
Namira dan timnya telah sampai di Pulau Karimun. Tak hentinya ia merasa takjub dengan pemandangan laut serta banyaknya gedung bernuansa kuno. Gedung-gedung tersebut adalah universitas terbesar di pulau ini ditambah asrama mahasiswanya. Tak hanya itu, berbagai pedagang makanan dan kebutuhan mahasiswa tersedia dengan harga yang sangat murah. Para pedagang umumnya berusia di atas empat puluh tahun. Mereka yang sudah tidak bekerja di Pulau Tidore memilih membuka usaha di Karimun. Rombongan seminar telah dijemput oleh mobil khusus dan langsung menuju hotel Serena.
"Saya tidak mengijinkan siapapun keluar dari hotel. Di sini sangat rawan pencopetan..Maklum saja karena isinya sebagian besar adalah mahasiswa yang kemungkinan selalu merasa kurang dengan pemberian orang tuanya." Terang dokter Serkan.
Namira bergegas menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya.
"Biar saya bawakan." Tawar dokter Serkan.
"Eh, tidak usah dok, saya bisa membawanya sendiri." Tolak Namira. Namun dokter tersebut tidak peduli dan langsung membawa tas ransel milik gadis itu.
"Maaf merepotkan dan terima kasih." Ucap Namira sambil menundukkan badannya.
"Oh iya, saya masih penasaran, apakah keinginanmu tadi adalah masuk ke Universitas Karimun?" Tanyanya sambil menatap gadis itu lembut.
"Iya. Tapi sudah tidak bisa kan?" Namira mengadahkan kepalanya agar dapat menatap dokter Serkan.
"Bisa. Berikan saja kepada saya salinan tes bahasa Inggrismu dan fotokopi ijazah terlegalisir." Jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Ah, dokter Serkan tersenyum." Namira tertawa sejenak namun kemudian ia tersadar jika yang ia lakukan salah.
"Oh maafkan saya." Namira kembali menunduk.
"Ehem. Baiklah nanti kita bicara lagi. Saya akan istirahat ke kamar dulu." Ucapnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
***
Namira menyukai konsep hotel yang berbahan kayu tersebut. Tak hentinya ia mengambil foto. Di seberang balkon kamarnya ternyata diisi oleh kamar dokter Serkan. Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah laku anak buahnya yang berjarak tujuh tahun darinya.
"Seharusnya kita bertemu lebih awal." Gumamnya.
***
Hari sudah semakin larut dan Arnav belum juga tiba. Namira hanya memberinya kabar jika ia sudah tiba namun Arnav belum memberi balasan.
Tok Tok!
Namira berpikir bahw itu Arnav.
"Ya?" Ia membuka pintu sambil tersenyum.
"Hai. Apa kamu sudah makan malam?" Tanya dokter Serkan.
"Oh, saya akan menunggu suami saya dulu dok." Jawab Namira dengan senyumnya.
__ADS_1
"Dia menyusul kemari?" Tanya dokter Serkan terheran.
"Iya!" Namira mengangguk mantap.
"Oh baiklah. Saya pergi makan terlebih dahulu." Ia pun pamit.
Namira kembali menutup pintu. Arnav yang baru tiba melihat hal itu dari kejauhan.
"Mereka nampak serasi." Arnav bergumam seorang diri.
"Sayang!" Arnav memanggil Namira yang masih mematung di depan pintu kamarnya sambil menatap punggung dokter Serkan.
"Oh mas Arnav sudah datang!" Ucapnya tersenyum. Mereka memasuki kamar dan gadis itu mempersilahkan Arnav untuk mandi.
"Apa perjalananmu menyenangkan?" Tanyanya pada Namira sambil melepas kemeja.
"Hmm, biasa saja." Jawab Namira acuh.
"Harusnya kamu menjawab tidak menyenangkan karena aku tidak bersama suamiku!" Gerutu Arnav sambil memonyongkan mulutnya. Ia bergegas untuk mandi.
"Konyol sekali!" Gumam Namira yang hendak memesan makanan.
***
"Ayo kita jalan-jalan!" Ajak Arnav yang sudah selesai menyantap makan malamnya.
"Siapa yang memberitaumu?" Tanya Arnav penuh selidik.
"Dokter Serkan." Jawabnya.
"Yasudah kita tidak perlu membawa ponsel maupun dompet. Kita membawa uang seperlunya saja. Ayo mencari jajanan di sekitar sini." Ajak Arnav. Akhirnya gadis itu mengangguk.
