekalian berpamitan karena mulai besok mas Arnav pindah tugas ke Tidore." Terang Namira.
"Ayo masuk dulu." Ajak Pak Edi seraya memanggil istrinya dan Firda.
"Kenapa mendadak?" Tanya bu Megumi.
"Iya ma. Di sana mau membuka kantor cabang." Jawab Namira. Sementara Arnav hanya terdiam.
__ADS_1
"Besok berangkat jam berapa? Kalian perlu membawa apa saja? Mama siapkan besok. Kalian tidak membawa koper?" Tanya bu Megumi.
"Koper mas Arnav sudah di kantor ma. Besok akan dibawakan oleh supir ke bandara sekalian berangkat bersama teman-teman lainnya. Namira hanya tinggal menyiapkan kebutuhan Namira." Jawab putri bu Megumi.
Arnav menajamkan pendengarannya. Benarkah istrinya akan ikut?
"Berapa lama kalian di sana?" Tanya bu Megumi khawatir.
"Paling cepat dua tahun ma. Tenang saja. Teknologi semakin canggih. Mama tidak perlu khawatir." Ucap Namira sambil menggenggam tangan ibunya.
Arnav belum mengganti pakaian kantornya sejak siang. Ia nampak acak-acakan. Firda seolah paham apa yang terjadi pada kakak iparnya.
"Mas Arnav, aku minta tolong sebentar memperbaiki laptopku." Firda mencari alasan untuk bicara berdua dengan Arnav. Pria itu menurut dan langsung menuju kamar Firda.
"Katakan ada apa?" Tanya Firda serius.
"Aku bertengkar dengan Namira. Kakakmu hanya mengincar hartaku saja. Dia juga hanya menjadikan aku alat balas dendam untuk mantan pacarnya dan semua laki-laki yang pernah menghinanya." Jawab Arnav lesu.
"Kakakku tidak seperti itu. Justru dia rela mengorbankan waktu dan uangnya untuk orang yang dia sukai. Jika dia mau membuktikan bahwa dia jauh lebih baik dari pemikiran mantan-mantannya, bukankah itu normal? Apa mas Arnav tidak pernah ingin balas dendam dengan mantan yang menyia-nyiakan mas Arnav?" Firda mencerca kakak iparnya bertubi-tubi.
Terlintas kenangan saat Arnav mengetahui Novi tidak mau menunggunya menjadi mapan. Ia justru menikah duluan dengan orang lain sehingga membuat Arnav bekerja keras membuktikan bahwa ia bisa menjadi jauh lebih baik. Ia mengakui bahwa dirinya pu. bersalah pada Namira apalagi kini gadis itu telah menuruti keinginannya untuk ikut ke Tidore.
Arnav menepuk pundak Firda dan melangkah ke kamar Namira. Ruangan itu kosong. Arnav pun memutuskan mandi dan berganti pakaian.
***
Namira, apa Arnav sudah makan? Dia tidak nampak baik-baik saja." Tanya bu Megumi di teras lantai dua saat putrinya sedang memandang bintang di cuaca yang panas ini.
"Nanti Namira siapkan untuknya ma. Dia tidak apa-apa, hanya kaget saja karena harus pi dah mendadak." Terang Namira berusaha menutupi kejadian sebenarnya.
.
.
.
Like and Vote yes.
__ADS_1