Dokter Serkan melihat lampu kamar Namira telah padam padahal hari belum terlalu larut.
"Apa mereka bermesraan?" Gumamnya seorang diri. Ia pun berusaha mengusir pikirannya yang kalut dengan pergi berjalan-jalan.
***
Benar saja, jalanan begitu sepi. Masih terdapat banyak hutan di sekitar pantai. Seolah tidak ada pusat kota, kuliner kaki lima bertebaran. Sekalipun kota pelajar, namun aktivitasnya tidak mencerminkan demikian. Mereka bebas berbuat apa saja di pinggir jalan layaknya negara bebas.
"Aku akan membeli bakso tusuk itu ya mas." Ucap Namira.
"Itu terlalu ramai." Komentar Arnav.
"Justru itu di sana pasti enak." Timpal Namira.
__ADS_1
Arnav mengangguk. Ia memperhatikan sekitar.
Di sebelah Namira ternyata ada seorang pemuda mabuk. Ia menyeret Namira dan karena terlalu panik, gadis itu tidak sempat berteriak.
"Ah..." Namira berusaha melepaskan genggaman tangan pria tersebut.
Kaki Namira sedikit terkilir dan sandalnya terlepas. Orang-orang yang melihatnya tidak ada satu pun yang peduli. Hingga Namira berada di sebuah gang sempit dan pria itu melepaskan tangannya. Tak lama kemudian beberapa pria datang menggunakan motor dan memutari tubuh Namira.
"Hei Feli! Berani sekali kamu menolak aku! Mentang-mentang kamu paling cantik di kampus?" Teriak seorang pria bertubuh kekar.
"Hancurin aja dia! Kalo udah bekas siapa juga yang mau!" Teriak temannya yang lain. Kemungkinan semuanya sedang mabuk.
"Aku bukan Feli! Kalian salah orang!" Tegur Namira.
***
"Apakah kalian melihat seorang wanita dengan tinggi sedada saya menggunakan baju biru?" Tanya Arnav pada salah satu orang yang mengantri.
"Tadi ditarik sama seorang pria. Sepertinya pacarnya sedang marah." Ucap seorang laki-laki kurus.
"Itu istri saya! Bagaimana bisa kalian diam saja melihat seseorang ditarik paksa!" Bentak Arnav.
"Kami fikir itu masalah pribadi pak!" Jawab seorang wanita di sebelahnya.
"Kalian mahasiswa? Tidak diajarkan pelajaran menolong sesama? Buang gadgetmu! Pedulilah pada sekitar!" Ucap Arnav sambil membanting ponsel pria tersebut.
"Pak, ganti rugi dong!" Pria tersebut menjadi marah.
"Saya ganti sepuluh ponsel model seperti itu. Kalian harus tanggung jawab terhadap keberadaan istri saya!" Bentak Arnav lagi. Pria itu menunduk. Sepintas ia pun merasa bersalah. Tapi bukankah anak jaman sekarang memang seperti itu? Bahkan bukankah akan ada sanksi hukum jika mereka ikut campur urusan orang lain?
****
Namira berusaha menghindar. Ia menendang alat vital siapapun yang berusaha mendekat. Saat seseorang hendak menggendongnya, ia menggigit orang tersebut. Nyalinya nyaris menciut. Berteriak pun percuma dan hanya menghabiskan tenaga. Keringat membasahi pelipisnya.
Kamu harus lari Namira!
Ia berusaha menunduk dengan cepat melewati celah tangan para pria tersebut yang hendak menangkapnya. Seperti permainan saat kecil dimana kita tidak boleh tertangkap. Namira berusaha berlari.
"Namira!" Arnav memanggilnya saat pria itu melihat Namira keluar dari sebuah gang kecil. Ketika pria itu hendak mengejar istrinya, sebuah botol melayang mengenai kepalanya. Untunglah bukan Namira yang terkena. Arnav hanya memegang pelipisnya yang berdarah dan menoleh ke sumber petaka. Ia menghajar pria-pria tersebut. Sedangkan Namira yang masih berlari memutuskan menoleh ke belakang hingga tertabrak dengan dada bidang seseorang.
brugh!!
"Dokter Serkan!" Ucap Namira dengan rambut yang basah akibat peluh. Dokter Serkan yang terheran langsung menoleh ke arah belakang Namira dan melihat bagaimana Arnav memukuli pria-pria tersebut.
.
__ADS_1
.
.